Toni Eko Prasetyo, ayah Serda Ahmad Muzammul Farisa, menggandeng Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Magetan untuk mengawal kasus kematian anaknya yang diduga melibatkan empat senior. Keluarga berharap perkara tersebut segera disidangkan dan para terduga pelaku mendapat hukuman yang adil.
"Kami gandeng LBH Magetan tentunya untuk mengawal perkara anak yang menyebabkan kematian anak saya," ujar Toni Eko Prasetyo selaku ayah Serda Ahmad Muzammul Farisa, kepada detikJatim Kamis (22/10/2026).
Toni menegaskan, pihak keluarga ingin kasus yang melibatkan empat senior anaknya itu segera dituntaskan. Ia berharap proses hukum berjalan transparan dan para terduga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami gandeng LBH Magetan tentunya untuk kawal. Mengawal ke DPR RI, Ombudsman dan agar perkara ini dituntaskan," ungkap Toni.
Selain menggandeng LBH Magetan, keluarga juga mengirimkan surat kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) dan Ombudsman. Langkah itu dilakukan untuk mendorong pengusutan kasus kematian Serda Ahmad Muzammul Farisa.
"Kami sekeluarga masih berduka mohon pelaku dihukum seadilnya," papar Toni.
Toni mengaku pihak keluarga belum puas dengan hasil konferensi pers yang disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau). Ia juga menyampaikan sejumlah temuan yang menurut keluarga perlu ditelusuri lebih lanjut oleh penyidik.
"Saat ini info dari Puspom adalah penyelidikan disesuaikan hasil otopdi forensik. Tap kami keluarga menemukan fakta terbaru luka lebab di mulut dan pipi kiri kanan rahang juga di lehet. Dan bercak darah di gagang pintu mobil yang membawa ke RS dan ada baju tersangka yang di di mes berdarah," tandas Toni.
Sebelumnya, prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammul Farisa dilaporkan meninggal dunia di asramanya. Prajurit asal Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, itu kemudian menjalani autopsi setelah kematiannya dinilai tidak wajar.
Toni menyebut anaknya diduga mengalami penganiayaan yang dipicu persoalan makanan. Menurut dia, Serda Ahmad diminta membeli mi goreng oleh seniornya, tetapi justru membawa mi kuah. Hal itu disebut membuat seniornya marah saat berada di asrama.
