Polrestabes Surabaya membongkar markas penipuan daring atau scamming jaringan internasional yang beroperasi di Surabaya. Sindikat ini menyasar warga negara asing asal China dan Jepang sebagai korban.
Kasus ini juga viral di media sosial usai diunggah akun Instagram Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawa @luthfie.daily.
Dalam video yang diunggah, salah satu korban mengaku sempat dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke sebuah lokasi. Setibanya di sana, paspornya diambil dan korban diberitahu bahwa dirinya tidak bisa kembali pulang. Padahal sebelumnya korban diiming-imingi tawaran pekerjaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lokasi tersebut ,polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa handphone dengan kamera depan yang ditutup, poster dan suasana ruangan yang dibuat menyerupai kantor polisi, hingga beberapa script yang digunakan pelaku untuk menjalankan aksinya. Polisi juga menemukan adanya peredam suara di lokasi itu.
Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan, praktik kejahatan tersebut ternyata tidak hanya ditemukan di Surabaya. Polisi mendapati jaringan serupa juga beroperasi di Solo hingga Bali.
"Di Surabaya ada, di Solo ada, di Bali, ini jaringan internasional," kata Edy saat dihubungi detikJatim, Jumat (8/5/2026).
Menurut Edy, para pelaku merupakan warga negara asing. Mereka berasal dari China, Jepang hingga Taiwan.
"Pelakunya orang China, orang Jepang, orang Taiwan," kayanya.
Sindikat ini menjalankan aksinya dari sebuah ruangan yang didesain menyerupai kantor kepolisian. Hal itu dilakukan untuk meyakinkan korban dan melancarkan aksi penipuan.
"Jadi ruangan itu didesain sedemikian rupa seolah-olah itu kantor polisi. Dia menghubungi korban yang ada di China maupun di Jepang itu seolah-olah dia itu sebagai anggota kepolisian China, anggota kepolisian Jepang," imbuhnya.
Meski korban seluruhnya berasal dari luar negeri, polisi memastikan tindak pidana dilakukan dari Indonesia, termasuk Surabaya.
"Kalau korbannya di Indonesia tidak ada. Korbannya orang warga Cina dan Jepang, tapi kejahatannya dilakukan di Indonesia yaitu di Surabaya," pungkas Edy.
(dpe/hil)
