Madumongso, Cokelat Tradisional Khas Jawa Timur Temani Hari-hari Besar

Madumongso, Cokelat Tradisional Khas Jawa Timur Temani Hari-hari Besar

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Minggu, 11 Jan 2026 17:20 WIB
Madumongso, Cokelat Tradisional Khas Jawa Timur Temani Hari-hari Besar
Ilustrasi madumongso. Foto: Istimewa
Surabaya -

Momen libur akhir tahun selalu identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga, ditemani toples-toples camilan di meja tamu. Di antara deretan kue kering modern, madumongso hadir menjadi primadona lawas dari Jawa Timur yang tak boleh dilewatkan.

Sering dijuluki sebagai 'cokelatnya orang Jawa', warisan kuliner ini memang memiliki tampilan hitam pekat yang menggoda layaknya dark chocolate. Namun, jangan salah sangka, di balik warnanya yang gelap, tersimpan perpaduan rasa manis legit dan sedikit asam dari fermentasi ketan hitam yang difermentasi dengan sempurna.

Sejarah Madumongso

Dikutip dari laman detikFood, madumongso adalah jajanan tradisional dari Jawa Timur yang dibuat dari beras ketan. Meski sering disajikan pada momen Lebaran oleh masyarakat setempat, keberadaannya tidak terbatas pada perayaan itu saja, camilan ini sudah dikenal sejak era kerajaan kuno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama madumongso tersusun dari dua kata, yaitu "madu" yang merujuk pada cairan manis alami, dan "mongso" yang menurut bahasa Jawa bermakna "dimakan", mencerminkan cita rasa madumongso yang manis dan legit.

ADVERTISEMENT
madumongso Kudusmadumongso Kudus Foto: Akrom Hazami /dok. detikFood

Sejarah mencatat madumongso telah hadir sejak masa Kerajaan Mataram Kuno. Dahulu makanan ini kerap disuguhkan untuk para raja serta dipakai pada perayaan besar dan upacara ritual kerajaan.

Bahan Baku Madumongso

Madumongso sering disalahartikan sebagai jenang atau dodol, padahal bahan baku yang digunakan sangat berbeda. Bahan baku madumongso berupa ketan hitam, santan kelapa kanil, dan gula.

madumongso KudusBahan Baku madumongso Kudus Foto: Akrom Hazami /dok. detikFood

Dilansir dari jurnal berjudul "Sifat Organoleptik Madumongso Tape Ubi Ungu dengan Perbedaan Proporsi Tape Ketan Hitam dan Tape Ketan Putih" yang ditulis Ardansyah Putra Hariyanto, terdapat beberapa jenis madumongso yang menggunakan bahan baku berbeda-beda.

Ada rasa original yaitu menggunakan tape ketan hitam, ada juga yang menggunakan tape ketan putih yang memiliki cita rasa manis khas dengan aroma alkohol yang kuat, dan juga menggunakan tape ubi ungu dengan tekstur yang lembut manis dan sedikit beralkohol.

Selain itu, juga terdapat buah nanas yang mengandung zat gula alami dan mengandung banyak vitamin C yang baik untuk tubuh. Santan Kelapa juga mengandung nutrisi baik, seperti protein, karbohidrat, kalium, dan lainnya.

Resep Madumongso Enak dan Mudah

Madumongso banyak dijual saat perayaan hari-hari besar seperti lebaran hari Raya Idul Fitri. Namun, Anda juga bisa membuatnya sendiri di rumah untuk menemani libur akhir tahun Anda atau untuk suguhan tamu yang datang ke rumah. Berikut cara mudah membuat Madumongso yang bisa Anda praktekkan di rumah:

Bahan-bahan

  • 500 gram tape ketan hitam
  • 200 ml santan kelapa
  • 2 lembar daun pandan
  • Garam secukupnya
  • 100 gram gula merah

Cara Membuat

  • Pertama, masak santan kelapa, daun pandan, dan gula terlebih dahulu. Masak hingga gulanya mencair, jika sudah lalu tiriskan dan saring.
  • Kemudian masukkan tape ketan hitam, dan garam ke dalam santan kelapa. Masak dan aduk terus menggunakan api kecil hingga santan kelapanya terserap.
  • Cicipi rasanya terlebih dahulu, jika manisnya sudah pas tinggal aduk terus hingga kesat. Namun jika rasa manisnya belum terasa bisa tambahkan gula lagi.
  • Jika sudah kesat bisa diangkat dan diamkan hingga dingin. Madumongso bisa dikemas sesuai selera. Bisa dengan plastik atau kertas minyak warna-warni.
  • Madumongso pun bisa disajikan di dalam toples atau di atas piring untuk suguhan lebaran.

Di tengah gempuran kudapan kekinian yang silih berganti, madumongso tetap berdiri tegak dengan cita rasanya yang otentik. Kehadirannya di meja tamu bukan sekadar pelengkap, melainkan sebuah upaya merawat ingatan tentang kekayaan budaya kuliner nusantara.

Mari jadikan libur akhir tahun ini lebih bermakna dengan menghadirkan sepiring madumongso di tengah hangatnya obrolan keluarga. Sebab, 'cokelat tradisional' ini bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang cerita dan sejarah yang terus hidup di setiap gigitannya.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads