Jamu kembali naik daun. Di tengah gempuran minuman moderns, masyarakat justru mulai melirik kembali ramuan tradisional yang telah ada sejak era Majapahit dan Mataram. Jamu memiliki beragam manfaat untuk kesehatan, mulai dari meredakan pegal, meningkatkan stamina, hingga menjaga daya tahan tubuh tanpa efek berbahaya.
Belakangan muncul tren di kalangan anak muda yang gemar membagikan video "one shoot beras kencur +kunir asem" di media sosial. Fenomena ini secara tidak langsung membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat. Tren menikmati jamu ini juga menunjukkan bagaimana budaya Nusantara mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Pengertian Jamu
Melansir dari jurnal Minuman Jamu Tradisional Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat di Kerajaan Majapahit pada Abad ke-14 Masehi, karya Deby Lia Isnawati dkk, jamu berasal dari dua kata: "Djampi" dan "Oesodho". Djampi berarti penyembuhan dengan ramuan obat-obatan, doa-doa atau aji-aji, sedangkan Oesodho bermakna kesehatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamu tradisional di Blitar Foto: Fima Purwanti/detikJatim |
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jamu memiliki arti sebagai obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya. Jamu menjadi obat herbal yang diracik dan dihidangkan dalam bentuk minuman. Jamu dipercaya menyimpan beragam manfaat seperti mengandung khasiat bagi tubuh dan mencegah penyakit.
Asal-usul Jamu
Melansir dari e-book Pembuatan Racikan Jamu Tradisional Sebagai Imunitas Tubuh, karya apt. Fahma Shufyani dkk, asal-usul jamu tidak dapat dipisahkan dari perkembangan peradaban lokal. Jamu diyakini telah ada sejak zaman kuno, berakar dari praktik pengobatan alami. Selain itu, keberadaan jamu juga berasal dari adanya pengaruh kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, terutama di abad ke-8 pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Pengaruh ini membawa praktik Ayurvedic dari India yang berpadu dengan tradisi lokal.
Tak hanya Kerajaan Mataram, pengaruh ini juga berasal dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 16. Para raja dan bangsawan Majapahit menggunakan jamu untuk kesehatan dan kecantikan. Sementara, perkembangan jamu di masa kolonialm terutama Belanda membawa dampak yang cukup signifikan. Semula, jamu hanya dipandang skeptis oleh para kolonial. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka melihat adanya potensi nilai ekonomis dan media dari jamu. Hal ini mendorong upaya dokumentasi dan penelitian dari berbagai jenis jamu.
Di sisi lain, kehadiran kolonial Belanda juga mengenalkan tanaman obat baru dari luar negeri. Meski begitu, mereka juga membawa tantangan baru seperti pergeseran pengobatan tradisional ke pengobatan barat. Namun, meski masa kolonial maupun kerajaan, keduanya telah membawa perkembangan dan memperkaya pengetahuan baru tentang jamu. Tradisi minum jamu ini masih tetap hidup dan terus berkembang hingga saat. Bahkan, jamu juga menjadi warisan budaya berharga dari Indonesia yang masih terus dilestarikan.
Jenis-jenis Jamu
Beberapa jenis jamu yang masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, di antaranya:
1. Jamu Kunyit Asem
jamu kunyit asam atau kunir asem. Foto: Getty Images/Ika Rakhmawati Hilal |
Jamu ini berasal dari bahan rimpang kunyit (Curcuma domestica Vahl) dan asam (Tamarindus indica L.). Jamu ini memiliki cita rasa manis dan asam. Berfungsi sebagai obat pencegah sariawan dan antibiotik. Jamu ini mempunyai makna sebagai kehidupan yang dimulai dari masa bayi menuju anak-anak terasa manis.
2. Beras Kencur
Jamu Beras Kencur Foto: Getty Images/iStockphoto/harwan |
Beras kencur berasal dari bahan beras (Oryza sativa) dan kencur (Kaempferia galangal L.). Jamu ini memiliki cita rasa yang sedikit pedas dan bermanfaat untuk menyegarkan tubuh, mencegah batuk, meningkatkan nafsu makan hingga meningkatkan kenyaringan suara. Jamu imi melambangkan simbol peralihan kehidupan menuju masa remaja dengan merasakan pedasnya kehidupan dan sikap egoisme.
3. Cabe Puyang
Cabe Puyang adalah jamu yang berasal dari cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) dan lempuyang (Zingiber zerumbet). Jamu ini memiliki cita rasa yang pedas dan kepahit-pahitan. Berfungsi untuk menghilangkan lelah, meningkatkan nafsu makan dan mencegah masuk angin. Jamu ini melambangkan proses ketika manusia menginjak masa dewasa yang mulai merasakan kepahitan hidup sehingga mulai labil.
4. Pahitan
Pahitan berasal dari bahan sambiloto (Andographis paniculata Ness) dan brotowali (Tinospora crispa), pule (Alstonia scolaris L. R. Br.), widoro laut (Strychnos ligustrina), dan adas (Foeniculum vulgare) sebagai bahan tambahan. Jamu ini memiliki manfaat untuk menghilangkan gatal-gatal seperti membersihkan darah dan mencegah alergi. Cita rasa jamu ini adalah pahit dan melambangkan kehidupan dewasa yang pahit tetapi harus tetap dijalani.
5. Kunci Suruh
Kunci Suruh berasal dari temu kunci (Boesenbergia pandurata), kunyit (Curcumae domesticate), jahe (Zingiber officimale), kencur (Kaempferia galangal), kapulaga (Amomum compactum), sirih (piper betle). beluntas (Pluechea indica), kayu manis (Cinamomun verum), asam jawa (Tamarindus indica), serai (Cymbopogon citratus), jeruk nipis (Citrus x auratiifolia). Jamu ini memiliki cita rasa pahit dan melambangkan kesuksesan hidup yang diraih dari sesuatu yang dipelajari sejak kecil.
6. Kudu Laos
Kudu Laos memiliki bahan dasar mengkudu (Morinda citrifolia) dan laos (Alpinia galangal). Jamu ini melambangankan kehidupan dewasa manusia yang harus mengayomi orang-orang yang ada di sekitarnya. Khasiatnya adalah menurunkan tekanan darah dan mengurangi kolestrol dalam tubuh.
7. Uyup-uyup/gepyokan
Jamu ini berasal dari kencur (Kaempferia galanga), jahe (Zingiber officinale), bangle (Zingiber montanum), laos atau lengkuas (Alpnia galangal), kunyit (Zingiberaceae), dan temu giring (Curcuma heyneana). Jamu ini melambangkan pengabdian diri manusia kepada Tuhan yang berwujud kepasrahan tulus seorang hamba.
8. Sinom
Sinom berbahan dari asam (Tamarindus indica). Sinom ini memiliki cita rasa asam, manis, dan segar. Jamu ini melambangkan akhir hidup manusia yang dilahirkan dalam keadaan suci kembali ke tuhan dalam keadaan suci (moksa).
Penggunaan bahan alami pada jamu mencerminkan kearifan lokal yang ada sejak zaman dulu. Masyarakat Indonesia memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar sebagai obat kesehatan. Minuman ini juga menjadi bagian dari tradisi pengobatan dan menjadi warisan budaya yang masih terus dilestarikan hingga saat ini.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/ihc)














































