Jagat media sosial dihebohkan dengan pengakuan sejumlah model atau muse di Malang. Mereka mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pemuka agama atau gus.
Modus yang digunakan terduga pelaku adalah menjebak para korban melalui tawaran syuting konten YouTube bertema "sumpah pocong".
Peristiwa ini mencuat setelah akun Instagram @sovinovitav mengunggah pengalaman pahitnya. Ia memperingatkan para talent agar tidak terjebak dalam modus serupa yang berlokasi di daerah Pakis, Kabupaten Malang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hati-hati yah para muse, terutama muse Malang. Hati-hati dengan tawaran shooting atau butuh talent di daerah pondok pesantren atau daerah Pakis dengan tema 'sumpah pocong'," tulis Sovi dalam unggahannya.
Sovi menceritakan kejanggalan mulai terasa saat tiba di lokasi yang didominasi laki-laki. Ia bahkan sempat dibawa ke lokasi penyembelihan hewan sebelum akhirnya dipertemukan dengan sang Gus.
Di bawah tekanan intimidasi berupa ramalan buruk, Sovi mengaku diminta memijat pelaku.
"Dua bulan ke depan kamu bakal mendapatkan kesialan entah itu kamu lumpuh atau jatuh. Tiga sampai empat bulan kamu bakal mendapatkan kesuksesan," tulis Sovi menirukan ucapan pelaku yang membuatnya tertekan secara mental.
Briefing Tidak Jelas dan Manipulatif
Korban lain, pemilik akun @rizkanhy, juga mengungkap pengalaman serupa. Ia menyebut oknum Gus tersebut memiliki jutaan pengikut di TikTok namun sering kali memberikan briefing pekerjaan yang tidak transparan.
"Oknum Gus ini punya followers banyak, bahkan jutaan di TikTok. Dia sering hire muse perempuan untuk dijadikan talent dan briefing-nya gak jelas," terang Rizka.
Rizka menambahkan bahwa adegan sumpah pocong seringkali muncul mendadak di tengah proses pengambilan gambar yang molor.
"Take-nya itu molor banget, dan di tengah take baru kita tahu kalau diminta sumpah (pocong)," ujarnya.
Ia juga mengklaim memiliki bukti komunikasi yang tidak wajar dari pelaku.
"Aku punya bukti chat, gus itu ngajak kerja sama, yang ujungnya kasih emoticon Love. Wajar nggak seorang gus melakukan itu?" Pungkasnya.
Polisi Lakukan Penyelidikan
Menanggapi viralnya kasus ini, Polres Malang telah mengambil langkah cepat. Meski belum ada laporan resmi dari para korban polisi telah melakukan jemput bola untuk mendalami dugaan tindak pidana tersebut.
Kasi Humas Polres Malang AKP Bambang Subinanjar menyatakan bahwa Satuan Reskrim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) telah menghubungi orang yang diduga menjadi korban.
"Kami sudah melakukan jemput bola dengan menghubungi yang bersangkutan (korban), setelah unggahannya viral di media sosial," ujar Bambang.
Namun, kepolisian masih perlu melakukan interogasi lebih lanjut untuk mengungkap fakta-fakta dalam kasus ini.
"Sedang dijadwalkan untuk menginterogasi korban," tambahnya.
Para korban sendiri berharap pengakuan mereka dapat menjadi langkah pencegahan bagi para pekerja kreatif lainnya agar lebih waspada terhadap modus serupa yang menjual kedok agama.
(dpe/dpe)











































