Fenomena dua dekade semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo kini menyisakan ancaman baru berupa amblesan atau penurunan permukaan tanah (subsidence). Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mengakui adanya penurunan tanah di sepanjang tanggul penahan dalam beberapa tahun terakhir dan membeberkan faktor-faktor penyebabnya.
Kepala Bidang Perencanaan PPLS, Zulyana Tandju menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan berkala penurunan tanah di area terdampak tersebut tidak terjadi secara merata, melainkan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda di setiap titiknya.
"Berdasarkan data primer dan sekunder, terhadap tanggul lumpur Sidoarjo, sepanjang 11 Kilometer terjadi penurunan yang variatif," kata Zulyana kepada detikJatim, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak PPLS mencatat amblesan permukaan paling parah sejauh ini terdeteksi di area tanggul bagian utara, di mana penurunan tanahnya sempat mencapai hampir setengah meter dalam kurun waktu satu tahun.
"Di mana penurunan terbesar terjadi di tanggul sisi utara dengan penurunan yaitu sebesar 0.4 Meter tercatat pada tahun 2021-2022," jelasnya.
Terkait pemicu utama di menyusutnya ketinggian daratan di kawasan itu, Zulyana membeberkan bahwa ada kombinasi faktor alamiah berskala makro serta karakteristik tanah lokal yang menjadi penyebabnya. Dia menjelaskan, wilayah Sidoarjo secara alami memiliki kerentanan tinggi karena berada di atas struktur bumi yang bergerak.
"Penurunan tanggul dipengaruhi oleh kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo di antaranya yaitu adanya pengaruh sesar aktif, serta diketahui bahwa wilayah sidoarjo merupakan daerah endapan sedimen," jelas Zulyana.
Kondisi geologi yang tidak stabil akibat patahan aktif dan jenis tanah endapan tersebut kian diperparah oleh beban masif dari material luapan lumpur itu sendiri. Faktor internal dari karakteristik tanah di dasar tanggul diakui tidak cukup kuat untuk menahan tekanan secara konstan.
"Selain itu juga pada pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah," tandasnya.
Meskipun PPLS mengakui fluktuasi penurunan tanah ini terus terjadi akibat kondisi geologi dan lemahnya daya dukung pondasi tersebut, pihaknya menyebut belum memiliki data spesifik yang merangkum total akumulasi penurunan tanah secara menyeluruh sejak awal mula semburan pada tahun 2006 silam.
