Kue Keranjang Imlek di Surabaya Dimasak hingga 15 Jam

Kue Keranjang Imlek di Surabaya Dimasak hingga 15 Jam

Anastasia Trifena - detikJatim
Senin, 02 Feb 2026 14:00 WIB
Kue Keranjang Imlek di Surabaya Dimasak hingga 15 Jam
Kue keranjang di Surabaya/Foto: Anastasia Trifena/detikJatim
Surabaya -

Kue keranjang selalu menjadi sajian wajib saat Imlek. Namun siapa sangka, pembuatan kue manis yang lengket ini membutuhkan waktu dan ketelatenan ekstra. Seperti produksi kue keranjang di Kalidami, Surabaya yang membutuhkan proses memasak selama 15 jam.

Meski perayaan Imlek masih beberapa pekan lagi, aktivitas produksi sudah dimulai sejak awal tahun. Pengelola Kue Keranjang Kie Lidyana generasi kedua, Lidyana memilih memproduksi kue keranjang setiap hari karena prosesnya tidak singkat dan tidak bisa dikerjakan sekaligus dalam jumlah besar.

"Aku bikinnya mulai tahun baru. Tiap hari produksi karena prosesnya lama," ujar Lidyana kepada detikJatim, Senin (2/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setiap hari, para pekerja yang merupakan warga sekitar mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Ada yang melapisi cetakan dengan plastik dan ada pula yang memulai proses packing.

ADVERTISEMENT
Produsen kue keranjang di SurabayaProdusen kue keranjang di Surabaya Foto: Anastasia Trifena/detikJatim

Untuk proses pembuatan dilakukan setiap sore. Sebab, warga yang bertugas memasak baru bisa datang membantu sepulang kerja.

"Biasanya yang masak ini mas Alan. Enak. Jadi proses masak baru sore karena kalau pagi atau siang dia masih kerja," ungkap Lidyana.

Sejak awal membantu memasak kue keranjang, Alan langsung berinisiatif meramu segala bahan yang sudah disediakan, bahkan sebelum Lidyana memberi tahu resepnya.

Proses pembuatan kue keranjang dimulai dari menyiapkan bahan utama berupa tepung ketan, gula, dan air. Semua bahan dimasukkan ke dalam wadah besar lalu ditambahkan pewarna alami. Selanjutnya, adonan diaduk menggunakan mesin otomatis selama sekitar 15 menit hingga tercampur rata.

Setelah itu, adonan disaring dan dituangkan ke dalam cetakan. Cetakan-cetakan tersebut kemudian disusun bertingkat di dalam kukusan besar. Dalam satu dandang berukuran satu setengah meter bisa tersusun 9 hingga 10 tingkatan.

Tahap pengukusan menjadi bagian paling krusial. Proses ini berlangsung selama 15 jam bahkan lebih, tergantung warna dan tingkat kematangan yang diinginkan.

"Masaknya 15 jam, bisa lebih. Kalau lebih lama lebih gelap (warnanya). Kalau cepat agak kuning. Tapi orang-orang lebih senang yang merah-merah (gelap) gini, senang yang mateng banget karena rasanya lebih legit," ujarnya Lidyana.

Dalam sekali masak, Kue Keranjang Kie Lidyana mengolah sekitar 150 kilogram tepung dan menghasilkan kurang lebih 400-500 biji kue keranjang dengan berat rata-rata 800 gram per buah.

Setelah proses pengukusan selesai, kue keranjang didinginkan sebelum masuk tahap pengemasan. Seluruh proses pengemasan dilakukan secara manual.

Usaha Kue Keranjang Kie Lidyana telah berjalan selama 17 tahun. Namun aktivitas produksi biasanya bersifat musiman. Suasana dapur mulai ramai sekitar H-10 Imlek, saat-saat itu pesanan meningkat tajam. Kue keranjang dipasarkan ke pasar tradisional dan supermarket di Surabaya, Sidoarjo, hingga Gresik serta dikirim ke luar pulau seperti Kalimantan, Papua, dan Bali.

Meski permintaan terus datang, Lidyana memilih tidak menaikkan harga. Ia juga tidak menghitung omzet secara khusus karena harga jual tetap dari tahun ke tahun.

Di balik usaha yang bertahan belasan tahun ini, Lidyana mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang sebagai pembuat kue. Ia belajar membuat kue keranjang dari sang ibu setelah melihat produk serupa dijual di supermarket.

"Aku ajak mama ke supermarket, lalu kami melihat ada kue keranjang terus mama ajak beli tepung sekilo terus diajarin bikin (kue keranjang)," kenangnya.

Awalnya, Lidyana hanya mencoba membuat kue keranjang kecil-kecilan menggunakan wajan. Seiring waktu, ia mulai membeli peralatan sendiri dan menitipkan kue keranjang buatannya ke toko-toko hingga akhirnya berkembang seperti saat ini.

Saat ini usaha diturunkan kepada anaknya, Feri Andrea Cendy. Sang suami yang dulu membantu proses produksi kini telah tiada. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena seluruh proses membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

"Dulu sek ada suami dibantu suami sekarang nggak ada suami, ngerjain sendiri sama anak-anak, dibantu tetangga juga," ucapnya.

Dalam menjalankan produksi, Lidyana memang dibantu oleh tetangga sekitar rumah. Di luar momen Imlek, produksi tetap dilakukan namun dalam jumlah terbatas karena permintaan tidak sebesar saat perayaan.

Ia menuturkan, kue keranjang memiliki makna tersendiri sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan kehidupan yang manis dan harmonis.

"Kue keranjang ini biar lengket (harmonis) dengan keluarga, serta 'manis' kehidupannya. Jadi harus makan," pungkasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads