Unesa Segera Panggil Ortu Terduga Pelaku Pelecehan 26 Mahasiswa-Dosen

Unesa Segera Panggil Ortu Terduga Pelaku Pelecehan 26 Mahasiswa-Dosen

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 20 Jul 2026 22:00 WIB
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands on her head in a gesture of despair. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.
Ilustrasi (Foto: iStock)
Surabaya -

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menonaktifkan enam terduga pelaku pelecehan verbal melalui grup percakapan yang menyasar 26 mahasiswa dan dosen di Fakultas Vokasi. Orang tua terduga pelaku pun segera dipanggil atas perbuatan anaknya.

Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unesa, Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba meluruskan, terkait sanksi membuat video sujid sekaligus mencium keki kedua orang tua serta meminta maaf ke orang tua dengan jujur menceritakan semuanya dan direkan, lalu dikirim ke PPIS, bukanlah sanksi resmi.

"Ada beberapa hal yang salah, misalnya seperti sanksinya cium kaki orang tua. Tentu itu tidak sanksi, karena memang tidak ada sanksi seperti itu. Itu adalah bagian dari proses penanganan," kata Iman saat dihubungi wartawan, Senin (20/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, orang tua terduga pelaku juga perlu mengetahui perbuatan anaknya. Unesa pekan ini memanggil orang tua mereka.

ADVERTISEMENT

"Karena orang tua harus mengetahui apa yang terjadi saat ini sebelum kami kemudian memanggil orang tua. Minggu ini, ya, kami akan memanggil orang tua untuk mempresentasikan profil kasusnya," jelasnya.

Iman menegaskan, pihaknya sudah melakukan pemerikasaan kepada korban. Kemudian melakukan penelaahan kasus, setelah itu memanggil terlapor.

"Dan terlapor itu sudah kita panggil sebanyak dua kali," ujarnya.

Berdasarkan hasil pendalaman Satgas PPK, memang terdapat kekerasan verbal, mengobjektifikasi teman-temannya yang berbenturan dengan etika. Pihaknya sudah memetakan, memulihkan pesan percakapan.

Sebab, bukti awal permulaan yang disampaikan oleh pelapor pertama dilakukan pengembangan. Semua percakapan pesan grup juga sudah dipulihkan dan di-ekspor.

"Kita sudah menandai semua, dan sudah menemukan siapa-siapa saja yang menjadi korban dan kekerasan verbal apa saja yang ada di sana, begitu kira-kira. Dan saat ini para korban juga sudah didampingi secara psikologis. Kami sudah juga menawarkan psikolog kami untuk mendampingi mereka," pungkasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads