Megengan di Jawa, Penanda Datangnya Ramadhan

Megengan di Jawa, Penanda Datangnya Ramadhan

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Kamis, 12 Feb 2026 17:30 WIB
Tradisi megengan di Lidah Wetan, Surabaya.
Tradisi megengan di Lidah Wetan, Surabaya. Foto: Jemmi Purwodianto
Surabaya -

Megengan menjadi salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi ini umumnya diisi dengan doa bersama dan pembagian makanan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, serta permohonan ampun sebelum memasuki bulan puasa.

Megengan berasal dari kata megeng yang berarti menahan. Makna tradisi ini merujuk pada upaya menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum. Megengan telah dilakukan turun-menurun sebagai bagian dari tradisi penyambutan dan persiapan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa.

Sejarah Tradisi Megengan

Tradisi megengan merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam yang berkembang sejak masa Kerajaan Demak sekitar tahun 1500 Masehi. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk penyebaran nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, megengan masih lestari dan rutin digelar masyarakat Jawa setiap menjelang bulan suci Ramadhan. Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti umat Islam, tetapi juga terbuka bagi masyarakat non muslim sebagai wujud kebersamaan dan toleransi sosial.

Megengan sekaligus menjadi penanda Ramadhan akan segera tiba. Tradisi ini mengingatkan umat Islam akan makna puasa, yakni megeng atau menahan diri, terutama dari hawa nafsu dan perbuatan yang dilarang selama menjalankan ibadah.

ADVERTISEMENT

Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah simbol yang wajib ada saat megengan. Mulai doa bersama di masjid, kue-kue tradisional, ater-ater, pisang, tumpeng, urap-urap, hingga ayam ingkung. Setiap unsur tersebut memiliki makna dan menjadi bagian penting tradisi megengan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kapan Tradisi Megengan?

Tradisi megengan umumnya digelar menjelang datangnya bulan Ramadhan, tepatnya hari terakhir bulan Syaban. Selain itu, megengan juga dilaksanakan pada awal bulan Ramadhan sebelum melaksanakan puasa wajib.

Biasanya, megengan diikuti masyarakat muslim dengan rangkaian doa dan tahlil yang digelar di masjid. Kegiatan ini kerap dilakukan setelah salat isya, lalu dilanjutkan pembagian makanan yang sebelumnya dibawa warga untuk dinikmati bersama masyarakat yang hadir.

Makan Khas Megengan

Dalam tradisi megengan, terdapat sejumlah hidangan khas yang hampir selalu hadir di tengah masyarakat. Sajian-sajian ini bukan sekadar makanan, tetapi memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan doa, permohonan maaf, serta harapan menjelang Ramadan.

1. Kue Apem

Salah satu makanan wajib yang ada saat acara megengan adalah apem. Kue ini dimaknai sebagai lambang permohonan maaf kepada sesama dan kepada Tuhan. Selain itu, kue apem juga bermakna sebagai simbol ikhlas dalam meminta maaf dan memaafkan.

Kue tradisional ini disukai oleh anak-anak hingga orang dewasa karena rasanya yang gurih dan manis. Kue khas Jawa ini terbuat dari campuran tepung beras, tapai, gula pasir, garam, santan, singkong, dan gula Jawa.

2. Buah Pisang

Selanjutnya, buah pisang menjadi pelengkap dalam acara megengan. Dalam tradisi Jawa, buah ini mempunyai simbol sosial yang mendalam. Dalam bahasa Jawa, pisang disebut dengan gedang.

Kata tersebut hampir serupa dengan kata "gadang" yang artinya dipeluk erat. Dengan demikian, buah pisang banyak dimaknai sebagai eratnya tali silaturahmi antar umat Muslim.

3. Nasi Berkat

Dalam nasi berkat ini, biasanya tersedia pula beragam lauk pauk. Mulai dari ayam atau daging, sayur, tempe, mie goreng, serundeng, hingga urap-urap.

Makna nasi berkat tersebut ialah agar setiap orang yang memakannya mendapat keberkahan selama menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan.

4. Sate Keong

Sate keong dikenal sebagai hidangan khas dalam tradisi megengan di Demak, Jawa Tengah. Dahulu, makanan ini menjadi lauk sehari-hari masyarakat karena kaya protein dan gizi. Sate keong biasanya disajikan bersama lontong opor yang terdiri dari lontong, sayur, telur, serta cincangan daging ayam.




(hil/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads