Tendangan Kungfu Hilmi di Liga 4 Tuai Sanksi Larangan Seumur Hidup

Round Up

Tendangan Kungfu Hilmi di Liga 4 Tuai Sanksi Larangan Seumur Hidup

Amir Baihaqi - detikJatim
Rabu, 07 Jan 2026 08:16 WIB
Tendangan Kungfu Hilmi di Liga 4 Tuai Sanksi Larangan Seumur Hidup
Pemain Perseta 1970 Firman Nugraha ditandu keluar lapangan setelah sengaja ditendang pemain Putra Jaya Pasuruan M Hilmi di laga babak 32 besar Liga 4 di Stadion Gelora Bangkalan (Foto: Dok. Istimewa/tangkapan layar)
Surabaya -

Tendangan kungfu brutal Muhammad Hilmi Gimnastiar terhadap dada pemain Perseta 1970, Firman Nugraha di laga Liga 4 Jawa Timur berbuntut panjang. Pemain PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan itu akhirnya menuai berbagai sanksi dan kecaman.

Di internal timnya, Hilmi resmi dipecat oleh PS Putra Jaya Kabupaten Pasuruan. Surat pemecatan itu diunggahan di akun Instagram @ps.putrajaya, surat keterangan bernomor PSPJ/02/05-01-2026.

"Kami memutuskan untuk melakukan. pemberhentian kerja kepada pemain kami yang bernama Muhammad Hilmi Gimnastiar," tulis surat yang ditandatangani Ketua Harian PS Putra Jaya Sumurwaru, Gaung Andaka Ranggi P.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan tindakan yang dilakukan Hilmi tidak sesuai dengan azas fair play dalam pertandingan sepak bola. Ulah pemain tersebut juga dinilai menyalahi koridor aturan sepak bola dengan melakukan tindakan kasar kepada lawan.

"Kami selaku pengurus Ps Putra Jaya Sumurwaru juga meminta maaf kepada semua pihak atas perbuatan pemain kami khususnya kepada tim Perseta 1970," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Komite Disiplin PSSI Jawa Timur tak lama kemudian mengeluarkan keputusan terhadap insiden tendangan brutal Hilmi. Dalam keputusannya, Komdis PSSI Jatim menilai pelanggaran Hilmi termasuk kategori pelanggaran berat sesuai dengan Pasal 48 Jo. Pasal 49 Jo. Pasal 10. Pasal 19 Kode Disiplin PSSI.

Berdasarkan fakta dan pertimbangan hukum tersebut, PSSI Jawa Timur menyatakan bahwa Hilmi Gimnastiar dihukum larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup dan denda sebesar Rp 2.500.000.

"Menghukum, Muh. Hilmi Gimnastiar (NPG 23) dari Klub Putra Jaya Pasuruan dengan hukuman larangan beraktifitas sepak bola seumur hidup," tulis Putusan Komite Disiplin PSSI Jatim.

Pemain Putra Jaya Pasuruan M Hilmi menendang dengan sengaja pemain Perseta 1970 Tulungagung Firman Nugraha hingga kolaps saat laga babak 32 besar Liga 4 PSSI Jatim di Stadion Gelora BangkalanPemain Putra Jaya Pasuruan M Hilmi menendang dengan sengaja pemain Perseta 1970 Tulungagung Firman Nugraha hingga kolaps saat laga babak 32 besar Liga 4 PSSI Jatim di Stadion Gelora Bangkalan Foto: Dok. Istimewa/tangkapan layar

Ketua Komdis PSSI Jatim, Makin Rachmat, menuturkan rasa prihatinnya sekaligus mewanti-wanti agar insiden serupa tak terulang lagi.

"Jangan sampai tragedi Jumadi Abdi terulang. Bagaimana Eri Erianto pemain legenda Persebaya juga meninggal saat bermain sepak bola," ungkapnya

Sementara itu, Manajer Perseta 1970 Tulungagung, Rudi Iswahyudi, mengatakan dampak buruk tendangan Hilmi terhadap Firman ternyata berdampak buruk. Meski sebelumnya, Firman mengaku awalnya tak mengalami masalah.

"Sebelumnya nggak mau dibawa ke rumah sakit, kemudian malamnya mengeluh sesak napas, akhirnya kami bawa ke rumah sakit dan setelah dilakukan rontgen dinyatakan ada yang retak rusuk bawah," kata Rudi.

Saat ini Firman masih berada di Bangkalan untuk proses observasi dan penanganan lanjutan. Kondisi tersebut menjadi pukulan bagi skuad Laskar Badai Selatan karena berpengaruh terhadap psikologi timnya.

"Secara mental pasti berpengaruh," ujarnya.

Perseta 1970 menyesalkan adanya insiden tendangan brutal tersebut. Pihaknya menilai ulah pemain PS Putra Jaya telah mencoreng prinsip fair play dalam pertandingan bola.

"Kejadian tersebut itu sudah di luar dari konteks permainan ya. Saya sampaikan lagi, nanti selain ada sanksi disiplin, saya berharap pada sanksi hukum," ujarnya.

Rudi berencana membawa perkara tersebut ke jalur hukum karena jika dibiarkan akan menjadi preseden buruk dalam dunia sepak bola. Ia menilai aksi yang dilakukan pemain PS Putra Jaya Muhammad Hilmi di luar konteks pertandingan sepak bola.

"Kami berencana untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum, saat ini masih dalam kajian. Kami akan konsultasi dulu dengan Askab PSSI Tulungagung," imbuhnya.

Menurutnya aksi kekerasan secara brutal dalam pertandingan sepak bola Liga 4 tidak hanya terjadi kali ini saja. Dalam setiap putaran selalu ada insiden bahkan sampai meninggal dunia.

"Selama ini kekerasan di lapangan itu semua orang memahami itu adalah konteks permainan. Saya berharap dengan kita membawa persoalan ini karena hukum agar semua belajar. Semua ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan," jelasnya.




(auh/abq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads