Puluhan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan mengeluhkan anjloknya harga telur di pasaran. Anjloknya harga jual telur ras ini dinilai kian mencekik peternak karena tidak sebanding dengan masih tingginya harga pakan ternak.
Merespons jeritan para peternak, Polres Magetan turun tangan memfasilitasi audiensi lintas sektoral bersama perwakilan peternak, pedagang, Pemerintah Kabupaten Magetan, hingga DPRD Magetan untuk mencari jalan keluar.
"Hari ini Polres Magetan memfasilitasi audiensi lintas sektoral guna mencari solusi atas turunnya harga telur ayam ras di tingkat peternak yang tidak sebanding dengan tingginya harga pakan," ujar Kapolres Magetan, AKBP Raden Erik Bangun Prakasa, kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erik menjelaskan, audiensi tersebut merupakan bentuk kepedulian Satgas Pangan Polres Magetan. Pihaknya ingin memediasi seluruh pihak terkait agar bisa berdiskusi secara transparan mengenai krisis yang dihadapi industri peternakan lokal.
"Polres Magetan sebagai bagian dari Satgas Pangan memfasilitasi audiensi ini agar seluruh pihak dapat duduk bersama menyampaikan persoalan yang dihadapi. Harapan kami, melalui komunikasi yang terbuka dapat ditemukan langkah konkret yang mampu membantu peternak sekaligus menjaga stabilitas perdagangan telur di Kabupaten Magetan," terang Erik.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Erik menginstruksikan seluruh jajaran Kapolsek di wilayah hukum Polres Magetan untuk mengawal penyerapan hasil panen peternak lokal.
"Saya menginstruksikan kepada seluruh Kapolsek jajaran agar berkoordinasi dengan pengelola SPPG di wilayah masing-masing sehingga kebutuhan telur maupun bahan pangan lainnya diprioritaskan membeli produk lokal," tegasnya.
Selain itu, kepolisian juga mendukung penuh kebijakan Pemkab Magetan yang mendorong para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk membeli telur langsung dari peternak lokal dengan mengacu pada aturan resmi.
"Kami mendukung program Pemkab Magetan yang mendorong ASN membeli telur dari peternak lokal dengan harga yang tetap mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP), sehingga mampu membantu meningkatkan kesejahteraan peternak," imbuh Erik.
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Kabupaten Magetan, saat ini tercatat ada 1.036 peternak ayam petelur dengan total populasi mencapai 2.936.400 ekor ayam. Dari populasi hampir 3 juta ekor tersebut, Magetan mampu menghasilkan sekitar 79.273 kilogram telur setiap harinya.
Namun, tingginya angka produksi tersebut tidak sebanding dengan tingkat konsumsi lokal. Kebutuhan masyarakat Magetan terhadap telur hanya berada di kisaran 30.341 kilogram per hari.
"Kebutuhan masyarakat Magetan hanya sekitar 30.341 kilogram per hari. Kondisi overproduksi tersebut menyebabkan pasokan melimpah sehingga harga telur terus mengalami penurunan," tandas Erik.
