Menikmati hidangan di tempat makan (*dine-in*) idealnya diiringi dengan etika saling menghargai antara pelanggan dan pemilik usaha. Namun, ulah segelintir pembeli yang dinilai "nir-etika" memaksa sebuah depot sate babi legendaris di Surabaya memasang aturan tegas: melarang pengunjung membawa nasi sendiri dari luar.
Fenomena "modal lauk" ini mencuat usai pengguna Threads @abelesmana membagikan foto papan pengumuman bertuliskan "Dilarang membawa nasi dari luar!" di depot Sate Babi Bu Merly, Surabaya. Pengunggah mengaku prihatin dengan kelakuan sebagian konsumen zaman sekarang hingga pemilik warung harus memasang tulisan sedemikian spesifik.
Unggahan tersebut mendadak viral dan memicu perdebatan hangat netizen mengenai norma dan etika saat makan di resto atau warung makan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bawa Nasi Setermos dan Numpang Piring
Merespons riuhnya perbincangan publik, pihak pengelola Sate Babi Bu Merly akhirnya buka suara melalui akun Threads resmi mereka @sate_babi_bu_merly. Pihak manajemen secara terbuka menyampaikan permohonan maaf jika papan larangan itu memicu ketidaknyamanan bagi pengunjung umum.
Namun, di balik pemasangan aturan itu, terungkap fakta miris mengenai perilaku oknum pelanggan yang kelewat batas. Pengelola menceritakan banyak rombongan pembeli yang tanpa rasa sungkan membawa bekal nasi dari rumah dalam jumlah fantastis, lalu menggunakan fasilitas warung secara cuma-cuma.
"Seringkali pengunjung sudah tidak malu-malu untuk membawa nasi yang gak tanggung-tanggung. Makan enam sampai delapan orang bawa nasi sampai pakai termos dan pinjam piring dan alat makan dari kami semua," ungkap pihak pengelola Sate Babi Bu Merly.
Sorotan Netizen: Mending Take Away
Sikap tegas pemilik warung mendapatkan dukungan masif dari netizen serta sesama pelaku usaha kuliner di Surabaya yang kerap merasa dirugikan oleh perilaku serupa.
Banyak warganet menegaskan bahwa membawa bahan makanan utama dari luar saat makan di tempat (dine-in) adalah tindakan yang melanggar etika bisnis kuliner, apalagi jika sampai memanfaatkan piring dan alat makan milik warung.
Para pencinta kuliner pun menyarankan bagi pelanggan yang berniat menghemat pengeluaran nasi sebaiknya membeli lauk secara dibungkus (take away) untuk disantap di rumah masing-masing ketimbang mengganggu operasional warung.
