Motor sektor sentral Persik Kediri, Bayu Otto, menceritakan kesehariannya pada masa libur kompetisi saat Lebaran. Ia menjalani waktu libur dengan menjaga kondisi dan merayakan momen bersama keluarga.
Bayu Otto merupakan bagian penting di sektor tengah Macan Putih. Musim ini, ia telah tampil dalam 20 laga. Untuk menjaga ritme kompetisi, hari-hari libur ia jalani dengan tetap bermain bola atau gym di area rumah.
"Kegiatan di bulan Ramadan mungkin ya olahraga untuk menjaga kondisi aja si soalnya liga juga masih berjalan. Libur ini ya kumpul sama anak-anak lain Kedirian buat main bola, terus latihan sendiri karena libur cuma 10 hari to iki," tutur Bayu Otto pada detikJatim, Rabu (18/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terdapat beberapa opsi bagi Bayu untuk menjaga kebugarannya selama libur. Ia menerangkan, kadang dirinya bermain sepak bola bersama pemain asal Kediri lain atau bisa juga melatih ketahanan jasmani melalui gym di area rumah.
"Kadang main di Lapangan KSF kadang di Jongbiru, cuma kalo tempat gym di perumahanku ada gym-nya to, jadi kalo nge-gym atau treadmill ada semua di area perumahanku," ujarnya menambahkan.
Pada momen jelang Idul Fitri ini, ingatan Bayu melayang pada masa kecilnya. Ia mengisahkan, dulu dirinya sering menyalakan petasan bersama teman-teman sepantaran.
"Habis buka berangkat ke musala, ketemu teman-teman kecil terus main petasan, ya kumpul-kumpul biasa kayak anak kecil sekarang," ungkapnya.
Bayu Otto merayakan Lebaran ini dengan berkumpul bersama keluarga dan menyambangi sanak saudara. Ia tak akan mudik ke luar kota sebab keluarga dekatnya menetap di Kediri.
"Sebagaimana merayakan Idul Fitri, silaturahmi dengan keluarga dan kumpul dengan keluarga. Lebaran ini di Kediri, soalnya keluargaku dan keluarga istri di Kediri semua. Jadi ya ke rumah orang tua, ke rumah mertua, atau ke rumah saudara dekat-dekat sini. Lebaran di Kediri saja, tidak ke luar kota," jelasnya.
Salah satu hal istimewa yang dinanti Bayu Otto kala Lebaran adalah masakan orang tuanya. Ia menyampaikan, nasi kuning, nasi rames, dan lontong sayur olahan ibunya menjadi santapan wajib pada Hari Raya Idul Fitri.
"Kalau hidangan dari dulu orang tuaku pasti buat nasi kuning atau nasi gurih seperti rames gitu, atau kadang sayur-sayur buat lontong atau ketupat itu," pungkasnya.
