Ahli Hukum Pidana Duga Sidang Mas Bechi Bertele-tele Adalah Trik Pengacara

Ahli Hukum Pidana Duga Sidang Mas Bechi Bertele-tele Adalah Trik Pengacara

Tim detikJatim - detikJatim
Kamis, 29 Sep 2022 15:11 WIB
Sidang ketiga Mas Bechi di PN Surabaya
Mas Bechi saat mengikuti sidang di PN Surabaya. (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Sidang perkara dugaan pomerkosaan di Ponpes Shiddiqiyyah dengan terdakwa Moch Subchi Azal Tsani alias Mas Bechi masih bergulir. Sidang yang selalu digelar tertutup itu terus berlarut-larut dan cenderung bertele-tele. Baik Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun Tim Kuasa Hukum Mas Bechi menghadirkan puluhan saksi.

Berdasarkan data yang didapat detikJatim dari Pengadilan Negeri Surabaya, pihak JPU mengajukan total sebanyak 16 saksi dan 3 saksi ahli. Sedangkan dari pihak penasihat hukum terdakwa mengajukan kurang lebih 18 saksi dan 2 saksi ahli.

Ahmad Sofyan, Dosen Hukum Pidana Universitas Bina Nusantara mengatakan memang seperti diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) setiap pihak memiliki hak untuk mengajukan alat bukti. Baik dari JPU maupun dari pihak pengacara terdakwa.

"Masing-masing pihak punya hak dijamin KUHAP mengajukan alat bukti. Dari jaksa alat bukti yang diajukan harus yang memenuhi kualifikasi sebagaimana didakwakan. Masalahnya, menurut saya, dalam pemeriksaan alat bukti dan saksi menurut saya pertanyaannya tidak substantif," ujarnya kepada detikJatim, Kamis (29/9/2022).

Ahmad mengakui dirinya tidak terlibat dalam sidang tersebut. Seharusnya dirinya pun tidak tahu apa saja sedang terjadi di dalam sidang itu. Tetapi dari sejumlah pernyataan yang disampaikan kuasa hukum Mas Bechi di media massa, dirinya akhirnya tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pengacara terdakwa memang tidak substantif.

"Walaupun saya tak ada di dalam sidang tapi saya mendengar statemen dari pengacara yang menurut saya pertanyaannya tidak substantif, lebih pada aspek yang tidak berkaitan dengan perbuatan yang didakwakan. Melebar, tidak fokus pada proses pembuktian. Jadi pertanyaan-pertanyaan itu bukan mengungkap kebenaran tapi cenderung pada aspek-aspek personal dari saksi yang dihadirkan. Itu yang saya tangkap dari statemen yang dibuat oleh PH (Penasihat Hukum) di media massa," katanya.

Ahmad pun khawatir, bertele-telenya sidang itu merupakan bagian dari trik PH terdakwa untuk mengulur-ulur waktu persidangan agar tak bisa segera tuntas. Meski, kata Ahmad, di dalam KUHAP tidak ditentukan batas waktu atau berapa lama sebuah sidang harus dilakukan. Masalahnya, yang memiliki batas waktu adalah penahanan terdakwa.

"Memang, KUHAP itu tidak menentukan batas waktu berapa lama sidang dilakukan. Tetapi kan masalahnya, masa penahanan itu ada batas waktunya. Saya takut ini trik yang dimainkan sehingga habis lah masa penahanan dan dia ditangguhkan penahanannya. Itu yang saya khawatirkan. Makanya berlarut-larut kan. Dugaan saya begitu," katanya.

Soal pertanyaan pengacara terdakwa yang dia sebut tidak substantif, yang berkutat pada pertanyaan mengenai hal-hal yang tidak masuk area pokok perkara serta melebar tidak jelas arah pertanyaan-pertanyaannya, Ahmad menyebutkan bahwa hal itulah salah satu faktor yang membuat sidang jadi berlarut-larut.

"Itu satu, ya. Kedua. PH terdakwa juga mengajukan banyak alat bukti terutama saksi dan ahli yang sebenarnya kita sudah tahu definisi saksi itu orang yang mendengar, menyaksikan, dan mengalami. Kadang, kualifikasi saksi itu kita tidak tahu apakah benar PH mengajukan banyak saksi itu memenuhi kualifikasi saksi sebagaimana diatur oleh KUHAP? Sehingga sidang itu jadi berlarut-larut dan bertele-tele," katanya.



Simak Video "Pendukung Mas Bechi Ricuh di Pengadilan, Serang Kamera Wartawan"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/fat)