Upaya pencarian terhadap Erlan, pria yang diduga terlibat dalam kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati, hingga kini belum membuahkan hasil. Meski perburuan telah berlangsung sekitar satu bulan dan diperluas ke sejumlah daerah, keberadaan terduga pelaku masih belum diketahui.
Di tengah belum adanya perkembangan signifikan, keluarga korban terus mempertanyakan mengapa Erlan belum berhasil ditangkap. Kuasa hukum keluarga menilai kecil kemungkinan pria tersebut mampu bersembunyi seorang diri dalam waktu lama.
Di sisi lain, kepolisian memastikan pencarian masih terus berlangsung dengan melibatkan tim gabungan, termasuk personel Bareskrim Polri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga Yakin Erlan Tak Bersembunyi Sendiri
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya menilai, di era digital saat ini sangat sulit bagi seseorang menghilang tanpa bantuan pihak lain. Menurutnya, apabila Erlan tidak menggunakan telepon seluler, komunikasi tetap dimungkinkan melalui perantara sehingga dugaan adanya pihak yang membantu pelariannya patut didalami.
"Di era digital seperti sekarang, hampir tidak mungkin seseorang benar-benar hidup tanpa interaksi dan komunikasi. Kalaupun tidak memegang handphone, sangat mungkin komunikasi dilakukan melalui perantara. Karena itu saya menduga terduga pelaku tidak bersembunyi sendirian," kata Risang kepada detikJatim melalui telepon selulernya, Jumat (24/7/2026).
Risang mengapresiasi langkah Polda Jawa Timur dan Bareskrim Polri yang sejak awal telah memberikan dukungan personel maupun sarana pelacakan. Namun, karena hingga kini belum ada hasil, keluarga berharap penyelidikan terus diperkuat.
Menurut Risang, penyidik perlu mendalami dua kelompok yang diduga mengetahui keberadaan Erlan. Pertama, keluarga maupun orang-orang terdekat yang memahami kebiasaan dan kemungkinan lokasi persembunyiannya. Kedua, pihak-pihak yang diduga berkaitan dengan rangkaian dugaan penipuan yang sebelumnya disebut melibatkan Erlan.
"Kalau benar pelaku tidak memegang alat komunikasi sendiri, berarti ada orang yang membantu menyampaikan pesan, memenuhi kebutuhan hidup, atau mengatur perpindahannya. Itu yang menurut kami perlu ditelusuri lebih dalam oleh penyidik," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan pihaknya menerima informasi dari sejumlah perempuan yang mengaku menjadi korban dengan pola serupa. Menurut Risang, modus yang diduga digunakan bukan hanya penipuan proyek, tetapi juga mengarah pada dugaan love scam melalui aplikasi percakapan maupun platform pertemanan. Meski demikian, seluruh dugaan tersebut masih menunggu pembuktian melalui proses penyidikan.
Risang berharap penyidik tidak hanya berfokus memburu pelaku utama, tetapi juga mengusut kemungkinan adanya pihak lain yang membantu pelariannya apabila ditemukan alat bukti yang cukup.
"Kami berharap penyidik tidak hanya mengejar pelaku utama, tetapi juga mengungkap siapa saja yang diduga membantu menyembunyikan atau memfasilitasi pelariannya apabila memang ditemukan alat bukti yang cukup. Semua tentu harus dibuktikan melalui proses hukum," tegasnya.
Keluarga Desak Erlan Segera Ditetapkan DPO
Selain meminta penyidikan diperluas, keluarga korban juga mendesak kepolisian segera menetapkan Erlan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) yang diumumkan secara resmi kepada publik. Menurut Risang, nama Erlan memang telah masuk dalam daftar pencarian internal penyidik, tetapi belum diumumkan sebagai DPO.
Keluarga meyakini langkah tersebut akan memperluas ruang pencarian sekaligus membuka peluang masyarakat ikut memberikan informasi apabila mengetahui keberadaan terduga pelaku.
"Dari informasi yang kami terima, polisi masih terus melakukan pencarian. Namun sampai sekarang belum ada titik terang mengenai keberadaannya," ujarnya kepada detikJatim, Kamis (23/7/2026).
"Kami berharap statusnya segera ditingkatkan menjadi DPO agar ruang gerak pencarian semakin luas dan masyarakat juga bisa ikut membantu memberikan informasi," tambahnya.
Risang juga mengungkapkan pihaknya menerima laporan dari sejumlah perempuan yang mengaku menjadi korban Erlan. Salah satunya berasal dari Bandung dengan nilai kerugian mencapai Rp144 juta. Ada pula korban di Jakarta yang mengaku sempat dinikahi sebelum akhirnya ditinggalkan setelah hartanya dikuras.
Menurutnya, pencarian terhadap Erlan sebelumnya telah dilakukan di sejumlah daerah, seperti Jimbaran (Bali), Banyuwangi, Jakarta Selatan, Tasikmalaya, Makassar, Malang, hingga kembali ke Jimbaran. Namun seluruh penelusuran tersebut belum membuahkan hasil.
Atas kondisi itu, keluarga menduga Erlan memperoleh bantuan dari keluarga maupun jaringan yang selama ini berhubungan dengannya.
"Kami menduga yang bersangkutan disembunyikan oleh jaringan atau kelompoknya. Dugaan kami, dia merupakan bagian dari jaringan penipuan berkedok love scam. Sejumlah orang, mayoritas perempuan, juga mengaku pernah menjadi korban," kata Risang.
"Logikanya pasti ada yang membantu, baik dari keluarga maupun kelompoknya. Kami meyakini dia masih berada di Pulau Jawa," jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan dugaan keterlibatan Erlan dalam jaringan penipuan maupun pihak lain yang diduga membantunya masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
Di akhir pernyataannya, keluarga berharap perkara tersebut tidak berhenti di tengah jalan dan seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai ketentuan hukum.
"Harapan kami sederhana, kasus ini jangan sampai menjadi kasus dingin. Kami ingin ada kepastian hukum dan semua pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan yang berlaku," pungkas Risang.
Bareskrim Polri Ikut Diterjunkan Memburu Erlan
Sementara itu, Polda Jawa Timur memastikan proses pencarian terhadap Erlan masih terus berlangsung. Bareskrim Polri juga telah dilibatkan dalam tim gabungan bersama Satreskrim Polresta Sidoarjo dan Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur membenarkan pelibatan personel Bareskrim tersebut.
"Iya, benar (Bareskrim Mabes Polri diterjunkan)," kata Jumhur saat dikonfirmasi detikJatim, Kamis (23/7/2026).
Menurut Jumhur, tim gabungan telah menyisir sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian Erlan. Penelusuran juga dilakukan terhadap teman maupun keluarga terduga pelaku, bahkan diperluas hingga Jawa Tengah dan Jawa Barat.
"Penelusuran dan perburuan pelaku masih kami lakukan hingga ke Jateng dan Jabar. Kami mohon dukungan dan doa, bagi masyarakat yang mengetahui ada orang dengan ciri-ciri seperti terduga pelaku, untuk segera melapor ke kantor polisi terdekat agar dapat segera kami tindaklanjuti," ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan personel Bareskrim bukan baru dilakukan belakangan, melainkan sudah dimulai sejak awal penanganan perkara.
"Ada 7 personel (dari Bareskrim, dari awal olah TKP sudah koordinasi," tuturnya.
Hingga saat ini, kepolisian belum mengumumkan keberadaan Erlan maupun menetapkan pihak lain sebagai tersangka karena diduga membantu pelariannya. Proses pencarian dan penyelidikan masih terus berlangsung.
Simak Video "Video Kuasa Hukum: ASN yang Tewas dalam Mobil di Juanda Tak Punya Konflik"
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)
