Sego Golong Blitar, Makanan yang Cuma Ada di Bulan Suro

Irma Budiarti - detikJatim
Senin, 22 Jun 2026 16:30 WIB
Ilustrasi sego golong. Foto: Gemini AI
Blitar -

Setiap memasuki bulan Suro, masyarakat Blitar memiliki sejumlah tradisi yang masih dijaga hingga sekarang. Salah satunya adalah keberadaan nasi golong atau dalam bahasa Jawa disebut sego golong.

Sajian tradisional ini tidak mudah ditemukan di hari-hari biasa karena biasanya hanya disiapkan untuk acara selamatan, kenduri, atau tradisi menyambut Suro. Bentuknya memang sederhana, berupa nasi yang dibulatkan dan disajikan bersama aneka lauk.

Namun, di balik tampilannya yang sederhana, nasi golong menyimpan makna filosofis yang dalam. Bagi masyarakat Jawa, makanan ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol tekad yang bulat dan kebersamaan.

Nasi golong juga menjadi ungkapan syukur yang diwariskan turun-temurun. Lantas, seperti apa asal-usul dan makna nasi golong yang identik dengan bulan Suro di Bumi Bung Karno?

Apa Itu Nasi Golong?

Dilansir RRI, nasi golong atau sego golong merupakan makanan tradisional masyarakat Jawa yang berupa nasi putih yang dibentuk bulat dan disajikan bersama lauk-pauk tertentu. Kata "sego" berarti nasi, sedangkan "golong" memiliki arti bulat atau tekad yang bulat.

Karena itu, sego golong tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga simbol harapan agar seseorang memiliki niat yang mantap dan tujuan yang jelas dalam menjalani kehidupan.

Dalam budaya Jawa, sego golong lazim disajikan dalam berbagai acara adat dan keagamaan, mulai dari selamatan, kenduri, hingga ritual yang berkaitan dengan pergantian tahun Jawa atau bulan Suro.

Mengapa Nasi Golong Identik dengan Bulan Suro di Blitar?

Di Blitar, bulan Suro menjadi momen penting bagi masyarakat untuk menggelar berbagai tradisi syukuran dan doa bersama. Dalam sejumlah tradisi tersebut, masyarakat membawa berbagai sajian, termasuk nasi dan lauk yang ditempatkan dalam wadah tradisional dari daun pisang.

Karena biasanya hanya dibuat untuk momen-momen khusus seperti itulah, nasi golong kerap disebut sebagai makanan yang "hanya ada di Bulan Suro", meski secara umum hidangan ini juga bisa dijumpai pada acara adat Jawa lainnya.

Filosofi Nasi Golong

Di balik bentuknya yang bulat, nasi golong menyimpan filosofi yang cukup mendalam. Dalam tradisi Jawa, bentuk bulat pada nasi melambangkan kebulatan tekad, kesatuan, dan harapan agar segala niat baik dapat tercapai.

Sajian ini juga menjadi simbol kebersamaan karena biasanya disantap bersama-sama setelah prosesi doa selesai. Selain itu, nasi golong termasuk dalam kelompok sesaji atau sajian simbolik yang digunakan dalam berbagai upacara adat Jawa.

Dalam salah satu sumber buku yang membahas tradisi Jawa disebutkan bahwa sesaji tersebut diwujudkan dalam bentuk dua buah nasi golong yang dilengkapi lauk lengkap serta sayur padhamara.

Khusus sayur menir dan sayur padhamara ditempatkan lebih dahulu dalam cuwol atau cowek yang terbuat dari gerabah. Seluruh sajian kemudian diletakkan di atas tampah yang dialasi daun pisang.

Makna sesaji tersebut menggambarkan dua insan yang memiliki niat untuk saling membahu dan membantu dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong inilah yang membuat tradisi nasi golong masih bertahan hingga kini.

Apakah Nasi Golong Masih Ada Hingga Sekarang?

Meski zaman terus berubah, tradisi yang melibatkan nasi golong masih dijaga oleh sebagian masyarakat Jawa, termasuk di Blitar. Keberadaannya memang tidak sebanyak makanan khas lain yang dijual setiap hari.

Namun, saat bulan Suro tiba, berbagai tradisi seperti selamatan, barikan, dan kenduri masih menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan sajian tradisional ini.

Bukan hanya sebagai makanan, nasi golong menjadi pengingat bahwa warisan budaya Jawa tidak sekadar diwariskan dalam bentuk upacara, tetapi juga lewat simbol-simbol sederhana yang sarat makna.

Itulah penjelasan tentang nasi golong Blitar yang identik dengan bulan Suro. Di balik bentuknya yang sederhana, makanan tradisional ini menyimpan filosofi tentang kebulatan tekad, kebersamaan, dan rasa syukur yang telah diwariskan turun-temurun.



Simak Video "Video: Unik! Wayang Cangkem Pakai Suara Mulut buat Pengganti Gamelan"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork