Curhat Siswa Dituntut 10 Bulan Bui gegara Pukuli Teman Saat Main Mobile Legend

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Sabtu, 01 Okt 2022 02:03 WIB
HUT transmedia semakin dimeriahkan dengan kompetisi E-Sport Mobile Legend. Peserta terlihat sangat antusias.
Ilustrasi main Mobile Legend (Foto: Grandyos Zafna)
Surabaya -

Terdakwa penganiayaan Yudha Indra Saputra Mandala berharap ada keadilan. Terlebih, ketika mendengar tuntutan 10 bulan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Anang Arya Sukma.

Ia telah menyampaikan nota keberatan perihal tuntutan pidana penjara yang disematkan padanya. Terlebih, ia masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SMK.

Penasihat hukum Yudha, yakni Mochammad Purwanto mengatakan, tak menutup kemungkinan kliennya dikeluarkan dari sekolah. Mengingat, hukuman yang diberikan kepadanya mengganggu aktivitas belajar atau mengenyam bangku pendidikan di sekolah.

"Kalau semakin lama, kan semakin diberhentikan dari sekolah," kata Purwanto saat ditemui detikJatim. Jumat (30/9/2022).

Purwanto menilai, seharusnya Yudha memperoleh Restorative Justice (RJ) dari Kejaksaan. Mengingat, ia telah mengajukan perdamaian dengan korbannya, Prasetyo Utomo dan memberikan biaya ganti rugi serta pengobatan mencapai Rp 2 juta.

"Sebenarnya, kalau perkara-perkara begini, dilimpahkan dari kepolisian ke kejaksaan, harusnya wajib tho menawarkan perdamaian. Nah, ini (perkara kliennya) nggak, itu pun masih dituntut 10 bulan," ujarnya.

"Cuma yang saya sesalkan kenapa tidak berlaku efektif RJ itu, apakah tidak diatur dalam KUHAP atau bagaimana?," imbuhnya.

Menurutnya, sedari perkara masuk dari kepolisian, tak pernah disinggung sama sekali terkait RJ pada Yudha. Meski, korban dan sesama keluarga menyetujui perdamaian, serta diberikan ganti rugi.

"Sejak awal perkara tidak pernah sama sekali tidak pernah menawarkan itu, itu yang paling penting," tuturnya.

Hal senada disampaikan penasihat hukum Yudha lainnya, yakni Toni Tanatompol. Menurutnya, keluarga terdakwa mau pun korban sudah saling damai dan memaafkan.

"Sebelum (berkas perkara) masuk ke polisi, sudah ada perdamaian sebetulnya, sudah ganti rugi juga," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya menyayangkan perkara itu tetap berlanjut hingga persidangan. Pun dengan tuntutan 10 bulan yang disampaikan JPU.

Sebelumnya, Perkara itu bermula ketika Prasetyo bermain Mobile Legends bersama dengan 3 temannya, yakni Tirta Andy Ivan Ferdiansyah, Andrian Dwi Rakasiwi, dan terdakwa, Yudha Indra Saputra Mandala. Dalam permainan tersebut, mereka membuat regulasi anyar, yakni 'barang siapa mendapat nilai atau point paling rendah maka mendapat hukuman atau sanksi di coret wajahnya menggunakan bedak'.

Mulanya, permainan berjalan sesuai aturan. Setelah itu, saat permainan berlangsung hingga ke-4 kalinya, Prasetyo mendapatkan nilai atau poin terendah.

Namun, pada saat itu, Prasetyo menolak untuk dicoret wajahnya oleh Yudha. Alasannya, Yudha tidak bermain sportif.

Sontak, Yudha marah dan mengumpat. Lalu, mencaci maki Prasetyo dengan kalimat 'Kok Lek Maen Maneh tak gawe rame sing nyoret aku' (Nanti kalau main lagi saya bikin rame yang nyoret Aku ). Spontan, Prasetyo menjawabnya 'Lho, nek ate gawe rame Majuo Lo Yud Mumpung Akeh Arek' (Lho, kalau mau bikin rame Maju aja, Yud, mumpung banyak anak).

Mendengar hal itu, Yudha menjadi semakin emosi. Lalu, Yudha pergi ke dalam warung kopi mengambil 1 buah pompa angin milik Tirta. Selanjutnya, Yudha memukulkan pompa angin tersebut ke kepala Prasetyo Utomo sebanyak 3 kali, mengenai kepala sebelah kiri dan mengakibatkan luka serta pendarahan.

Lalu, pukulan kedua dan ketiga dapat di tangkis Prasetyo menggunakan tangan kirinya. Namun, tangkisan itu mengakibatkan tangan kiri Prasetyo mengalami bengkak.

Akibat perbuatan Yudha, Prasetyo mengalami luka. Tak terima dengan hal itu, ia melaporkan hal itu ke kepolisian bersama keluarganya. Perbuatan Yudha pun diganjar dengan ancaman pidana sesuai dengan Pasal 351 ayat (2) KUHP terkait penganiayaan.



Simak Video "Persaingan Ketat Finalis di Grand Final Esports X Talent 2022 - Eps. 21"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)