Korban pelecehan modus konten boneka di Jalan Tunjungan, Surabaya, ternyata mencapai ratusan orang. Hal ini diungkapkan pelaku di hadapan Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan.
"(Korbannya) banyak ndan, seratus lebih, tapi sudah dihapus semua (videonya)," kata pelaku dikutip dari Instagram @luthfie.daily dan @surabayapolice1.official, Jumat (25/9/2026).
Pelaku menyebut, sebelum melakukan pengambilan video, dirinya sudah meminta izin kepada para korban. Namun, ia tidak menjelaskan secara detail terkait pembuatan video tersebut. Ia hanya meminta para korban memegang ekor boneka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ngelobby ndan. Sorry permisi kak aku boleh minta izin buat konten boneka boleh nggak begitu. Terus bilang boleh. Dua hari kemudian enggak terima," ujarnya.
Dalam konten tersebut, pelaku mengarahkan para korban untuk memegang ekor boneka yang menyerupai kemaluan pria. Ia menyebut bahwa bagian tersebut hanya ekor boneka.
"Dipegang saja itu cuma ekor," terangnya.
"Itukan cuma ekor doang ndan, ekor belakang, aslinya di depan," dalihnya.
Di hadapan Kombes Luthfie, ia mengaku menyesal dan menyadari kesalahan yang telah dibuatnya. Ia juga telah menghapus seluruh konten tersebut.
"Saya mohon maaf kepada warga Surabaya kalau konten saya tidak berkenan atau kirang mengenankan ke orang surabaya, saya minta maaf sebesar besarnya," ucapnya.
Sementara itu, Luthfie turut menyampaikan permohonan maaf pelaku kepada seluruh masyarakat Surabaya, khususnya kepada para korban.
"Jadi ini untuk rekan-rekan semua yang bersangkutan memang menyadari salah, dan beritikad baik menemui saya, mau menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Surabaya dan seluruh netizen yang mungkin sudah menonton kontennya. Intinya itu dia menyadari kekhilafan, semua sudah di-delete," kata Luthfie.
Sebelumnya, seorang wanita berinisial ASN mengaku telah menjadi korban pelecehan dengan modus konten boneka di Jalan Tunjungan. Dalam pengakuannya, ASN diajak membuat konten pada 5 Agustus 2026.
Saat itu dirinya sedang berjalan-jalan bersama temannya. Ketika hendak pulang dan berjalan menuju parkiran di kawasan Jalan Tunjungan, dia dihampiri oleh dua pria yang menawarinya membuat konten dengan boneka.
Semula ASN melakukan penolakan, tetapi akhirnya bersedia. Dirinya diminta melakukan pengambilan video sebanyak tiga kali dengan orang berbeda tetapi konsepnya sama.
Saat itu ia tidak menyadari telah menjadi korban pelecehan. ASN baru menyadari setelah melihat sejumlah konten yang memiliki pola serupa dan mengandung unsur pelecehan seksual. Hal ini terlihat pada ekor boneka yang dibawa menyerupai kemaluan pria.
