Laporan Dugaan Pungli Dana Gempa di Kabupaten Blitar Bertambah

Laporan Dugaan Pungli Dana Gempa di Kabupaten Blitar Bertambah

Erliana Riady - detikJatim
Kamis, 29 Sep 2022 08:28 WIB
Desa Slorok, Kecamatan Doko Kabupaten Blitar
Desa Slorok, Kecamatan Doko Kabupaten Blitar (Foto: Erliana Riady/detikJatim)
Blitar -

Dugaan pungli dana gempa meluas ke desa lainnya di Kabupaten Blitar. Jika sebelumnya laporan dari warga Desa Sawentar, Kanigoro. Kini bertambah dari warga Desa Slorok, Kecamatan Doko.

Menurut Haryono selaku kuasa pendamping, ada tujuh warga yang menjadi korban dugaan pungli dana kemanusiaan dari BNPB tersebut. Namun hanya enam yang melaporkannya ke Polres Blitar.

Enam warga penerima bantuan tersebut dengan rincian 5 warga rumahnya kategori rusak ringan. Sehingga mendapat bantuan masing-masing Rp 10 juta. Sedangkan rumah warga bernama Samujianto mengalami rusak berat dan mendapatkan bantuan Rp 50 juta. Sehingga total bantuan gempa BNPB kepada korban di Slorok sebanyak Rp 110 juta.

Seperti keterangan Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Ivong Berttyanto, memang proses pencairan bantuan tersebut sesuai mekanisme. Namun realitas, jumlah dana yang diterima korban gempa tidak sama dengan saat mereka tanda-tangan di depan teler BRI Slorok, Doko.

Dana yang cair sebanyak Rp 110 juta tidak diberikan kepada warga penerima bantuan. Melainkan diserahkan kepada Kades Slorok. Selang 3 hari kemudian, pihak desa baru memberikannya. Ada yang berupa material bangunan untuk rumah yang belum diperbaiki. Ada yang berupa uang tunai, untuk rumah yang sudah diperbaiki pemiliknya.

"Mereka yang seharusnya dapat dana Rp 10 juta, itu hanya menerima dana antara Rp 3 sampai 4,5 juta. Yang Sarmujianto dengan kerusakan berat, itu hanya menerima uang sekitar Rp 20 juta," ungkapnya kepada detikJatim, Kamis (29/9/2022).

Haryono yang juga ketua LSM anti korupsi ini kemudian mengkonfirmasi hal tersebut kepada Kades Slorok, Muyasaroh. Wanita berhijab itu mengakui memang uang bantuan tidak diberikan secara tunai kepada penerima bantuan.

"Kalau diberikan cash, kuatirnya malah tidak jadi rumah. Bahkan sebelum dana cair, saya sudah belanjakan sendiri rumah Sarmujianto itu biar segera bisa ditempati," jawabnya.

Sedangkan sisa dana yang belum diberikan, Muyasaroh mengaku masih ada proses perbaikan lain agar rumah para korban gempa layak huni. Pihaknya sudah memikirkan secara matang kenapa dana bantuan gempa itu masih disimpan di kas desa.

Namun para korban gempa tidak bisa menerima alasan kades tersebut. Mereka tetap melaporkan ke Polres Blitar dengan harapan bisa menerima jumlah dana sesuai hak mereka.

Sementara Kapolres Blitar, AKBP Aditya Panji Anom mengakui sudah menerima laporan tersebut. Saat ini, proses penanganan kasus dugaan pungli dana gempa masih berjalan. Seperti laporan serupa dari Desa Sawentar Kecamatan Kademangan, beberapa saksi telah diperiksa untuk mendapatkan keterangan.

"Kemarin kami sudah melakukan ekpose di Inspektorat. Dan untuk tindak lanjutnya menunggu hasil dari Inspektorat," tandasnya.

Sebelumnya, sejumlah warga melaporkan beberapa oknum perangkat Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Mereka melaporkan dugaan pemangkasan dana bantuan bencana sebesar 10 persen, pada dana bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi 2021 lalu.



Simak Video "Suasana Pasar Tertua di Blitar yang Kini Kembali Ramai dan Padat"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)