Kasus pernikahan sesama perempuan di Kota Malang memunculkan dua versi yang saling bertolak belakang. Erfastino Reynaldi (36) alias Rey Malawat alias Yupi Rere mengaku sejak awal terbuka soal identitasnya, sementara Intan Anggraeni justru merasa tertipu dan mengalami tekanan.
Perbedaan pengakuan ini pun menjadi sorotan dalam penanganan kasus yang kini dilaporkan ke polisi, dengan masing-masing pihak menyampaikan kronologi dan klaim yang berbeda.
Rey, terlapor kasus pernikahan sesama perempuan di Kota Malang akhirnya muncul dan memberikan klarifikasi. Ia membantah semua tuduhan yang dialamatkan oleh Intan Anggraeni (28), istrinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rey blak-blakan menyebut dirinya sejak awal sudah terbuka saat menjalin hubungan dengan Intan. Bahkan, ia mengklaim keluarga dan lingkungan pertemanan Intan telah mengetahui identitasnya sebagai perempuan.
Erfastino Reynaldi (36) alias Rey Malawat alias Yupi Rere saat memberikan klarifikasi atas tuduhan penipuan yang dari istrinya, Intan Anggraeni Foto: Dok. Istimewa |
"Dari awal dia sudah tahu identitas (perempuan) saya. Dia sering ke rumah, teman-temannya juga tahu hubungan kami," kata Rey kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).
Terkait tudingan memalsukan dokumen identitas sebagai pria, Rey juga membantah keras. Ia menegaskan tidak pernah melakukan manipulasi dokumen.
"Tidak ada pemalsuan. Identitas yang saya tunjukkan adalah asli. Kalau ada cetakan, itu justru dari dia (Intan) sendiri yang fotokopi KTP saya," bebernya.
Rey mengungkapkan awal perkenalan mereka terjadi di sebuah tempat hiburan malam di Kota Batu. Hubungan kemudian berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Ia bahkan mengklaim, keinginan menikah justru datang dari Intan lebih dulu.
"Dia (Intan)) yang mengajak menikah, karena mengaku sering mendapat perlakuan kasar dari hubungan (pacar) sebelumnya," bebernya.
Meski sempat ingin mengakhiri hubungan, Rey mengaku urung karena adanya tekanan dari pihak Intan.
"Saya sempat ajak selesai, tapi ada ancaman bunuh diri sampai ibunya pingsan," ungkap Rey.
Rey juga membantah sejumlah tuduhan lain, termasuk janji memberikan rumah dan mobil mewah. "Saya tidak pernah menjanjikan mobil atau rumah mewah," kata Rey.
Ia justru mengaku selama ini banyak membantu kebutuhan finansial Intan dan keluarganya.
"Saya banyak membantu secara finansial. Kalau ada uang, saya langsung bantu," tegasnya.
Selain itu, tudingan ancaman pembunuhan juga dibantah. "Saya tidak pernah mengintimidasi atau mengancam (membunuh)," tegas Rey.
Terkait isu rencana ke luar negeri, Rey menyebut tidak pernah mengajak Intan ke Kamboja.
"Rencananya ke Jogja untuk terapi, karena dia sempat mengalami cedera kaki akibat dugaan kekerasan di hubungan sebelumnya. Gak ada ke Kamboja," paparnya.
Rey menambahkan, komunikasi terakhir terjadi saat dirinya mempertanyakan dasar laporan Intan ke polisi.
"Saya tanya dasar laporannya apa, saya tidak pernah melakukan tindak pidana. Tapi tidak dibalas. Saya ingin mengakhiri hubungan baik-baik sebelum laporan itu muncul, tapi justru laporan datang tiba-tiba," tandasnya.
Di sisi lain, Intan Anggraeni memiliki versi berbeda. Perempuan warga Blimbing, Kota Malang ini mengaku menjadi korban penipuan pernikahan sesama jenis. Ia mengungkapkan awal perkenalan terjadi pada Februari 2026 di sebuah kafe di Kota Batu hingga akhirnya berpacaran pada 14 Februari.
"Dia mengaku cowok, dan selama ini kelakuannya juga seperti cowok asli. Cara bicara sampai penampilannya benar-benar seperti pria," ujar korban di Polresta Malang Kota, Kamis (9/4/2026).
Menurut Intan, Rey juga melontarkan janji-janji manis untuk memikatnya, termasuk hadiah rumah dan mobil mewah Lamborghini sebagai kado pernikahan.
IA didampingi kerabat melayangkan aduan ke Polresta Malang Kota. Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim) |
Kedok Rey baru terbongkar saat malam pertama setelah pernikahan siri berlangsung pada 3 April 2026. Saat itu, Intan mengetahui bahwa pasangannya adalah seorang perempuan.
Peristiwa tersebut membuatnya terpukul dan langsung mengadu kepada orang tuanya. Setelah identitas Rey terbongkar, ia diusir oleh keluarga korban. Namun persoalan belum selesai.
"Sempat saya mau dijemput orang suruhan pelaku. Saya takut karena diancam akan dilaporkan balik ke polisi jika melapor," ungkap IA dengan nada trauma.
Kecurigaan keluarga sebenarnya sudah muncul sejak awal, terutama saat prosesi pernikahan tanpa kehadiran keluarga Rey dengan alasan berduka.
Paman korban, Eko NS, juga mengungkap adanya indikasi persoalan lain dalam kasus ini.
"Kami khawatir ada indikasi lain seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Apalagi sekarang marak kasus seperti itu dengan modus diajak ke luar negeri," jelas Eko.
Ia menambahkan, kondisi korban saat ini mengalami tekanan mental.
"Korban sangat trauma dan malu karena kejadian ini sudah diketahui lingkungan. Itulah alasan keluarga akhirnya mengambil langkah tegas melaporkan ke pihak berwajib," imbuhnya.
Kasus ini kini telah dilaporkan ke polisi atas dugaan pemalsuan dokumen, dengan penyelidikan yang masih berlangsung.
Simak Video "Video: Thailand Resmi Legalkan Pernikahan Sesama Jenis"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)













































