Nama Agus Priyono, PNS Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Gresik sempat terseret menjadi salah satu terduga pelaku penipuan perekrutan ASN palsu. Agus akhirnya buka suara. Ia mengaku juga menjadi korban dan mengungkap alasan di balik kepercayaannya kepada sosok AT alias Antoni.
Saat ditemui di lantai dua ruang Dinas PMD Gresik, Agus beberapa kali menyebut kedekatan Antoni selaku pecatan ASN dan Agung Endro Kepala BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) membuat para korban percaya.
"Tahunya Pak Agung dekat langsung dengan Pak Anton, terus ada chat Pak Anton dan Pak Agung dari Pak Anton yang dikirim saya. Kedekatan Pak Anton dengan Pak Agung BKPSDM, Pak Anton pernah jadi pegawai juga di Kesra. Saya tidak tahu persis (pemecatan) kasus apa penipuan atau utang piutang," beber Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus menambahkan, dalam chat tersebut, muncul sejumlah nama korban SK ASN palsu untuk penyerahan SK kepada empat korban bertemu di halaman timur parkir pemkab. Kemudian ada nama keempat korban lainnya yang juga dijanjikan hal yang sama.
"Dari chat itu saya semakin percaya dan yakin. Karena Antoni dan Kepala BKPSDM sangat dekat. Saya bawa anak dan ponakan dari Lamongan untuk masuk menjadi ASN," terangnya.
Agus mengaku telah membayar uang sebesar Rp 125 juta per orang. Total ada empat orang yang dibawanya, jumlah setoran uang ke Antoni sebesar Rp 500 juta.
"Ada yang transfer. Ada yang cash. Sejak tahun 2025. Semua pembayaran empat orang yang dan statusnya sudah lunas," tuturnya.
Agus menjelaskan uang tersebut ia transfer ke istri AT. Kemudian AT mengkonfirmasi pembayaran dan mentransfer lagi ke Kepala BKPSDM melalui istrinya.
"Ditransfer ke istrinya Pak Anton infonya dari Pak Anton, terus dikirim ke Pak Agung tapi tidak lewat Pak Agung, tapi ke istrinya (pak Agung)," jelasnya.
Disinggung mengenai sejumlah kepala desa yang menjadi korban. Agus mengaku hanya memperkenalkan para kepala desa kepada Antoni. Apalagi, pekerjaannya berkaitan langsung dengan para Kepala Desa. Agus menilai, hal itu sebagai langkah membantu teman.
"Kalau Kepala desa langsung ke sana (Pak Antoni) entah transfer maupun langsung, saya tidak dikasih tahu," jelasnya.
Para kepala desa ini, ada yang membawa sejumlah orang. Ada kepala desa yang membawa anak, mantu, maupun saudaranya.
"Ada yang masuk-masukan anaknya, ada yang mantunya, ada yang sepupunya," pungkasnya.
