Pembobolan minimarket dan toko di Tulungagung dan Trenggalek seperti tak ada hentinya. Tercatat sudah ada 9 kejadian dan hanya satu yang terungkap.
Terbaru, pembobolan terjadi di minimarket Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung pada Jumat (28/2/2026) pagi. Pelaku diduga masuk ke dalam toko dengan menjebol atap.
"Pelaku membongkar paksa brankas yang ada di dalam minimarket dan menguras uang tunai Rp 24 juta. Pelaku juga membawa kabur satu unit HP milik toko," kata Kasihumas Polres Tulungagung Iptu Nanang Murdiyanto, Sabtu (28/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini masih dalam penyelidikan Unit Reskrim Polsek Boyolangu dan Satreskrim Polres Tulungagung. "Masih kami selidiki untuk dilakukan pengungkapan," ujarnya.
Dengan kejadian ini selama periode Januari-Februari 2026 terjadi sembilan kasus pembobolan minimarket berjaringan dan toko milik warga. Rinciannya dua kasus terjadi di Desa Ringinpitu dengan kerugian Rp 92,6 juta dan Rp 14 juta.
Kemudian Desa Gedangan dengan kerugian Rp 21 juta, Desa Jeli Rp 3 juta, di Desa Kacangan dengan kerugian Rp 14 juta, di Desa Bantengan kerugian Rp 33 juta, di Desa Serut kerugian Rp 100 juta dan dua TKP di Desa Gedangsewu dengan kerugian Rp 33 juta serta Rp 24 juta.
Dari sembilan kejadian tersebut polisi baru berhasil mengungkap satu TKP di Desa Bantengan, Kecamatan Bandung. Tersangka adalah DCS (23) warga Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Trenggalek.
Sementara itu di Trenggalek juga terjadi rentetan pembobolan minimarket. Dalam sebulan terakhir tercatat tiga kejadian, meliputi Kecamatan Kampak, Desa Kamulan Kecamatan Durenan dan terakhir di Alfamart di Desa/Kecamatan Pogalan pada Jumat kemarin.
Kasatreskrim Polres Trenggalek AKP Eko Widiantoro, mengatakan modus pelaku mayoritas masuk ke dalam toko dengan menjebol atap dan merusak jaringan CCTV. Khusus di Pogalan pelaku hanya fokus pada pembobolan brankas dan membawa kabur uang tunai Rp12 juta.
Kasus terkahir tersebut hampir mirip dengan kejadian di Desa Gedangsewu, Tulungagung karena pelaku juga menjebol atap dan membobol brankas. Sedangkan lokasi lain rata-rata membawa kabur rokok dan barang berharga lain.
"Kami tidak bisa mendeteksi pelaku di CCTV karena jaringan DVR CCTV terlebih dahulu dirusak," kata Eko.
Pihaknya mengaku masih berupaya melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan barang bukti hingga keterangan para saksi. "Doakan segera terungkap, kalau bisa sebelum lebaran," ujarnya.
(auh/abq)
