Ada komunitas yang tak terdengar biasa di Surabaya. Komunitas Tarot Full Moon jadi wadah berbagi cerita bagi para anggotanya lewat medium kartu tarot.
Sore itu, Sabtu (11/4/2026) satu per satu anggota datang ke CW Coffee & Eatery di pusat kota untuk mengikuti pertemuan rutinan komunitas. Mereka saling menyapa, duduk santai, diiringi obrolan yang mengalir begitu saja. Berbagai jenis kartu yang dibawa masing-masing anggota mulai ditata dan dibaca.
Ragam macamnya ada yang klasik, ada yang modern dengan gaya visual unik sesuai preferensi pemiliknya. Dari situlah diskusi berkembang, mulai dari sharing pengalaman sehari-hari hingga obrolan serius tentang permasalahan yang sedang dihadapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesekali, kartu dibalik. Satu anggota membacakan, yang lain menanggapi. Tak jarang, pembacaan itu kemudian divalidasi oleh anggota lain untuk memperkaya sudut pandang.
Komunitas Tarot Full Moon Surabaya. Foto: Anastasia Trifena/detikJatim) |
Komunitas Tarot Full Moon telah berdiri sejak 2009. Awalnya, komunitas ini hadir sebagai respons atas bubarnya komunitas tarot sebelumnya yang membuat para pegiatnya kehilangan ruang berkumpul.
"Waktu itu tidak ada niatan untuk bikin komunitas ini. Cuman atas permintaan beberapa temen yang kehilangan komunitasnya, karena waktu itu ada komunitas tarot yang lagi bubar. Ya mau gak mau, akhirnya aku bikin. Konsepnya itu sebetulnya 2008 akhir, cuman bener-bener jalannya itu 2009," urai Arya ketua komunitas kepada detikJatim, Sabtu (11/4/2026).
Sejak itu, Full Moon berkembang dengan Surabaya sebagai pusatnya. Anggotanya datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bali, hingga Jember. Mereka rutin mengadakan agenda berkumpul di kota pahlawan.
Yang membuat komunitas ini berbeda bukan hanya pada praktik tarotnya, tetapi juga pada nilai yang dipegang. Full Moon berjalan sebagai komunitas non-profit yang menekankan sharing dan pembelajaran bersama, bukan komersialisasi.
Arya menuturkan, "Jadi gini, kan komunitas itu kan organisasi non-profit ya, jadi tujuan orang masuk komunitas itu ya sharing, sharing kayak gini. Tapi (sayangnya) ada beberapa oknum yang membuat komunitas itu buat untuk cari duit, ya kalau kita enggak."
Pertemuan rutin atau gathering biasa digelar satu bulan sekali, dengan lokasi yang berpindah-pindah namun umumnya di kafe. Kegiatan rata-rata dimulai pada sore hari, tetapi para anggota bebas mengikuti hingga waktu yang tidak ditentukan. Sering kali pertemuan berlangsung "sampai bosan" seperti yang selalu tercantum dalam flyer acara.
Di luar itu, pertemuan informal bagi pengurus inti juga diagendakan tergantung kesepakatan anggota. Komunitas ini juga kerap mengadakan workshop gratis bagi pelajar dan mahasiswa, hingga sesi meditasi bersama.
Bagi mereka, tarot dipahami sebagai medium untuk mengenali diri.
Komunitas Tarot Full Moon Surabaya. Foto: Anastasia Trifena/detikJatim) |
"Sebetulnya tarot ini sekedar alat ya, alat untuk membantu kita itu memahami diri kita sejati gitu lho. Untuk memahami siapa sih kita, kayak gitu aja sih," jelas Arya.
"Kalau untuk ngeramal itu bonus, ibaratkan kan kayak, apa namanya, kayak ramalan cuaca gitu lho. Ramalan cuaca itu kan, ada ramalan karena ada data yang masuk gitu kan, sama," imbuhnya.
Menariknya, sebagian besar anggota komunitas ini memiliki kepekaan intuitif atau yang biasa disebut sebagai "gifted" atau indigo. Persentasenya bahkan mencapai sekitar 70 hingga 80 persen dari total anggota.
Meski demikian, komunitas ini tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk yang tidak memiliki latar belakang tersebut. Selama memiliki ketertarikan dan mau belajar, siapa saja bisa ikut bergabung. Informasi mengenai gathering biasanya dibagikan melalui Instagram @komunitas_tarot_surabaya.
Kehadiran dalam gathering menjadi pintu masuk utama. Dari situ, interaksi dan keterlibatan akan menentukan sejauh mana seseorang bisa menjadi bagian dari komunitas.
"Sering ikut gathering aja dulu. Dari situ kan, itu tadi kan aku bilang untuk masuk ke grup WA-nya itu nanti ada yang memutuskan," urai Arya terkait mekanisme bergabung dalam komunitas.
Salah satu peserta yang baru pertama kali datang, Randy merasakan langsung suasana yang berbeda dari bayangannya. Ia melihat komunitas ini tidak dibangun atas kepentingan materi, melainkan relasi.
"Kalau aku bilang, apa ya, solid kali ya. Aku ngeliat komunitasnya bisa kompak begini, bagus gitu. Mereka itu bukan komunitas tapi harus dapat uang (dijadikan bisnis) gitu loh. Jadi mereka itu memang buat komunitas untuk sosialisasi," kesan Randy.
Interaksi yang terjadi terasa cair. Obrolan tidak berjalan satu arah, melainkan menyebar ke berbagai topik, saling menyambung satu sama lain. Baginya, suasana itu justru membuat diskusi terasa hidup dan nyaman.
"Kita kenalan satu sama lain, ya kan. Kita ngobrol-ngobrol apa gitu tentang tarot, tentang spiritual atau tentang apa, atau memang ada yang kita bacakan. Asik seru obrolannya juga bisa nyambung satu sama lain," ungkap Randy senang.
Dalam perjalanannya, komunitas ini tidak lepas dari tantangan. Selain adanya pihak yang mencoba menjadikannya sebagai ajang mencari keuntungan, mereka juga kerap berhadapan dengan individu yang datang untuk "menguji" kemampuan anggota, termasuk dari kalangan yang mengaku memiliki praktik spiritual tertentu.
Situasi tersebut menjadi dinamika tersendiri yang harus dihadapi komunitas sejak awal berdiri. Meski begitu, Full Moon tetap bertahan dengan prinsip awalnya yakni menjadi ruang aman untuk berbagi, belajar, dan memahami diri antar anggotanya.
(auh/dpe)


