Menjelang waktu berbuka puasa, sebuah dapur sederhana di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Ponorogo, tak pernah sepi pembeli. Warga berdatangan untuk berburu serabi Kerun, jajanan tradisional yang sudah lama dikenal sebagai salah satu menu takjil favorit saat Ramadan.
Di dapur tersebut, asap tipis dari tungku kayu bakar tampak mengepul. Dari wajan tanah liat yang diletakkan di atas tungku, aroma santan dari adonan serabi yang sedang dimasak menyebar dan menggugah selera para pembeli yang menunggu.
Salah satu pelanggan, Santi Wijayanti, mengatakan serabi Kerun selalu menjadi pilihannya untuk menu berbuka puasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teksturnya kenyal, rasanya gurih, dan cukup mengenyangkan. Menurut saya cocok sekali untuk berbuka puasa, apalagi harganya juga masih terjangkau," ujar Santi saat ditemui di lokasi, Kamis (12/3/2026).
Menurut Santi, serabi Kerun memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan serabi pada umumnya. Taburan kelapa parut di atasnya menambah sensasi gurih yang membuat jajanan ini semakin digemari.
Pembuat serabi Kerun, Endang Papik, menuturkan usaha yang ia jalankan merupakan warisan keluarga yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Saat ini, ia menjadi generasi kelima yang meneruskan usaha tersebut.
"Sejak dulu cara membuatnya tetap sama. Kami masih mempertahankan cara tradisional seperti yang diajarkan oleh orang tua dan kakek-nenek," kata Endang.
Serabi Kauman khas Ponorogo masih dimasak dengan metode tradisional Foto: Charolin Pebrianti/ detikjatim) |
Ia menjelaskan proses memasak serabi hingga kini masih menggunakan tungku kayu bakar. Menurutnya, penggunaan kompor gas justru membuat hasil serabi berbeda dari yang diharapkan.
"Kalau pakai kompor gas biasanya hasilnya lebih keras. Dengan kayu bakar rasanya lebih pas dan sudah menjadi ciri khas serabi di sini," jelasnya.
Selain menggunakan tungku kayu bakar, wajan yang dipakai juga bukan wajan biasa. Serabi dimasak menggunakan wajan dari tanah liat yang dipercaya mampu memberikan cita rasa khas pada kue tradisional tersebut.
Serabi Kerun dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk satu buah serabi dibanderol Rp 2 ribu, sedangkan satu porsi dengan tambahan kelapa parut dijual sekitar Rp 10 ribu.
Saat bulan Ramadan, permintaan serabi ini meningkat cukup signifikan. Endang mengaku dalam sehari ia bisa menjual hingga sekitar 1.500 biji serabi.
"Kalau bulan puasa biasanya lebih ramai. Penjualan bisa sampai sekitar 1.500 biji dalam sehari," ungkapnya.
Dengan jumlah penjualan tersebut, omzet usaha serabi Kerun miliknya dapat mencapai sekitar Rp 50 juta dalam satu bulan.
Bagi warga Ponorogo, serabi Kerun bukan sekadar jajanan pasar. Rasa gurih dari santan, proses memasak yang masih tradisional, serta resep keluarga yang dijaga turun-temurun membuat kudapan ini tetap bertahan dan selalu dicari setiap Ramadan.
(ihc/dpe)

