Terpilihnya kembali Akh. Muzakki menjadi Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menimbulkan gelombang protes dari ribuan mahasiswa yang meminta sang rektor melepas jabatannya. Ternyata, internal kampus pun tidak tahu soal pelantikan rektor.
Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama UINSA Surabaya Aslamiyah mengatakan pelantikan rektor sejak 3 periode terakhir ditunjuk Kementerian Agama. Jalurnya ada pendaftaran ke panitia di UINSA, lalu seleksi dari Senat, setelah itu dikirim ke Jakarta dan diuji, hingga penentuan di Jakarta.
"Prosesnya dari Kementerian Agama. Cuma proses seleksinya, pemberkasannya memang di Senat. Setelah itu, setelah berkas masuk ke Jakarta, penuh urusannya Jakarta," kata Aslamiyah kepada waratwan di gedung rektorat, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aslamiyah mengaku bahwa pihaknya tidak mengetahui bagaimana proses pelantikan Prof Muzzaki. Baru setelah dilantik yang bersangkutan tahu bahwa Prof Muzzaki terpilih lagi jadi rektor.
"Kita tidak pernah tahu, bahkan kita tidak tahu kalau ada pelantikan kemarin itu. Kita yang pegawai saja tidak pernah tahu, 'Oh, sudah dilantik', seperti itu. Sama sekali (semua dosen tidak tahu). Tahunya sudah selesai kegiatannya. Ketika ada foto, ada berita, baru tahu kita," ceritanya.
"Karena memang kalau ada pelantikan yang diundang hanya yang dilantik. Yang dilantik dan itu saja, tidak ada undangan untuk instansi, ndak ada. Kita tidak pernah tahu itu, jadi tidak ada undangan ke lembaga," tambahnya.
Sebelumnya, ribuan mahasiswa yang menolak Prof Akhmad Muzakki kembali menjadi Rektor UINSA Surabaya menggeruduk dan menduduki gedung rektorat. Ada sejumlah keluhan dan 8 tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa.
"Kami menolak dan mengecam, dan kami juga ingin menurunkan secara hormat ya, secara pribadi dari Prof Muzakki ini kemudian turun jadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya," kata Wakil PresBEM UINSA, Fadlurrakhman Fazle Purwardana.
