Atlet Perbakin Surabaya Diduga Korban Pelecehan Lapor ke Polisi

Atlet Perbakin Surabaya Diduga Korban Pelecehan Lapor ke Polisi

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 10 Jun 2026 13:15 WIB
poster
Ilustrasi. (Foto: Edi Wahyono)
Surabaya -

Heboh di medsos pelatih di lingkungan Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Surabaya diduga melakukan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap atletnya. Atlet yang menjadi korban ini disebut masih di bawah umur dan dipastikan sudah melaporkan kejadian yang dia alami ke pihak kepolisian.

Kabar ini mencuat setelah akun Instagram @viralforjusticecom mengunggah kronologi dugaan kekerasan seksual itu beserta bukti tulisan tangan yang diduga dari korban. Dari catatan itu, ada indikasi kuat tindakan child grooming (upaya manipulasi untuk mendekati anak) bermodus pemberian hukuman fisik sebagai pintu masuk melancarkan pelecehan.

Pihak Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) bergerak cepat merespons isu serius ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Ida Widayati, membenarkan adanya pelaporan terkait dugaan kasus pelecehan yang menimpa atlet anak tersebut. Saat ini, kasusnya sudah masuk ke ranah hukum dan tengah ditangani oleh pihak kepolisian.

"Ini pelaporannya baru kemarin sore, masih proses BAP di Polres. Nanti kalau sudah selesai saya kabari," ujar Ida Widayati saat dikonfirmasi detikJatim mengenai perkembangan penanganan korban, Rabu (10/6/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan konten yang diunggah akun Instagram @viralforjusticecom, korban menceritakan bahwa pelatih itu mulanya sengaja membangun kepercayaan dan kedekatan emosional terlebih dahulu. Hingga pada suatu hari, sang pelatih menagih "hukuman fisik" di saat situasi tempat latihan sedang sepi.

Dugaan pelecehan pertama dilakukan di dalam ruangan tempat latihan. Tak berhenti di situ, aksi berlanjut saat korban kembali melakukan kesalahan teknis dalam latihan, hingga pelaku memberikan hukuman susulan di dalam kendaraan pribadi.

"Awal mulanya dia memberi aku hukuman fisik karena keseringan jatuhin mag (magasin/alat penyimpanan dan penyuplai amunisi pada senjata api). Pada suatu waktu, dia menagih hukuman fisiknya kepadaku. Lalu saat itu di lapangan hanya ada aku berdua bersama dia karena berhubung teman-teman sudah pulang semua. Aku membantu dia membawa barang ke dalam ruangan. Lalu dia menagihnya di dalam ruangan itu & di saat itu aku hanya menurut saja. Lalu dia memulainya, menggelitik area pinggangku & sampai sudah selesai dia tiba-tiba memeluk aku dari belakang & mencium rambutku," demikian catatan tulisan tangan korban yang diunggah di konten Instagram itu dilihat detikJatim Rabu pagi.

Korban mengaku sempat merasa curiga, namun memilih diam karena telanjur menaruh rasa percaya yang besar kepada sang pelatih.

"Di situ aku mulai merasa aneh & mulai curiga tetapi berhubung aku sangat percaya kepadanya, aku pun menurut saja. Sampai waktu dia menghukum aku lagi, karena mag lagi, dia menghukum aku di mobil. Saat itu dia memulainya ketika aku selesai latihan & diajak ke belakang. Di saat itu aku lagi sedih karena aku dimarahin, lalu aku curhat kepada dia karena," lanjut korban.

Berdasarkan keterangan tambahan yang disematkan dalam unggahan @viralforjusticecom, aksi bejat terlapor diduga tidak hanya terjadi di area latihan dan mobil, melainkan juga berlanjut di sebuah penginapan di kawasan Surabaya pada 25 Maret 2026.

Pasca-kejadian tersebut, terlapor diduga melakukan eksploitasi digital. Terduga pelaku ditengarai masih intens berkomunikasi, bahkan secara lancang meminta konten intim dari korban melalui pesan singkat.

"Rangkaian peristiwa ini menunjukkan indikasi grooming, penyalahgunaan relasi kuasa, serta eksploitasi terhadap anak di bawah umur. Dugaan semacam ini adalah isu serius yang menuntut perhatian dan penanganan yang berpihak pada perlindungan korban," tulis akun @viralforjusticecom.

Bahaya Child Grooming

Mengenai child grooming, detikJatim sebelumnya pernah mengulas dampaknya secara mendalam dari sudut pandang psikologi. Sejumlah pakar dunia seperti David Finkelhor dari Crime Victims Research Lab, Michael Seto, dan Ethel Quayle menjelaskan bahwa child grooming bisa menyebabkan trauma sangat mendalam.

Ini terjadi karena adanya manipulasi emosional terstruktur yang secara psikologis membuat korban merasa bingung dan justru menyalahkan diri mereka sendiri. Dalam jangka pendek maupun jangka panjang, pola manipulasi ini dapat memengaruhi perkembangan otak, stabilitas emosi, hingga kemampuan sosial anak.

Penelitian berupa studi meta-analisis yang dilakukan oleh Finkelhor (2014) terhadap 20.000 korban menunjukkan fakta mencengangkan, di mana tindakan grooming dapat meningkatkan risiko gangguan stres pascatrauma (PTSD) 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan tindakan pelecehan yang dilakukan secara langsung tanpa manipulasi awal.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads