Diperkosa Bos, Karyawan Resto Korea Lapor ke Polrestabes Surabaya

Diperkosa Bos, Karyawan Resto Korea Lapor ke Polrestabes Surabaya

Tim detikJatim - detikJatim
Jumat, 21 Agu 2026 09:30 WIB
adegan pelecehan kepada peremouan
Ilustrasi pemerkosaan/Foto: Edi Wahyono
Surabaya -

Seorang karyawan restoran makanan Korea di kawasan Jalan Mayjen HR Muhammad, Surabaya, perempuan berinisial MAD (28), melaporkan pemilik tempat kerjanya, SSY (64), ke Polrestabes Surabaya. SSY yang merupakan warga negara Korea Selatan itu dilaporkan atas dugaan kekerasan seksual yang disebut berlangsung berulang sejak Maret hingga Juli 2026.

MAD membuat laporan ke Polrestabes Surabaya pada 29 Juli 2026. Laporan tersebut teregister dengan nomor TBL/B/VII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR.

Selain MAD, seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial SUF (24), asal Malang, juga membuat laporan terhadap SSY. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/1613/VIII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR pada 6 Agustus 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MAD menceritakan, dugaan kekerasan yang dialaminya bermula pada 12 Maret 2026 sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, SSY menggelar pesta minuman beralkohol bersama sejumlah temannya yang juga warga negara Korea Selatan di restoran yang sedang tutup.

ADVERTISEMENT

MAD mengaku saat itu berada di restoran dan dicekoki minuman beralkohol hingga kehilangan kesadaran.

"Itu minum mulai pukul 20.00 WIB malam, sampai dini hari 13 Maret 2026. Saya di resto dicekoki minuman. Setelah selesai minum, saya kehilangan kesadaran," ujar MAD, Kamis (20/8/2026).

Menurut pengakuan MAD, dalam kondisi tersebut dirinya sempat mengira akan diantar pulang oleh SSY. Namun, ia kemudian dibawa menggunakan mobil milik teman SSY menuju sebuah hotel.

"Dengan tanpa ada rasa curiga, karena memang sebelumnya tidak pernah terjadi hal apapun pada saya, saya ikut dia pakai mobil temannya itu. Mobilnya dia ditinggal di resto," ungkapnya.

MAD mengatakan kondisi fisiknya saat itu sudah sangat lemah. Ia kemudian dibawa ke hotel lain di wilayah Surabaya Barat. Di lokasi tersebut, MAD mengaku mengalami kekerasan seksual disertai ancaman dari SSY.

"Waktu itu saya sudah gak kuat rasanya mau pingsan. Lalu naik ke atas masuk ke dalam hotel dengan membawa dokumen-dokumennya pelaku. Ternyata di hotel itu gak ada siapa-siapa," tuturnya.

MAD mengaku mendapatkan ancaman akan kehilangan pekerjaan dan gaji. Ia juga menyebut keluarganya mendapat ancaman apabila menceritakan kejadian tersebut.

"Dia marah mengancam pecat saya, gaji tidak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. Karena kondisi saya di bawah pengaruh alkohol, dia memperkosa saya saat itu," bebernya.

Keesokan harinya, MAD mengaku kembali mendapat ancaman agar tidak menceritakan kejadian tersebut. Ia juga menyebut dipaksa menerima uang Rp 500 ribu sebelum akhirnya pulang ke kos.

Dugaan Kekerasan Disebut Berulang

Setelah kejadian tersebut, MAD mengaku kerap dipanggil ke ruangan SSY di restoran. Ia bekerja sebagai sekretaris di restoran tersebut.

"Di dalam ruangan itu ada satu bilik kamar, di situ (sering terjadi pelecehan). Dengan ancaman yang sama. Saya takut. Lalu pada 21 Mei 2026, dia kembali mengancam saya dengan ancaman yang sama, agar mau tinggal di rumahnya. Waktu itu dia bilang kalau di sana ada ART-nya," ungkap dia.

MAD kemudian mengikuti SSY ke rumahnya di kawasan Wiyung. Ia mengaku kembali mengalami kekerasan seksual.

"Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena di bawah tekanan ancaman," terangnya.

Menurut MAD, dugaan kekerasan tersebut kembali terjadi setelah SSY pulang dari Korea Selatan pada awal Juni 2026. Ia mengaku tetap berada di bawah tekanan dan ancaman sehingga tidak berani meninggalkan SSY.

Pada 27 Juli 2026, MAD mengaku mulai berani menolak ketika SSY kembali melakukan tindakan serupa. Sehari setelahnya, ia mengaku kembali dicekoki minuman beralkohol hingga terjadi pertengkaran.

"Lalu tanggal 27 Juli, dia mau melakukan hal yang sama, tapi saya berani melawan, saya tolak. Tanggal 28 saya kembali dicekoki minuman keras. Saya kemudian pura-pura mabuk, saya marah-marah. Akhirnya saya bertengkar sama dia," ujarnya.

Minta Pertolongan hingga Diselamatkan

Setelah merasa tidak sanggup menghadapi situasi tersebut, MAD kemudian meminta bantuan kepada manajer restoran. Ia menelepon dari kamar yang baru pertama kali ditempatinya setelah sebelumnya mengaku dipaksa tidur di kamar SSY.

"Waktu di kamar, kemudian saya telpon manager resto. Saya minta tolong karena saya sudah gak kuat diginikan. Mereka belum tau kalau saya disetubuhi berkali-kali. Akhirnya 3 orang datang, kunci pintu utama dan gerbang saya minta tolong ambilin ke ART," bebernya.

Tiga orang kemudian datang membantu MAD. Mereka meminta kunci kepada ART berinisial SUF (24), yang disebut juga mengalami tindakan dari SSY.

Kunci tersebut kemudian dilempar SUF melalui jendela. Mereka akhirnya dapat membuka pintu utama dan gerbang rumah.

"Mereka masuk, gedor kamar (pelaku), pelaku keluar dan kayaknya masih mabuk. Terus saya dan ART diambil dan diselamatkan," tutur korban.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pimpinan Ponpes di Pekalongan Jadi Tersangka Kekerasan Seks Santriwati"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads