Ontbijtkoek, Kue Rempah Khas Belanda yang Tetap Bertahan di Indonesia

Ontbijtkoek, Kue Rempah Khas Belanda yang Tetap Bertahan di Indonesia

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 01:00 WIB
Ontbijtkoek
Kue Ontbijtkoek. Foto: Shutterstock
Malang -

Kue Ontbijtkoek khas Belanda menjadi salah satu jajanan tradisional yang masih bertahan dan digemari di Indonesia. Salah satu lokasi yang terus mengembangkan kuliner bernuansa kolonial ini adalah Kampung Heritage Kayutangan, Malang.

Dengan tekstur yang padat serta aroma rempah yang kuat, Ontbijtkoek mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia. Kue ini bukan sekadar hidangan biasa, melainkan ikon kuliner yang merekam sejarah hubungan antara Indonesia dan Belanda. Kini, Ontbijtkoek kembali dilirik sebagai sajian nostalgia dengan cita rasa autentik masa lampau.

Asal-usul Kue Ontbijtkoek

Mengutip beberapa sumber, Ontbijtkoek sudah dikenal sejak abad ke-16 di Belanda. Kue ini memiliki cita rasa khas rempah karena dibuat dari tepung gandum hitam (rye) dan campuran rempah seperti kayu manis, jahe, serta pala.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jepang Larang Sebagian Produk Gandum AustraliaIlustrasi Gandum Foto: Australia Plus ABC

Di Belanda, kue ini dikenal dengan nama pepperkoek atau kue merica. Biasanya Ontbijtkoek disajikan sebagai pendamping kopi atau teh pada pagi hari. Tidak jarang hidangan ini diberi tambahan mentega, selai, hingga potongan keju untuk memperkaya rasa.

Menariknya, kue ini juga disajikan dalam acara pemakaman di Belanda. Kandungan madu dan rempah seperti merica dipercaya melambangkan perpaduan kesedihan dan kegembiraan, sehingga Ontbijtkoek memiliki makna simbolis bagi masyarakat Belanda.

ADVERTISEMENT

Popularitas Ontbijtkoek tak hanya bertahan di Belanda. Hingga kini, kue ini tetap populer di sejumlah negara Eropa seperti Belgia dan Jerman.

Adaptasi di Indonesia

Roti gambangRoti gambang Foto: Istimewa

Ontbijtkoek juga memberi pengaruh pada kuliner lokal Indonesia. Adaptasinya dikenal dengan nama Roti Gambang atau Roti Ganjel Rel. Roti khas Betawi dan Semarang ini memiliki tekstur yang lebih keras dan padat, namun tetap mempertahankan aroma kayu manis yang kuat - ciri khas Ontbijtkoek versi Belanda.

Oleh-oleh Khas Kayutangan Heritage

logo kayutanganLogo kayutangan Foto: M Bagus Ibrahim

Di kawasan Kayutangan Heritage Malang, Ontbijtkoek kembali dihidupkan sebagai produk oleh-oleh. UMKM setempat mengembangkan kue ini dengan cita rasa khas, sehingga cocok dibawa wisatawan sebagai suvenir kuliner.

Ontbijtkoek tersedia dalam versi basah dan kering, dan dijual dengan harga yang terjangkau, mulai Rp 40.000 hingga Rp 65.000. Cita rasa rempah yang autentik menjadi daya tarik utama yang membuat kue ini semakin dicari oleh pengunjung Kayutangan.

Resep Ontbijtkoek yang Bisa Dibuat di Rumah

Berikut bahan dan langkah pembuatan Ontbijtkoek bagi yang ingin mencoba membuatnya sendiri.

Bahan

  • 6 butir telur
  • 265 gram gula kelapa (gula merah)
  • 2 bungkus susu bubuk (± 50 gram)
  • 250 gram tepung pro sedang
  • 100 gram butter dilelehkan
  • 50 ml minyak
  • 1/2 sdt bubuk spekoek (atau bubuk kayu manis)
  • 1/2 sdt baking powder
  • 100 gram almond slice (atau kenari)

Cara Membuat Ontbijtkoek

  • Campurkan tepung, susu bubuk, baking powder, dan bubuk spekoek. Ayak agar adonan halus.
  • Kocok telur dan gula kelapa hingga mengembang menggunakan mixer.
  • Masukkan campuran bahan kering sedikit demi sedikit sambil tetap dimixer dengan kecepatan rendah.
  • Ambil sedikit adonan, campur dengan butter leleh dan minyak, aduk rata, kemudian satukan kembali ke adonan utama.
  • Tuang ke loyang yang telah dioles margarin dan diberi baking paper. Tambahkan taburan almond.
  • Panggang dalam oven bersuhu 160-170°C selama ± 30 menit.
  • Dinginkan dan sajikan. Ontbijtkoek siap dinikmati.

Fakta Unik Kue Ontbijtkoek

  • Menjadi hidangan sarapan favorit masyarakat Belanda.
  • Diadaptasi di Indonesia menjadi "Kue Gambang" atau "Kue Ganjel Rel".
  • Memiliki sebutan lain: "Kue Lada".
  • Mempunyai banyak varian di berbagai kota di Belanda.
  • Menjadi bagian dari permainan koekhappen, tradisi khas Negeri Kincir Angin.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads