Hari yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi pengantin wanita di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta berubah jadi mimpi buruk tak terperikan. Sang ayah bernama Dadang sebagai tuan rumah sekaligus wali nikah tewas mengenaskan setelah dikeroyok sekelompok preman di depan tenda resepsi.
Suasana pesta pada Sabtu (4/4) yang awalnya penuh tawa seketika pecah oleh histeria. Di tengah kerumunan tamu, sang anak yang masih mengenakan kebaya pengantin lengkap hanya bisa terpaku menyaksikan sang ayah ambruk bersimbah darah.
Tragedi ini dipicu aksi pemerasan yang dilakukan sekelompok pemuda setempat. Wahyudin, adik korban, menceritakan bahwa para pelaku datang dengan modus meminta "uang keamanan" di tengah acara berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya dimintai uang, semacam pungutan liar. Di permintaan pertama, kami masih memberi Rp100 ribu," tutur Wahyudin dengan nada getir saat memberikan keterangan di Mapolres Purwakarta, Sabtu malam.
Namun, ketamakan para pelaku tak berhenti di situ. Selang satu jam, komplotan ini kembali hadir dengan tuntutan yang lebih besar, yakni Rp500 ribu. Kali ini, Dadang memilih pasang badan dan menolak memberikan uang tersebut.
"Waktu minta yang kedua kali sebesar Rp500 ribu, kakak saya dengan tegas menolak," lanjut Wahyudin.
Penolakan itu berujung maut. Keributan pecah hingga keluar area tenda resepsi. Di sana, Dadang dikepung dan dianiaya secara brutal. Wahyudin yang berusaha menolong pun tak luput dari serangan massa preman tersebut.
"Begitu tidak dikasih uang, mereka langsung mengamuk. Kakak saya dikeroyok tiga orang, sementara saya sendiri dipukuli oleh sekitar delapan orang," jelasnya.
Dadang pun tumbang tak sadarkan diri setelah hantaman benda tumpul mengenai kepalanya. Sementara itu, di dalam area pesta, sang istri dan pengantin wanita dilaporkan jatuh pingsan tak kuasa menahan syok melihat sang kepala keluarga dianiaya hingga tak bernyawa di hari istimewa mereka.
Pihak kepolisian dari Polres Purwakarta mengonfirmasi bahwa kejadian ini bermula dari kerusuhan yang disengaja oleh kelompok tertentu di lokasi hajatan.
"Dugaannya ada sekelompok orang yang sengaja memicu keributan di acara tersebut, yang kemudian berujung pada aksi pemukulan fatal hingga korban pingsan dan meninggal dunia," ujar Kasi Humas Polres Purwakarta, AKP Enjang Sukandi.
Dari hasil olah TKP, polisi menemukan bukti kekejaman para pelaku berupa potongan bambu yang digunakan untuk menghantam kepala korban.
"Kami menemukan barang bukti belahan bambu yang diduga dipakai memukul kepala korban hingga ia kehilangan kesadaran. Terkait penyebab pasti kematiannya, kami masih menunggu proses autopsi," tambah Enjang.
Hingga larut malam, suasana duka masih menyelimuti RSUD Bayu Asih. Sang pengantin yang masih berkebaya tampak terduduk lesu di Mapolres Purwakarta, menanti keadilan bagi ayahnya yang tewas demi menjaga kehormatan keluarga di hari pernikahannya. Polisi kini tengah memburu para pelaku yang identitasnya telah dikantongi.
Baca selengkapnya di sini.
