Profile Wali Kota Surabaya

Eri Cahyadi, dari Jualan Kambing hingga Jadi Wali Kota Surabaya

Hanaa Septiana - detikJatim
Selasa, 31 Mei 2022 18:37 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di ruang kerjanya (Foto: Nadya CL/detikJatim)
Surabaya -

Salah satu sosok menonjol saat Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-729 adalah Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Dirinya terlihat sebagai sosok pemimpin muda yang visioner. Di balik itu, Eri sebelumnya tidak pernah memiliki motivasi untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Dia bahkan sempat menjajal profesi sebagai pedagang kambing sebelum menjadi birokrat.

"Monggo mbak, ayo tak ceritain semua," sapa Eri saat ditemui detikJatim di ruang kerjanya, Balai Kota Surabaya, Selasa (31/5/2022).

Eri terlihat santai dengan memakai setelan beskap, jarik, lengkap dengan udeng di kepalanya. Dirinya baru saja memimpin upacara resepsi HJKS. Dia pun memulai dengan mengawali cerita perjalanannya saat sekolah.

"Saya sejak SMA sudah tidak pernah dibiayai orang tua, meski orang tua saya pejabat struktural di Pemkot Surabaya. Saya berusaha sendiri. Ya dengan jual gula, jual beras, ternak kambing untuk dijual dan dioper-oper gitu waktu SMA," kata pria asli Surabaya itu.

Saat Eri masih kuliah, sang ayah divonis serangan jantung. Pada detik itulah Eri langsung berpikir bahwa dirinya harus terus bekerja untuk ikut menghidupi keluarganya. Dia pun mencoba menjual alat-alat kesehatan yang sasarannya rumah sakit di seluruh Surabaya.

"Ya pernah diprotes, dimarahi dokter, dan sebagainya. Jadi saya merasakan betul bagaimana perjuangan mencapai keberhasilan itu seperti apa," imbuh pria kelahiran 27 Mei 1977 itu.

Usai menamatkan kuliahnya di Surabaya, Eri pun diterima sebagai konsultan salah satu perusahaan di Jakarta. Saat itu, dia mengaku banyak belajar tentang persaingan antarkaryawan yang baik dengan ilmu yang dimiliki. Serta pendapatan yang memang sesuai dengan kinerjanya. Namun, sang ayah meminta Eri untuk pulang dan mengikuti pendaftaran CPNS Surabaya.

"Awalnya saya enggak mau, karena merasa penghasilan saya sudah cukup. Terlebih saya melihat abah (panggilan ayah) itu kalau jadi PNS pulang minimal jam 19.00 atau 20.00 malam, kadang jam 01.00 dini hari," ungkap alumnus D3 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan S1 Teknik Sipil Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) itu.

Dia pun mempertanyakan saran sang ayah untuk menjajal tes CPNS tersebut. Ayahnya pun menjawab bahwa pekerjaan PNS janganlah dilihat dari gajinya, namun dari pengabdiannya. Sebab, pengabdian bisa menjadi amal jariyah dan bekal untuk akhirat.

Tidak hanya itu, sang ayah juga menyarankan Eri untuk mendaftar CPNS dengan ijazah sarjana muda (D3), bukan sarjana (S1). Artinya, golongan PNS setelah diterima otomatis lebih rendah ketimbang dirinya mendaftar menggunakan ijazah S1.

"Abah ingin saya memulai karier birokrat dari bawah. Sebab, abah yakin saya bisa menjadi pemimpin yang bijak jika saya memulainya dari bawah, biar saya paham karier di bawah itu seperti apa dan tidak bertindak seenaknya. Saya ikuti saran itu," imbuh pria yang menjadi birokrat dari tahun 2001 itu.

Wali Kota Surabaya Eri CahyadiWali Kota Surabaya Eri Cahyadi Foto: Dok Pemkot Surabaya

Awal Pertemuan Eri dengan Risma

Eri lantas memulai profesi sebagai birokrat di lingkungan Dinas Cipta Karya. Suatu ketika, dia bertemu sosok Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya 2010-2020) yang saat itu menjadi birokrat di Dinas Pembangunan Surabaya. Dirinya ditawari Risma untuk bekerja di dinas yang sama. Namun, Eri kembali meminta saran dari sang ayah.

"Abah saya bilang, 'bu Risma itu orangnya kenceng dan bagus, wes meluo bu Risma'," ucap Eri sambil menirukan ucapan sang Ayah.

Dari pertemuan yang berujung menjadi rekan kerja itulah Eri banyak berdiskusi dengan Risma. Mulai dari membuat sistem transparansi di pemerintahan hingga swastanisasi birokrasi dengan sistem yang membuat PNS berlomba untuk memberi kinerja yang baik. Dengan tujuan untuk kesejahteraan masyarakat.

"Kami membentuk sebuah tim untuk bikin sistem itu, seperti e-government, e-controlling, e-budgeting, dan lain-lain. Sistem itu hak ciptanya ada nama saya, bu Risma, dan tim tentunya," kata bapak 2 anak itu.

Menjelang bu Risma turun dari jabatannya, Eri pun diminta untuk mencalonkan diri sebagai wali kota, meneruskan perjuangan memimpin kota Surabaya. Rekomendasi dari partai pun turun dengan salah satu namanya.

"Saya bilang ke bu Risma bahwa saya harus tanya umi (ibu kandung) dulu, kalau beliau merestui, saya berangkat. Tapi kalau tidak ya enggak. Dan syaratnya umi, saya harus menerangi makam abah-umi jika suatu saat keduanya meninggal dengan tingkah-laku saya saat jadi wali kota, baru direstui" papar suami dari Rini Indrayani itu.

Eri pun berpasangan dengan Armuji saat mencalonkan kepala daerah. Keduanya diusung oleh partai PDI-P, PSI, Hanura, dan PBB. Mereka menang dengan memperoleh suara 56,94 persen dan dilantik menjadi wali kota-wakil wali kota pada 26 Februari 2021.

"Saat pertama kali menjadi wali kota pun saya kaget, ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki. Saya pun panggil semua kepala daerah dan bikin kontrol kinerja. Kalau tidak sesuai (kinerjanya) ya besok pindah (dimutasi)," tandas eks Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu.

Dia pun memiliki semangat dan harapan agar warga Surabaya lebih sejahtera melalui program yang pro-rakyat. Contohnya padat karya dengan memanfaatkan aset Pemkot Surabaya.

"Baru-baru ini saya meresmikan tanah aset surabaya untuk dimanfaatkan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), ada tempat potong rambut, cuci mobil, dan sebagainya, yang bekerja ya MBR. Inilah yang saya ingin tanamkan ke birokrat Surabaya, mereka harus bekerja untuk umat," tutur dia.

Kesibukannya menjadi wali kota diakui sampai mengurangi waktu Eri untuk menikmati waktu senggang. Bahkan, dia harus rela meninggalkan hobi dan mengurangi waktu bersama keluarga.

"Sebelum jadi wali kota saya rutin renang dan tenis, tapi sekarang sudah hilang, apalagi kena pandemi. Kalau keluarga, saya berusaha menjaga kualitas kebersamaan. Misalnya malam minggu, saya sama keluarga ngobrol bareng sebelum tidur atau main playstation bersama anak saya yang cowok itu," ungkap Eri.

Di akhir wawancara, Eri menyampaikan harapan dan keinginannya untuk Surabaya. Menurut dia, pembangunan Surabaya sudah banyak dilakukan oleh kepala daerah sebelumnya, yakni Bambang DH dan Tri Rismaharini. Tugas dia saat ini meneruskannya dan memanfaatkan pembangunan tersebut agar bermanfaat bagi masyarakat.

"Sudah banyak pembangunan yang dilakukan, tugas saya membangun infrastruktur iya, tapi sedikit, yang paling banyak adalah bagaimana memanfaatkan pembangunan itu. Misalnya area Jembatan Sawunggaling sudah dibangun bu Risma, ya saya berusaha agar itu bisa dimanfaatkan UMKM untuk berjualan di sana, agar masyarakatnya sejahtera," tukas Eri.



Simak Video "Sambut Baik detikjatim, Ini Harapan Walkot Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(hse/dte)