Ketua RT 12 Tambak Medokan Ayu, Suhadi, buka suara terkait tudingan bahwa warga setempat tidak membantu Zulkarnain Abdil Aziz (10), bocah difabel yang tewas dalam kasus pembunuhan di Surabaya. Suhadi menyebut sejumlah warga sempat mendatangi lokasi dan berupaya mencari bantuan saat kejadian.
Tudingan tersebut muncul setelah ayah Zulkarnain, Selaras Abdul, mengaku tidak mendapat pertolongan dari warga sekitar ketika anaknya mengalami kejadian tersebut. Pengakuan Selaras terungkap dalam video yang diunggah akun @cakj1 pada Minggu (18/10).
"Orang sini nggak ada yang nolong (menolong) saya Pak. Cuma akhirnya saya tetangga ini, sebelah ini, saya mintai tolong, tolong antarkan saya ke rumah sakit untuk nengok (melihat) anak saya," kata Selaras di akun @cakj1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu kemudian menuai beragam respons dari warganet. Sejumlah pengguna media sosial Threads mengkritik sikap tetangga korban yang disebut tidak memberikan pertolongan.
"Gua dari denger bapaknya bilang 'yang nolong saya itu orang lewat, bukan orang sini' aja udah agak gimana gitu sama tetangganya" tulis akun @2nd.childdddddd.
"Kurang tau juga, cuma banyak yg spill sekampung sakit semua, kalo ada yg ekonominya kurang ga bakalan dianggep, ya pantes aja pas bapaknya teriak-teriak minta tolong cuma pada liatin doang, padahal anaknya masih bernafas dan masih bisa ditolong," tulis akun @faradibaftr.
Menanggapi hal itu, detikJatim menemui Ketua RT 12 Tambak Medokan Ayu, Suhadi, untuk mengonfirmasi kejadian tersebut. Suhadi menjelaskan, sejumlah warga sempat mendatangi rumah korban untuk mengetahui kondisi yang terjadi.
Menurutnya, sang istri, Nur, juga menuju lokasi bersama Prasetyo, salah satu anggota Karang Taruna, untuk melihat kondisi Zulkarnain.
"Kemarin dari pihak korban menyampaikan keluar teriak-teriak minta ambulan dan tidak ada warga yang menolong. Kondisi yang sebenarnya, di lapangan itu ada warga yang ke rumah saya, kebetulan di rumah ada istri, istri ke lokasi didampingi oleh Mas Prasetyo, dia ini orang karang Taruna, itu di lokasi," jelas Suhadi kepada detikJatim.
Saat mendapati kejadian buruk yang dialami oleh Zulkarnain, Suhadi mengatakan bahwa istrinya berupaya menghubungi layanan darurat 112, tetapi panggilan tersebut tidak diangkat.
Kemudian istrinya juga mencoba menghubungi Puskesmas Medokan Ayu, tapi mendapat informasi bahwa petugas puskesmas sedang berada di luar dengan membawa mobil ambulan.
"Terus sudah berusaha telpon 112, tetapi tidak diangkat. Terus yang berikutnya kita telpon ke Puskesmas Medokan Ayu, tetapi disampaikan di sana Puskesmas sudah kondisi keluar," katanya.
Suhadi juga mengatakan, orang yang mengantar Zulkarnain ke Rumah Sakit pada saat itu merupakan warga Gang 11F yang kebetulan melintas.
Sementara itu, Selaras menyusul dengan dibonceng oleh Pak Warno warga Gang 11G yang juga merupakan warga setempat.
"Jadi kebetulan waktu itu yang lewat itu warga gang 11F. Setelah itu dibawa ke rumah sakit. Terus si Pak Selaras ini mengikuti di bonceng Pak Warno, itu warga saya juga di gang 11G," katanya.
Sebenarnya, kejadian ini telah berlangsung pada 12 September 2026 di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya. Pelaku pembunuhan terhadap Zulkarnain ini merupakan dua anak tetangga korban yakni berinisial K (10) dan F (8).
Namun, pernyataan dari Ketua RT ini hanya untuk menjaga ketenangan lingkungannya, mengingat semua pihak yang terlibat merupakan warga setempat.
"Kami harapannya kejadian ini atau viralnya ini biar berjalannya waktu yang menjawab. Artinya kami dari lingkungan ini biar adem, biar ayem, toh semuanya juga warga saya sendiri," pungkasnya.
