Berkunjung ke Kota Pisang, Ini Rekomendasi 7 Oleh-oleh Khas Lumajang

Berkunjung ke Kota Pisang, Ini Rekomendasi 7 Oleh-oleh Khas Lumajang

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Minggu, 11 Jan 2026 16:40 WIB
Keripik pisang kekinian
Ilustrasi keripik pisang. Foto: Instagram/Shopee
Lumajang -

Kabupaten Lumajang dikenal luas sebagai "Kota Pisang" karena kekayaan varietas buah pisang yang tumbuh subur di wilayah ini. Julukan tersebut tidak hanya melekat pada identitas daerah, tetapi juga tercermin pada ragam oleh-olehnya.

Selain produk olahan pisang, Lumajang menawarkan berbagai pilihan buah tangan yang mencerminkan kekayaan alam sekaligus kreativitas warganya. Pengunjung bisa menemukan oleh-oleh yang unik, khas, dan sulit dijumpai di daerah lain.

Keberagaman oleh-oleh ini membuat wisatawan memiliki banyak alternatif untuk dibawa pulang seusai berlibur. Setiap produk memiliki cita rasa dan karakter yang merepresentasikan budaya lokal Lumajang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh-oleh Khas Lumajang

Berbagai buah tangan dari Lumajang kerap diburu wisatawan untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Berikut ini tujuh oleh-oleh khas Lumajang yang paling dicari dan direkomendasikan detikJatim untuk detikers.

1. Keripik Pisang

keripik gedebog pisangkeripik gedebog pisang Foto: Suparno

Keripik pisang adalah oleh-oleh ikonik Lumajang yang memanfaatkan melimpahnya hasil Pisang Agung, jenis pisang khas berukuran besar. Keberadaan keripik ini tak terlepas dari upaya lokal untuk mengawetkan dan meningkatkan nilai jual pisang yang melimpah.

ADVERTISEMENT

Secara asal kata, nama "keripik" merujuk pada penganan yang diiris tipis dan digoreng hingga renyah. Keripik pisang di sini dibuat dari irisan tipis Pisang Agung mentah yang kemudian diolah lebih lanjut.

Cara pembuatannya dimulai dengan pengirisan pisang yang sangat tipis dan seragam. Irisan ini kemudian direndam dalam larutan bumbu sederhana lalu digoreng hingga kering dan renyah sempurna.

Rasa keripik pisang Lumajang yang autentik umumnya manis dan renyah, meskipun kini banyak varian rasa lain muncul. Rasa manisnya berasal dari kadar gula alami pisang yang matang di pohon, bukan dari gula tambahan berlebihan.

Keunikan utama keripik ini terletak pada jenis pisang yang digunakan, yaitu Pisang Agung yang memiliki cita rasa dan kepadatan khas. Hal ini membedakannya dengan keripik pisang dari daerah lain yang menggunakan pisang kepok atau tanduk.

Di Lumajang, lokasi penjualan keripik pisang sangat mudah ditemukan, terutama di sepanjang jalur utama kota dan pusat oleh-oleh. Banyak media dan situs perjalanan sering merekomendasikan pusat oleh-oleh di Jalan Lintas Timur (JLT) sebagai lokasi terbaik untuk membeli.

Selain di pusat oleh-oleh, banyak produsen keripik pisang lokal yang menjual langsung dari rumah produksi mereka. Ini memastikan pembeli mendapatkan keripik yang masih sangat fresh dengan harga yang bersaing.

2. Sale Pisang

sale pisangsale pisang Foto: Istimewa

Sale pisang adalah salah satu produk olahan pisang yang paling populer dan legendaris, terutama di Lumajang, Jawa Timur. Makanan ini lahir dari upaya masyarakat lokal untuk mengawetkan hasil panen pisang yang melimpah sebelum ditemukannya teknologi pendingin modern.

Secara asal kata, Sale berasal dari teknik pengolahan yaitu pengasapan atau pengeringan (dijual dalam bahasa Sunda). Teknik ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam buah pisang, membuatnya tahan lebih lama.

Cara pembuatannya dimulai dengan mengiris pisang tipis-tipis, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari atau diasapi hingga kadar airnya berkurang drastis. Terdapat dua jenis sale yaitu sale pisang basah (yang dikeringkan saja) dan sale pisang kering (yang dilapisi adonan tepung manis lalu digoreng).

Rasa sale pisang sangat khas, memadukan rasa manis alami dari buah pisang yang matang dengan aroma yang unik setelah melalui proses pengeringan. Bagi sale pisang yang digoreng, rasa manis legit tersebut diperkaya dengan sensasi renyah dari lapisan tepung luarnya.

Keunikan sale pisang Lumajang terletak pada penggunaan jenis pisang lokal, seringkali Pisang Agung atau Pisang Raja Nangka, yang terkenal manis dan memiliki tekstur padat. Proses pengeringan yang tepat memastikan sale ini bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Lokasi utama penjualan sale pisang tersebar luas di sepanjang jalur utama yang menghubungkan Lumajang dengan kota-kota lain. Anda akan banyak menemukan toko khusus oleh-oleh yang menjual berbagai merek sale pisang di pinggir jalan raya.

Selain di toko, banyak pusat sentra UMKM di Lumajang yang menjual sale pisang langsung dari rumah produksinya. Hal ini memungkinkan wisatawan mendapatkan produk yang lebih segar dan berkualitas langsung dari pembuatnya.

3. Kue Lathok

Secara asal kata, Lathok tidak memiliki arti spesifik yang baku, namun istilah ini kemungkinan merujuk pada bahan dasarnya yang cenderung lengket (seperti ketan yang dilathok atau dilekatkan). Kue ini sering disebut juga sebagai manisan ketan atau Jadah Lathok oleh beberapa penduduk setempat.

Cara pembuatannya dimulai dari mengolah adonan yang terbuat dari campuran utama tepung ketan, gula, dan santan kelapa. Adonan tersebut dimasak dengan proses yang relatif lama hingga menjadi sangat kental dan padat.

Setelah adonan matang, proses selanjutnya adalah pendinginan dan pemotongan menjadi bentuk persegi panjang atau jajaran genjang kecil. Kue lathok kemudian dijemur agar permukaannya mengering, menambah daya tahan dan teksturnya.

Rasa dari Kue Lathok adalah perpaduan manis legit yang kuat dengan aroma kelapa dan ketan yang sangat khas. Teksturnya padat, kenyal, dan lengket, membuatnya berbeda dari kue basah tradisional lainnya.

Keunikan utamanya terletak pada daya tahannya yang cukup lama karena kandungan gulanya tinggi dan proses pengeringan. Selain itu, rasanya yang klasik dan otentik menjadikannya representasi sejati dari kuliner tradisional Lumajang.

4. Bledus

Bledus merupakan camilan tradisional khas Lumajang yang berbahan dasar jagung kering atau jagung pipil. Makanan ini secara kuat mewakili kekayaan hasil bumi Lumajang sebagai daerah agraris.

Secara asal kata, Bledus diyakini berasal dari bunyi saat jagung meletup atau mekar ketika dimasak dengan cara tradisional. Meskipun sederhana, nama ini mudah diingat dan telah menjadi identitas kuliner lokal.

Cara pembuatannya sangat sederhana namun membutuhkan ketelatenan, yaitu dengan merebus biji jagung kering dalam air berkapur atau air khusus yang sudah direndam abu. Proses perebusan yang lama membuat biji jagung mekar dan menjadi sangat empuk.

Rasa Bledus adalah gurih alami dari jagung yang berpadu dengan rasa manis karena biasanya disajikan dengan taburan gula pasir atau parutan kelapa. Teksturnya yang empuk dan kenyal menjadikannya camilan yang nyaman di lidah.

Keunikan Bledus terletak pada tekstur mekar yang didapatkan tanpa proses pemanggangan atau penggorengan seperti popcorn. Selain itu, Bledus merupakan camilan yang kaya serat karena berasal dari biji jagung utuh.

Sebagai makanan rakyat, Bledus umumnya dijajakan oleh pedagang keliling atau di pasar-pasar tradisional di seluruh wilayah Lumajang. Harganya yang sangat terjangkau menjadikannya camilan yang merakyat.

Saat ini, Bledus juga mudah ditemukan di sentra oleh-oleh modern di Lumajang, sering dikemas dalam kemasan higienis yang siap disantap. Oleh-oleh ini menjadi pilihan unik yang menawarkan cita rasa otentik Lumajang.

5. Tapis (Tape Pisang)

Secara asal kata, nama Tapis merupakan singkatan sederhana dari Tapai Pisang, merujuk pada bahan utama dan proses fermentasinya. Inovasi ini mematahkan anggapan umum bahwa tape hanya bisa dibuat dari singkong atau ketan.

Cara pembuatannya mengikuti proses fermentasi tradisional seperti tape pada umumnya, namun dengan bahan dasar buah pisang yang telah dikukus. Pisang yang digunakan tidak sembarangan, melainkan jenis Pisang Kepok dengan tingkat kematangan yang pas agar teksturnya tetap empuk.

Setelah dikukus dan didinginkan, pisang ditaburi ragi yang sudah dihaluskan, kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama 36 hingga 48 jam. Proses yang higienis dan tepat sangat menentukan tingkat kemanisan dan kelembutan Tapis yang dihasilkan.

Rasa Tapis Lumajang sangat khas, memadukan manis alami pisang dengan sedikit rasa asam dari hasil fermentasi, namun tanpa serat seperti tape singkong. Teksturnya yang lembut dan creamy membuatnya menjadi kudapan unik yang digemari banyak orang.

Lokasi penjualan utama Tapis berada di sentra oleh-oleh Lumajang, seringkali diproduksi oleh UMKM yang memfokuskan diri pada olahan pisang, seperti merek "Aroma Lumajang". Produk ini mudah ditemukan di toko-toko di sepanjang jalur utama Lumajang yang ramai dilewati wisatawan.

6. Wedang Cor

Wedang Cor adalah minuman tradisional yang sangat identik dengan Kabupaten Lumajang dan menjadi salah satu oleh-oleh uniknya. Minuman hangat ini populer di kalangan masyarakat setempat, terutama saat musim dingin atau hujan.

Secara asal kata, nama "Cor" konon berasal dari kebiasaan menuang air panas (ngecor) untuk melarutkan bahan-bahan utamanya. Namun, sebagian sumber lain juga mengaitkan "cor" dengan percampuran rasa unik yang tercipta dari komposisi bahan.

Bahan utama wedang cor tergolong sederhana namun khas, yaitu tape singkong, jahe bakar, dan gula merah. Semua bahan ini kemudian diseduh atau "dicor" dengan air panas hingga menghasilkan minuman yang menghangatkan.

Cara pembuatannya dimulai dengan melumatkan tape singkong dan jahe bakar. Adonan ini kemudian disajikan di dalam gelas, lalu dituang dengan larutan gula merah panas, menciptakan minuman yang kaya tekstur.

Rasa Wedang Cor sangat unik, didominasi oleh perpaduan rasa pedas hangat dari jahe, manis legit dari gula merah, dan sedikit sentuhan asam fermentasi dari tape. Perpaduan rasa ini membuatnya berbeda total dari minuman jahe biasa.

Keunikan wedang ini terletak pada kehadiran tape singkong yang lumat, memberikan tekstur menyerupai bubur kental di dasar gelas. Karena khasiatnya yang menghangatkan, Wedang Cor sering menjadi incaran saat cuaca dingin.

Saat ini, selain dijual di warung-warung tradisional Lumajang, Wedang Cor juga banyak dijual dalam bentuk bubuk instan sebagai oleh-oleh. Produk instan ini memudahkan wisatawan untuk menikmati sensasi hangat khas Lumajang di mana pun berada.

7. Ketan Koro

Ketan Koro adalah penganan tradisional yang memadukan dua bahan utama: beras ketan dan kacang koro (kacang-kacangan lokal). Jajanan ini merupakan hasil kreativitas masyarakat Lumajang dalam memanfaatkan hasil bumi lokal selain pisang.

Secara asal kata, penamaannya sangat deskriptif, di mana ketan merujuk pada bahan pokoknya dan koro merujuk pada kacang yang menjadi campurannya. Hal ini menunjukkan kesederhanaan dan kejujuran dalam penamaan kuliner lokal tersebut.

Cara pembuatannya dimulai dengan memasak beras ketan hingga matang dan lengket (seperti uli), kemudian kacang koro yang sudah direbus hingga empuk dicampurkan ke dalamnya. Setelah tercampur rata, adonan ketan koro dibentuk padat dan siap disajikan.

Rasa Ketan Koro menawarkan kombinasi tekstur dan rasa yang kaya. Ada rasa manis gurih dari ketan yang dimasak dengan santan, dipadukan dengan tekstur pulen dari kacang koro rebus.

Keunikan makanan ini terletak pada mouthfeel-nya yang sangat mengenyangkan berkat campuran ketan dan protein nabati dari koro. Selain itu, Ketan Koro sering disajikan dengan parutan kelapa muda di atasnya, menambah kekayaan rasa gurih.

Lokasi penjualan Ketan Koro mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional dan pasar jajanan subuh di sekitar pusat kota Lumajang. Jajanan ini biasanya dijual oleh pedagang kaki lima atau di sentra oleh-oleh yang khusus menjual makanan tradisional.

Ketan Koro menjadi pilihan sarapan atau camilan ringan yang digemari warga lokal dan sering dijadikan oleh-oleh unik. Jika beruntung, Anda bisa menemukan Ketan Koro yang masih hangat baru diangkat dari kukusan pada pagi hari.

Nah, itulah tujuh rekomendasi untuk detikers bagi yang sedang berkunjung ke Lumajang. Jangan lupa coba semua rekomendasinya ya!

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads