Manajemen Perseta 1970 Tulungagung puas dengan keputusan Komdis PSSI Jawa Timur yang menghukum pemain PS Putra Jaya Pasuruan, M Hilmi Gimnastiar dengan larangan bermain bola profesional seumur hidup. Tidak hanya itu, kasus tersebut juga berpotensi dibawa ke ranah hukum.
Manajer Perseta 1970, Rudi Iswahyudi, menilai sanksi berat tersebut layak untuk dijatuhkan karena ulah pemain secara brutal di lapangan dapat mencederai prinsip fair play dan membahayakan nyawa pemain lain.
"Kami sepakat dengan keputusan Komdis PSSI Jatim. Pertandingan bola harus menjadi zona aman bagi pemain dan kita harus ciptakan itu," kata Rudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disinggung terkait kondisi Firman Nugraha yang menjadi korban tendangan brutal Muhammad Hilmi Gimnastiar saat ini masih menjalani pemantauan tim medis.
"Firman saat ini bersama tim di hotel, dia tidak betah di rumah sakit. Tapi masih dalam pemantauan tim medis. Kami terima kasih sekali pihak RSUD Bangkalan yang sudah banyak membantu Firman," jelasnya.
Meskipun tidak dalam perawatan di rumah sakit, kondisi pemain gelandang Perseta 1970 tersebut masih belum pulih karena mengalami retak pada gulang rusuk bagian bawah.
"Kalau sekadar jalan bisa, tapi untuk aktivitas lainnya agak susah. Dia masih merasakan sakit di dadanya. Pokoknya harus istirahat total," imbuhnya.
Rudi berencana meminta rujukan ke rumah sakit agar bisa dirawat di Kediri maupun Tulungagung. Seluruh biaya perawatan sampai saat ini masih ditangani oleh manajemen klub. "Harapan kami bisa dilakukan penanganan lebih lanjut di Kediri atau Tulungagung," katanya.
Sementara terkait rencana pelaporan ke ranah hukum hingga saat ini masih dalam kajian dan konsultasi dengan para pihak terkait.
"Kami sudah konsultasi dengan PSSI maupun dengan kepolisian. Yang jelas kami ingin ini menjadi pembelajaran bersama, jangan sampai kejadian serupa terus terjadi," imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah Ketua Askab PSSI Tulungagung Ahmad Baharudin, geram dengan ulah pemain PS Putra Jaya Pasuruan tersebut. Pihaknya menilai tendangan brutal dilakuan di luar batas kewajaran dan dilakukan dengan sengaja.
"Kalau kita lihat kejadiannya sangat brutal dan sengaja," kata Baharudin.
Terkait rencana manajemen Perseta 1970 untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum pihaknya mendukung penuh dan menyerahkan keputusan tersebut ke pihak klub.
"Ya kami mendukung, apapun yang akan dilakukan manajemen kami mendukungnya," jelas Wabup Tulungagung ini.
Sebelumnya dalam pertandingan PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan vs Perseta 1970 Tulungagung diwarnai insiden tendangan horor.
Dalam laga ini, Putra Jaya mengenakan jersei warna kuning sedangkan Perseta jersei hijau. Dari video live streaming yang ditayangkan di kanal YouTube PSSI Jawa Timur, insiden bermula saat Firman Nugraha, pemain Perseta hendak merebut bola tapi tiba-tiba secara sengaja ditendang dengan brutal oleh Muhammad Hilmi tepat mengenai dada.
Pemain Perseta 1970 Tulungagung Firman Nugraha ditandu keluar lapangan dan dibawa ke ambulans untuk mendapatkan penanganan medis. Dari video yang diterima detikjatim, Firman sempat memperlihatkan dadanya yang tampak membekas pul sepatu bola.
