Rahasia Fisik Prima Atlet Sepak Bola: Pahami Batas Tubuh!

Rahasia Fisik Prima Atlet Sepak Bola: Pahami Batas Tubuh!

Tim detikJatim - detikJatim
Senin, 10 Agu 2026 13:56 WIB
Ilustrasi kenali batas tubuh.
Ilustrasi kenali batas tubuh. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Saat sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, pernahkah terlintas di pikiran bagaimana para atlet profesional bisa terus berlari, melakukan sprint, hingga duel fisik selama 90 menit penuh? Rahasianya ternyata bukan sekadar latihan keras melainkan pemahaman mendalam terhadap batas kemampuan tubuh.

Dalam sports medicine modern, memahami batas fisik menjadi kunci utama untuk mengukur kesiapan, memantau performa, hingga mencegah cedera. Prinsip ini tak hanya berlaku bagi atlet profesional, tetapi juga penting diterapkan oleh siapa saja yang gemar bermain sepak bola atau futsal.

Dokter Spesialis Ortopedi Mayapada Hospital Surabaya, dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin., Sp.OT, menjelaskan bahwa atlet sepak bola profesional umumnya menjalani Pre-Competition Medical Assessment (PCMA).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemeriksaan ini mencakup 8 tahapan komprehensif, mulai dari evaluasi laboratorium, pemeriksaan jantung, Body Composition Analysis, tes VO2 Max, penilaian ortopedi, pencitraan medis, functional movement assessment, hingga evaluasi psikologis.

"Pemeriksaan ini bertujuan memetakan kondisi fisik, mencegah cedera, dan memastikan tubuh siap menghadapi beban latihan maupun pertandingan," terang dr. Reyner.

ADVERTISEMENT

Rangkaian PCMA itu juga diterapkan Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) kepada para penggawa Persebaya Surabaya melalui layanan Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC).

Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari skrining kesehatan, pencegahan dan penanganan cedera, rehabilitasi, hingga program pengembalian performa (return to sport).

Skrining Mandiri Sebelum Masuk Lapangan

Meski PCMA umumnya ditujukan bagi atlet profesional, masyarakat awam yang rutin berolahraga tetap wajib mengenali batas kemampuan fisiknya. Menurut dr. Reyner, masyarakat dapat melakukan skrining mandiri menggunakan metode Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q+).

Ada 7 pertanyaan mendasar dalam proses skrining secara mandiri ini.

  • Riwayat penyakit jantung atau hipertensi.
  • Nyeri dada saat beraktivitas fisik.
  • Riwayat pusing atau kehilangan kesadaran.
  • Penyakit kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu.
  • Gangguan pada tulang, sendi, otot, ligamen, atau tendon.
  • Anjuran dokter untuk berolahraga di bawah supervisi medis.

"Jika terdapat salah satu kondisi tersebut, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar jenis dan intensitas latihan dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh," ujar dr. Reyner.

Cara Hitung Denyut Nadi Maksimal dan 'Talk Test'

Untuk mengontrol intensitas olahraga agar tidak berlebihan (overtraining), dr. Reyner menyarankan rumus perhitungan Denyut Nadi Maksimal (DNM), yaitu 220 dikurangi usia.

"Misalnya pada usia 40 tahun, DNM sebesar 180 denyut per menit (bpm). Intensitas ringan berada pada 57-63% DNM (zona 1-2), sedang 64-76% DNM (zona 3), dan berat 77-99% DNM (zona 4-5)," jelasnya.

Selain menghitung denyut nadi, cara paling praktis untuk mengukur intensitas latihan di lapangan adalah melalui Talk Test (tes bicara):

  • Intensitas Ringan: Masih bisa berbicara dengan lancar saat berolahraga.
  • Intensitas Sedang: Hanya mampu mengucapkan beberapa kata.
  • Intensitas Berat: Napas terengah-engah dan sulit berbicara.

Mengukur Kebugaran Lewat Tes VO2 Max

Selain DNM, kapasitas fisik dapat dinilai melalui pemeriksaan VO2 Max untuk mengukur kemampuan jantung dalam memasok oksigen ke otot.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO, memaparkan bahwa VO2 Max umumnya diuji menggunakan treadmill dengan beban yang meningkat secara bertahap.

"Selama tes, peserta mengenakan masker khusus dan alat pemantau detak jantung untuk mengukur kemampuan tubuh menggunakan oksigen. Hasilnya dinyatakan dalam satuan mL/kg/menit. Semakin tinggi nilai VO2 Max, semakin baik tingkat kebugaran seseorang," ungkap dr. Taufan.

Kendati demikian, ia menambahkan tidak ada angka pasti yang ideal karena kondisi fisik setiap individu berbeda-beda.

Layanan Komprehensif SITPEC Mayapada Hospital

Pendekatan medis yang terintegrasi menjadi fondasi utama dalam mencegah cedera sekaligus mengoptimalkan pemulihan pascaolahraga. Melalui SITPEC, Mayapada Hospital menghadirkan layanan kebugaran menyeluruh, mulai dari skrining pra-olahraga, penanganan cedera, hingga rehabilitasi pascaoperasi.

Layanan ini didukung oleh tim dokter multidisiplin dan terintegrasi dengan Orthopedic Center, termasuk fasilitas penanganan lanjutan seperti Total Knee Replacement (TKR) berbasis teknologi VELYS™ Robotic-Assisted Solution dan protokol pemulihan cepat Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®).



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads