Dugaan pelecehan seksual dengan modus pembuatan konten boneka di Jalan Tunjungan, Surabaya, memasuki babak baru. Pria yang disebut sebagai pelaku akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun TikTok @takimofficial08, sementara salah satu korban berinisial ASN mengaku telah memaafkannya secara personal.
Namun, ASN mengatakan dirinya belum menghapus unggahan yang sebelumnya dibuat di media sosial. Dia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa pembuat konten tersebut benar-benar tidak mengulangi konsep serupa di Jalan Tunjungan.
"Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada kakak yang pernah saya ajak ikut dalam konten boneka. Dengan kesadaran penuh dan ketulusan, saya benar-benar ingin meminta maaf kepada semua pihak dan terutama kepada kakak yang merasa terganggu dan saya rugikan bahkan lecehkan," demikian pesan pelaku yang dilihat detikJatim, Selasa (22/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataannya, pria tersebut menyebut tidak bermaksud menyakiti, mempermalukan, ataupun membuat orang lain merasa tidak nyaman. Dia juga menyampaikan komitmen untuk tidak lagi membuat konten dengan konsep serupa.
Pelecehan modus konten boneka di Jalan Tunjungan Foto: Tangkapan layar |
"Saya tidak bermaksud untuk menyakiti, mempermalukan, ataupun membuat siapa pun merasa tidak nyaman dan lecehkan," lanjutnya.
"Saya juga berkomitmen untuk tidak mengulangi konsep konten seperti itu ke depannya. Saya akan menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran agar ke depannya bisa membuat konten dengan cara yang lebih baik lagi," ujarnya.
Pelaku kemudian kembali menyampaikan permintaan maaf kepada para perempuan yang merasa tidak nyaman dengan konten tersebut, termasuk ASN.
"Sekali lagi, saya dengan sadar dan tulus memohon maaf kepada kakak dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu," tuturnya.
"Saya benar-benar menghargai bantuan dan pengertian kakak. Sekali lagi saya dengan tulus meminta maaf atas kejadian yang terjadi," sambungnya.
Korban Maafkan, Tapi Belum Hapus Unggahan
ASN mengatakan telah menerima permintaan maaf tersebut. Namun, dia masih ingin melihat apakah komitmen yang disampaikan pelaku benar-benar diwujudkan.
"Secara personal saya sudah memaafkan pelaku," kata ASN.
"Tetapi untuk postingan sebelumnya belum bisa saya hapus karena saya mau memastikan dulu apakah benar dia sudah gak bikin konten seperti itu lagi di Jalan Tunjungan," imbuhnya.
Sementara itu, polisi masih melakukan pengecekan terhadap informasi dugaan pelecehan tersebut untuk kepentingan penyelidikan. Kasatres PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengatakan pihaknya kembali mengecek informasi yang beredar.
"Kami cek lagi (untuk penyelidikan)," kata Melatisari.
Melatisari juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai perilaku yang mengarah pada kekerasan atau pelecehan seksual. Masyarakat yang mengetahui kejadian serupa diminta melaporkannya kepada polisi.
"Lebih jaga diri dan lingkungan sekitar serta tingkatkan kewaspadaan terhadap setiap bentuk perilaku yang mengarah kepada kekerasan atau pelecehan seksual. Laporkan jika mengetahui hal tersebut," tuturnya.
Sebelum pelaku menyampaikan permintaan maaf, dugaan pelecehan dengan modus konten boneka tersebut telah ramai dibicarakan di media sosial. ASN menjadi salah satu perempuan yang mengungkap pengalaman yang dialaminya pada 5 Agustus 2026.
Setelah membagikan pengalamannya, ASN mengaku mendapat pesan dari perempuan lain. Perempuan berinisial CR itu mengaku mengalami kejadian yang diduga serupa bersama temannya beberapa hari sebelumnya.
"Bisa di-share juga (ada dugaan korban lain DM) 'Kak thank youu buat utasmu di Threads. Kejadian di aku sama temenku'," ujar ASN.
Menurut ASN, CR menyebut ada empat orang yang terlibat dalam kejadian yang dialaminya. Namun, informasi tersebut masih menjadi bagian dari dugaan yang sedang dicek polisi.
Berawal dari Tawaran Konten 20 Detik
Pengalaman ASN terjadi pada 5 Agustus 2026. Saat itu, dia sedang berjalan-jalan bersama temannya di kawasan Jalan Tunjungan. Keduanya hendak menuju tempat parkir ketika dihampiri dua pria.
Kedua pria tersebut menawarkan ASN dan temannya untuk membuat konten dengan sebuah boneka. Mereka disebut menawarkan proses pengambilan video yang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 detik.
"Tiba-tiba ada dua cowok nyegat kita. Bilang, 'Halo Kak, mau masuk konten nggak? Cuma take video 20 detik aja, paling lama. Kontennya sama boneka, nanti kita tos terus aku kasih boneka ke kakak'," kata ASN saat dimintai konfirmasi detikJatim, Sabtu (20/9/2026).
ASN mengaku sempat menolak tawaran tersebut. Namun, temannya akhirnya menyetujui ajakan itu karena merasa tidak enak. ASN yang semula tidak ingin ikut kemudian ditarik untuk terlibat dalam pengambilan video.
Pengambilan video disebut dilakukan sebanyak tiga kali. Setiap pengambilan melibatkan orang yang berbeda, tetapi menggunakan konsep yang menurut ASN sama.
"Disuruh take konten itu tiga kali, dengan orang yang berbeda tapi konsep videonya sama semua. Tos-tosan, ngasih boneka, disuruh lihat ekor bonekanya, disuruh pegang ekornya, ketawa-ketawa dan saling lempar satu sama lain," bebernya.
ASN kemudian membagikan pengalamannya melalui media sosial. Unggahan tersebut ramai dan memunculkan dugaan adanya perempuan lain yang mengalami kejadian serupa.
Polisi kemudian menyatakan akan mengecek informasi tersebut sebagai bagian dari penyelidikan. Hingga perkembangan terbaru pada Selasa (22/9/2026), polisi masih mengimbau masyarakat untuk melapor jika mengetahui atau mengalami dugaan kekerasan maupun pelecehan seksual.
Simak Video "Video: Sempat Hambat Proses Penyelidikan Satgas PPK USU Ingin Terduga Pelaku Pelecehan Kooperatif"
[Gambas:Video 20detik] (abq/hil)

