Round Up

Bocoran Kuasa Hukum Beber Tabir Kematian Sekdin PRKP Bangkalan

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Selasa, 30 Jun 2026 09:30 WIB
Perbandingan kaus dan kacamata pria terduga pelaku saat bersama korban Ruly dan rekaman CCTV Bandara Juanda/Foto: Dok. Istimewa
Sidoarjo -

Misteri kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati (50), mulai menemukan titik terang. Setelah hasil autopsi diterima keluarga, muncul dugaan kuat bahwa korban tidak meninggal karena sebab alamiah ataupun kecelakaan, melainkan menjadi korban pembunuhan.

Keluarga juga menduga kasus tersebut bermula dari modus penipuan berkedok kerja sama investasi atau bisnis. Dugaan itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan forensik, rekaman CCTV, hingga kronologi sebelum korban ditemukan meninggal di dalam mobil yang terparkir di Bandara Juanda.

Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya mengatakan, hasil autopsi menemukan sejumlah luka pada tubuh korban yang dinilai mengarah pada dugaan pembunuhan.

"Berdasarkan hasil autopsi yang kami terima, terdapat luka akibat benturan benda tumpul di telinga kiri hingga menyebabkan cuping telinga robek dan mengeluarkan darah," kata kepada Risang Detik melalui telepon selulernya, Senin (29/6/2026).

Selain luka di telinga, autopsi juga menemukan luka pada area wajah.

"Selain itu terdapat pembengkakan dan pendarahan pada bibir atas maupun bawah, serta ditemukan lidah berwarna kehitaman yang mengarah pada kondisi asfiksia atau kekurangan oksigen," imbuh Risang.

Berdasarkan hasil autopsi tersebut, keluarga menduga korban meninggal akibat saluran pernapasannya ditutup. Menurut Risang, dugaan itu muncul karena tidak ditemukan bekas kekerasan di bagian leher sebagaimana lazim ditemukan pada korban pencekikan.

"Kalau dicekik biasanya ada bekas di leher atau tenggorokan. Dalam kasus ini tidak ditemukan tanda seperti itu. Justru kelainan fisik berada di sekitar bibir dan mulut, sehingga keluarga menduga korban meninggal karena saluran napasnya ditutup atau dibekap hingga tidak bisa bernapas," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan dugaan tersebut masih harus dibuktikan secara ilmiah.

Selain dugaan korban dibekap, keluarga juga menunggu hasil pemeriksaan toksikologi dari Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memastikan ada atau tidaknya zat beracun di dalam tubuh korban.

"Kami juga menunggu hasil uji toksikologi dari Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. Pemeriksaan itu penting untuk memastikan apakah ada kandungan racun, termasuk kemungkinan zat seperti sianida atau bahan beracun lainnya," jelasnya.

Risang berharap penyidik dapat mengungkap penyebab pasti kematian korban melalui serangkaian pemeriksaan ilmiah, analisis CCTV, serta alat bukti lain yang telah dikumpulkan.

"Keluarga berharap kasus ini dapat diusut secara transparan hingga pelaku, apabila memang terbukti ada tindak pidana, dapat segera diungkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku," pungkasnya.

Selain mengungkap hasil autopsi, keluarga juga menyampaikan dugaan mengenai motif di balik kematian korban. Menurut mereka, Ruly diduga dijebak oleh pelaku dengan dalih kerja sama bisnis atau investasi sebelum akhirnya menjadi korban pembunuhan.

Keluarga menduga pelaku berusaha menguasai barang berharga milik korban. Namun, seluruh dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan kepolisian.

"Kami percaya penyidik akan mengungkap seluruh rangkaian peristiwa, termasuk motif dan siapa saja yang terlibat. Harapan kami prosesnya bisa dipercepat agar pelaku segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Risang.



Simak Video "Video Kuasa Hukum: ASN yang Tewas dalam Mobil di Juanda Tak Punya Konflik"


(ihc/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork