Selain Dikeroyok, ABK Surabaya Ngaku Kerap Dipalak Teman

Selain Dikeroyok, ABK Surabaya Ngaku Kerap Dipalak Teman

Aprilia Devi - detikJatim
Senin, 23 Feb 2026 13:15 WIB
Boy showing STOP gesture with his hand. Concept of domestic violence and child abuse. Copy space
Ilustrasi korban bullying/Foto: Getty Images/iStockphoto/gan chaonan
Surabaya -

Anak berkebutuhan khusus (ABK) di Surabaya, AM (16) yang diduga jadi korban pengeroyokan, ternyata juga kerap dipalak teman-temannya. Keluarga korban mengungkap bahwa perundungan itu terjadi sejak satu bulan ke belakang.

Bibi korban, Dewi, mengaku mengetahui cerita tersebut dari AM.

"Dia ternyata di-bully sejak dapat 1 bulan. Berarti kan memang ditarget anak ini. Dan saya lebih miris lagi ketika korban itu ngomong banyak hutang di kantin. Ternyata duitnya dipalakin (teman-temannya)," kata Dewi saat dihubungi detikJatim, Senin (23/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dewi menuturkan, AM kerap dimintai uang oleh teman-temannya untuk jajan di kantin.

ADVERTISEMENT

"Jadi sering diminta uang buat beli es, terus habis gitu mereka jajan di kantin, korban suruh bayarin. Dia sampai ngamen sama live streaming untuk uang sakunya dia, jualan gantungan kunci," tuturnya.

Mirisnya, kondisi ekonomi keluarga AM disebut memang serba terbatas. Ibunya harus menanggung beberapa anak dengan penghasilan yang pas-pasan.

"Karena ibunya anaknya banyak. Jadi untuk makan itu pas-pasan. Bisa dibilang minus. Kenapa makanya korban enggak bisa sekolah di SMA inklusi," jelas Dewi.

Menurut Dewi, keponakannya memiliki sifat polos dan mudah percaya. Ia mengira perlakuan teman-temannya adalah bagian dari pertemanan.

"Kata korban cerita ke saya, 'Tak kirain mereka itu temanku setelah aku enggak pelit. Kalian mau njajan, ya wis njajano. Katanya alasannya utang, nanti tak bayar ya'. Anaknya memang polos," ungkap Dewi.

Selain itu, Dewi menyebut bahwa korban juga kerap disuruh-suruh oleh temannya. Hal itu berdasarkan pengakuan dari AM.

"'Terus setelah tak kasih uang, terus makananku diminta, aku disuruh-suruh, sering dikeplak (dipukul di kepala) ya, dilempari', gitu," sambungnya.

Kasus perundungan ini mencuat setelah AM diduga dikeroyok belasan temannya pada Selasa (10/2). Peristiwa tersebut sempat terekam video dan beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, korban yang mengenakan seragam sekolah terlihat dipukul dan dikeroyok sejumlah pelajar.

Dewi menjelaskan, insiden bermula saat AM diminta guru mencuci muka karena tertidur di kelas. Namun di kamar mandi, korban dihadang dan kembali dibully oleh teman sekelasnya.

"Waktu di kamar mandi setelah cuci muka, korban diadang teman sekelasnya dan di-bully, dia sampai muter (untuk kembali ke kelas). Tapi korban terus diganggu," ujarnya.

Perundungan berlanjut hingga di luar sekolah. Salah satu siswa disebut menantang AM untuk berkelahi.

"Pas anak itu sampai keluar sekolah di jalan, dia teriak 'Ayo, jadi enggak? Katanya kamu mau satu lawan satu'," beber Dewi.

Tak lama kemudian, pengeroyokan terjadi. Dewi menyebut ada sekitar 11 hingga 13 siswa yang diduga terlibat. Akibat kejadian itu, AM mengalami luka di bagian mata, bahu kiri, serta sakit di bagian perut. Korban juga sempat mendapat perawatan di RSJ Menur.

Sementara itu, polisi masih melakukan penyelidikan. Kasat PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengatakan proses hukum masih berjalan.

"Masih proses (penyelidikan)," kata Melatisari saat dikonfirmasi detikJatim, Minggu (22/2/2026).

Ia menambahkan, sejumlah saksi telah diperiksa, termasuk pelapor, korban, dan pihak sekolah yakni SMK swasta di kawasan Wonokromo.

"Sudah ada saksi yang diperiksa. Pelapor, korban, sekolah dan beberapa saksi lainnya," katanya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads