Persebaya Surabaya bersiap menghadapi tantangan berat sepanjang bulan Ramadan. Jadwal pertandingan yang padat membuat Bajol Ijo menempatkan kondisi fisik pemain sebagai prioritas utama demi menjaga performa tetap stabil.
Dalam rentang 21 Februari hingga 7 Maret, Persebaya dijadwalkan melakoni empat laga penting. Bruno Moreira CS lebih dulu bertandang ke markas Persijap Jepara pada 21 Februari, lalu menjamu PSM Makassar (25/2), menghadapi Persib Bandung (2/3), dan menutup rangkaian pertandingan melawan Borneo FC pada 7 Maret.
Jarak antar laga yang berkisar tiga hingga lima hari membuat aspek fisik menjadi fokus utama. Terlebih, seluruh pertandingan berlangsung saat pemain menjalani ibadah puasa, yang berdampak pada pola makan, waktu istirahat, dan ritme latihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter tim Persebaya, dr. Ahmad Ridhoi, memastikan tim medis sudah menyiapkan pengaturan khusus untuk menjaga kondisi pemain tetap optimal.
"Yang paling penting adalah manajemen energi. Saat Ramadan, pemain tetap berlatih dan bertanding dengan intensitas tinggi. Karena itu, kami atur pola makan saat sahur dan berbuka supaya kebutuhan kalori dan cairan tetap terpenuhi," ujar dr. Ahmad Ridhoi dikutip dari laman resmi.
Selain nutrisi, tim medis juga melakukan pemantauan harian. Berat badan, tingkat hidrasi, hingga kualitas tidur pemain terus dievaluasi untuk mendeteksi potensi kelelahan lebih awal.
"Kami melakukan pengecekan rutin. Kalau ada tanda-tanda kelelahan berlebih, langsung kami komunikasikan dengan tim pelatih untuk penyesuaian program," tambahnya.
Ridhoi menegaskan, 24 hingga 48 jam pertama setelah pertandingan menjadi periode krusial dalam proses recovery. Di fase itu, tim medis memaksimalkan pemulihan agar pemain siap kembali berlatih dan bertanding dalam waktu singkat.
(irb/hil)











































