Penangkapan Dewi Astutik (43) menjadi salah satu kasus narkotika paling mengejutkan sepanjang 2025. Perempuan asal Ponorogo itu dikenal sebagai aktor intelektual penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun, buronan Interpol, hingga pengendali jaringan narkoba lintas benua.
Namun di kampung halamannya, Dewi Astutik justru dikenal sebagai perempuan sederhana yang pernah berdagang keliling dan bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW).
Dewi Astutik memiliki nama asli Paryatin, warga Dusun Tenun, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Kepala dusun setempat, Didik Harirawan, yang mengenalnya sejak lama mengaku tidak ada yang mencolok dari keseharian Paryatin sebelum berangkat ke luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulunya ya Paryatin, wajah sama. Sekarang kan gemuk. Terakhir jenguk orang tua itu tahun 2023 waktu pembuatan PTSL," ujar Didik saat ditemui detikJatim, Rabu (3/12/2025).
Menurut Didik, sebelum merantau ke luar negeri, Paryatin sempat berdagang keliling di acara-acara kampung. Paryatin juga pernah menjadi TKI sebelum menikah. Setelah menikah dan memiliki dua anak, ia kembali merantau ke luar negeri. Pada 2023, ia sempat pulang ke desa dan merintis usaha kecil bersama suaminya.
"Aktivitas biasa saja. Hari-hari jualan keliling di tontonan. Jualan nasi bungkus, minuman. Nggak lama, sekitar tujuh bulanan. Usaha itu suaminya yang pegang. Di rumah buka pemancingan. Setahu saya, Paryatin kerja di Taiwan," ujar Didik.
Suami Dewi Astutik, Sarno, juga mengaku baru mengetahui istrinya menggunakan nama adiknya saat bekerja di luar negeri. "Namanya pakai nama adiknya. Nama aslinya Paryatin," ujarnya.
Usut punya usut, keberangkatan Paryatin ke luar negeri ternyata tidak tercatat secara resmi. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo memastikan nama Dewi Astutik alias Paryatin tidak pernah terdaftar sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) resmi.
"Tidak melalui Disnaker. Dewi Astutik tidak resmi. Imigrasi juga tidak lewat Ponorogo, tapi kami belum jelas detailnya. Yang pasti, Dewi Astutik tidak melalui Disnaker, tidak ada datanya," ujar Kepala Disnaker Ponorogo Suko Kartono, Kamis (4/12/2025).
Kerja di Kamboja Sebagai Guru, Scamming, hingga Jadi Buronan Interpol
BNN mengungkap Dewi Astutik masuk ke Kamboja pada Februari 2023. Di sana, ia sempat bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris dan Mandarin dengan penghasilan cukup besar.
"Hasil pendalaman lanjutan, sebelumnya yang bersangkutan di Kamboja kerja di beberapa tempat kursus bahasa Inggris dan Mandarin sebagai pengajar. Per bulan pendapatan kurang lebih Rp 20 juta," ungkap Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto, Kamis (4/12/2025).
Selain mengajar, Dewi juga sempat bekerja di tempat scamming atau penipuan. Dari sinilah, hidupnya mulai berubah arah. Pada awal 2024, Dewi bertemu warga negara Nigeria berinisial DON yang dijuluki 'Godfather'. BNN menyebut, setelah pertemuan itu, Dewi mulai menjalankan bisnis narkotika lintas negara.
"Singkat cerita bertemu orang Nigeria yang sudah jadi buronan, inisial DON. DON inilah yang menjadi caretaker dan godfather PAR alias DA selama di Kamboja. Kejahatan narkotika lintas negara, Asia, Afrika, Amerika Latin," kata Suyudi.
Sejak 2023, Dewi Astutik diketahui aktif di jaringan Golden Triangle (Thailand, Myanmar, Laos) dan Golden Crescent (Afghanistan, Iran, Pakistan). Ia disebut sebagai aktor intelektual penyelundupan 2 ton sabu yang digagalkan pada Mei 2025. Dewi merekrut WNI yang tidak memiliki pekerjaan di Kamboja untuk dijadikan kurir dan mengalirkan jaringan ke berbagai negara.
"Dewi Astutik diketahui memulai bisnisnya pada 2023 dan beroperasi di Golden Triangle. Mereka beroperasi di Laos, Hong Kong, Korea, Brasil, hingga Ethiopia," kata Biro Humas BNN.
Hingga akhirnya, namanya masuk dalam jaringan Kamboja, Nigeria, dan Brasil. Dewi Astutik juga masuk red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024, dan menjadi buronan pemerintah Korea Selatan.
Di balik perannya sebagai gembong narkoba internasional, Dewi Astutik tetap menjalin komunikasi dengan keluarga. Suaminya, Sarno, mengaku selama ini hanya menerima kiriman uang untuk kebutuhan anak. Ia pun syok saat melihat foto istrinya beredar di media.
"Selama kerja kirim uang buat anak, jajan anak gitu aja. Keluarga syok, tidak mengira, katanya ya baik-baik kerjanya," ujar Sarno, Kamis (4/12/2025).
Ia menceritakan, sebelum Ramadan 2024, Dewi berpamitan pergi ke rumah majikan lamanya di Taiwan. Setelah itu, komunikasi hanya terjadi sebulan sekali.
"Sebelum puasa tahun 2024, pamitnya ke rumah bosnya yang dulu di Taiwan. Meneleponnya sebulan sekali," katanya.
Penangkapan Dewi Astutik di Kamboja
Kini, pelarian Dewi Astutik berakhir di Sihanoukville, Kamboja. Ia ditangkap dalam operasi senyap lintas instansi yang melibatkan BNN, kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, BAIS TNI, dan Bea Cukai.
Dewi Astutik ditangkap saat menuju lobi hotel bersama seorang pria Pakistan berinisial AH. Operasi dipimpin langsung Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Roy Hardi Siahaan.
"Keberhasilan ini tentunya menegaskan komitmen BNN RI dalam mengejar pelaku kejahatan narkotika hingga ke luar negeri," kata Komjen Suyudi.
Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas sebelum dipulangkan ke Indonesia. Ia akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, serta struktur jaringan narkoba internasional yang dikendalikannya.
(irb/hil)











































