Satreskrim Polres Kediri mengungkap jumlah korban dugaan pencabulan yang dilakukan guru ngaji berinisial HO terus bertambah. Hingga kini, polisi mendata ada 12 anak di bawah umur yang diduga menjadi korban.
Kasatreskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan mengatakan jumlah korban diketahui setelah adanya pendataan bersama perangkat desa dan para korban.
"Pada saat dilakukan pendataan terhadap korban-korban yang ada, ternyata korban tersebut berjumlah cukup banyak," jelas Joshua Peter, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini bermula ketika salah satu orang tua korban mengetahui anaknya diduga menjadi korban pencabulan. Laporan kemudian diteruskan kepada perangkat desa sebelum akhirnya dibawa ke Polres Kediri.
"Berdasarkan data yang sudah kami himpun, terdapat 12 anak di bawah umur yang diduga menjadi korban pencabulan oleh tersangka," jelasnya.
Meski demikian, polisi belum menutup kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor.
"Kami mengimbau masyarakat Kabupaten Kediri yang merasa menjadi korban agar segera melapor ke Unit PPA Satreskrim Polres Kediri," pungkasnya.
Sebelumnya, tokoh agama sekaligus pensiunan guru berinisial H di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, diamankan Satreskrim Polres Kediri terkait dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur.
Petugas dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) melakukan penangkapan terhadap pelaku pada Sabtu (16/5) malam. Video penangkapan tersebut sempat viral.
Dalam video, proses penangkapan sempat diwarnai ketegangan setelah puluhan warga yang geram berkumpul dan berusaha menghadang mobil petugas untuk meluapkan emosi mereka kepada pelaku.
Aksi bejat pria paruh baya yang juga dikenal sebagai penasihat pengurus masjid setempat ini terungkap setelah salah seorang anak bercerita di rumah, yang kemudian terdengar oleh orang tuanya.
Kepala Dusun setempat, Desi Putri menjelaskan, dari obrolan tersebut, pihak orang tua mulai menanyai anak-anak lain di sekitar lingkungan hingga akhirnya muncul pengakuan serupa.
"Awalnya satu anak bercerita di rumah, kemudian setelah ditanya lebih lanjut ternyata ada anak-anak lain yang mengalami hal serupa. Sebenarnya kita sudah punya iktikad baik mengundang untuk duduk bersama lah ibaratnya gitu, tapi dari pihaknya tidak datang. Masalahnya kalau memang di dusun sudah tidak bisa, langsung diangkat saja," kata Desi Putri kepada detikJatim, Minggu (17/5/2026).
(auh/abq)
