Polda Jawa Timur mengembangkan Mahameru Quick Response (MQR) Beraksi. Sistem tersebut mengintegrasikan data lintas instansi, salah satunya untuk memperkuat upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas.
Sistem ini menghubungkan data kepolisian dengan sejumlah pemangku kepentingan dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) untuk memetakan titik rawan kecelakaan atau blackspot hingga menentukan langkah mitigasi.
Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Jatim AKBP Edith Yuswo Widodo mengatakan MQR sebelumnya digunakan secara internal oleh kepolisian untuk menentukan titik blackspot, trouble spot, hingga mendukung kegiatan patroli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, sistem tersebut dikembangkan dengan mengintegrasikan data dari berbagai instansi.
"Kalau kemarin kita menggunakan MQR itu Mahameru Quick Response ini di dalam internal kepolisian, nanti penentuan titik blackspot, trouble spot, patroli dan lain sebagainya. Tetapi sekarang kita upgrade lagi. Ada kolaborasi," kata Edith kepada awak media, Rabu (21/10/2026).
Kolaborasi tersebut melibatkan berbagai pihak termasuk Dinas Perhubungan, Dinas PU Bina Marga, hingga pemangku kepentingan lain dalam forum tersebut. Data yang dihimpun juga diintegrasikan dengan Integrated Road Safety Management System (IRSMS), sistem milik Korlantas Polri.
Integrasi tersebut memungkinkan penanganan titik rawan kecelakaan dilakukan berdasarkan karakteristik dan penyebab kecelakaan di masing-masing wilayah.
"Forum lalu lintas itu kita integrasikan, kolaborasi untuk data dan tindakan mitigasi penanganan blackspot. Kita integrasikan data ini dengan IRSMS yang program dari Korlantas sehingga dengan terintegrasi dengan IRSMS ini, kita bisa mengambil kebijakan sesuai dengan anatomi dari kecelakaan lalu lintas tersebut di wilayah Jawa Timur," jelasnya.
Ia mencontohkan, jika suatu titik teridentifikasi memiliki tingkat fatalitas kecelakaan tinggi, penanganannya akan dilakukan bersama sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Dinas Perhubungan dan Dinas PU Bina Marga dapat melakukan penanganan sesuai bidangnya, sementara kepolisian menjalankan langkah-langkah keselamatan dan pencegahan kecelakaan.
"Sehingga tujuan ke depannya menghilangkan blackspot yang ada di wilayah tersebut," tuturnya.
Penanganan akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan titik rawan kecelakaan yang memiliki tingkat fatalitas tertinggi.
Selain untuk analisis dan mitigasi kecelakaan, MQR Beraksi juga mendukung pemantauan kondisi lalu lintas melalui kamera pengawas atau CCTV dan kamera dasbor (dashcam) pada kendaraan patroli.
Edith menyebut lebih dari 1.000 CCTV dari berbagai sumber telah terkoneksi dengan sistem MQR Beraksi. Kamera tersebut berasal dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, kepolisian, hingga pengelola jalan tol.
"Alhamdulillah sampai sekarang sekitar lebih dari 1.500 CCTV yang sudah terkoneksikan dengan MQR ini. Jadi tinggal klik kita akan bisa memantau arus lalu lintas yang ada di situ," ungkapnya.
Selain memantau arus lalu lintas, rekaman CCTV juga dapat dimanfaatkan sebagai bukti pendukung ketika terjadi kecelakaan di lokasi yang terpantau kamera.
"Kita masih kerja sama lagi untuk memaksimalkan jumlah CCTV yang bisa terkoneksi dengan MQR," pungkasnya.
