Korban Scamming Internasional di Surabaya Ternyata WN China dan Jepang

Korban Scamming Internasional di Surabaya Ternyata WN China dan Jepang

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 08 Mei 2026 13:45 WIB
Markas scamming Jepang-China dibongkar di Surabaya
Foto: Tangkapan layar
Surabaya -

Polisi masih mendalami jumlah korban dalam kasus scamming internasional yang beroperasi di Surabaya. Seluruh korban diketahui merupakan warga negara asing asal China dan Jepang.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan, hingga kini identitas dan jumlah pasti korban masih terus ditelusuri bersama aparat kepolisian luar negeri.

"(Total korban) belum bisa diidentifikasi karena korbannya kan warga asing semua yang ada di Cina dan Jepang," kata Edy saat dihubungi detikJatim, Jumat (8/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Edy, Polrestabes Surabaya kini bekerja sama dengan kepolisian Jepang dan China untuk mendalami kasus tersebut.

ADVERTISEMENT

"Kita kerja sama dengan kepolisian Jepang dan China," ujarnya.

Edy memastikan tidak ada warga Indonesia yang menjadi korban dalam kasus ini. Namun aksi penipuan itu dilakukan dari wilayah Indonesia, termasuk Surabaya.

"Kalau korbannya di Indonesia tidak ada. Korbannya warga Cina dan Jepang, tapi kejahatannya dilakukan di Indonesia yaitu di Surabaya," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Polrestabes Surabaya membongkar markas penipuan daring atau scamming jaringan internasional yang beroperasi di Surabaya. Sindikat ini menyasar warga negara asing asal China dan Jepang sebagai korban.

Kasus ini juga viral di media sosial usai diunggah akun Instagram Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawa @luthfie.daily.

Dalam video yang diunggah, salah satu korban mengaku sempat dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke sebuah lokasi. Setibanya di sana, paspornya diambil dan korban diberitahu bahwa dirinya tidak bisa kembali pulang. Padahal sebelumnya korban diiming-imingi tawaran pekerjaan.

Di lokasi tersebut ,polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa handphone dengan kamera depan yang ditutup, poster dan suasana ruangan yang dibuat menyerupai kantor polisi, hingga beberapa script yang digunakan pelaku untuk menjalankan aksinya. Polisi juga menemukan adanya peredam suara di lokasi itu.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan praktik kejahatan tersebut ternyata tidak hanya ditemukan di Surabaya. Polisi mendapati jaringan serupa juga beroperasi di Solo hingga Bali.

"Di Surabaya ada, di Solo ada, di Bali, ini jaringan internasional," kata Edy saat dihubungi detikJatim, Jumat (8/5/2026).

Modusnya, para pelaku terlebih dahulu mendeteksi data rekening korban sebelum melancarkan aksinya.

"Nah kemudian dia ngomong sama korban bahwa uang yang ada di tabungannya itu adalah bagian daripada uang TPPU, hasil kejahatan dan lain sebagainya," kata Edy.

Para pelaku lalu menyamar sebagai aparat kepolisian China maupun Jepang. Tak hanya itu, sebagian pelaku juga berpura-pura menjadi pegawai perusahaan ekspedisi di luar negeri.

"Kemudian juga dia mengaku sebagai karyawan ekspedisi yang ada di China sana, yang ada di Jepang," ujarnya.

Dengan berbagai peran tersebut, setelah korban percaya, uang mereka kemudian dikuras oleh sindikat tersebut.

"Modusnya melakukan penipuan. Menakut-nakuti korban, kemudian uang korban dikuras, nanti pembayarannya dengan kripto dan lain sebagainya. Ini jaringan internasional," tukas Edy.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads