Barang Bukti Diduga Direkayasa, Tersangka Sabu di Mojokerto Tempuh Praperadilan

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 19 Sep 2022 21:57 WIB
praperadilan sabu di mojokerto
Suasana sidang praperadilan kedua (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Dewi Setiyaningsih (34) menempuh praperadilan untuk membatalkan statusnya sebagai tersangka kasus peredaran sabu. Perempuan asal Kelurahan Mentikan, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini menduga barang bukti sabu dalam kasusnya telah direkayasa polisi.

Praperadilan diajukan Dewi melalui penasihat hukumnya, Heni Warti Ningsih ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto pada Senin (12/9). Sidang perdana dengan agenda pembacaan permohonan praperadilan digelar 4 hari kemudian, Jumat (16/9).

Sehingga siang tadi pukul 09.30-09.49 WIB, sidang kedua digelar dengan agenda jawaban dari pihak termohon. Yaitu Kasat Reskoba Polres Mojokerto Kota AKP Edi Purwo Santoso. Sidang praperadilan ini dipimpin hakim tunggal Sufrinaldi di ruangan Cakra, PN Mojokerto.

"Kami menempuh praperadilan ini terkait penetapan tersangka klien kami (Dewi) dan sita geledah yang tidak sesuai prosedur hukum. Seharusnya penggeledahan ada saksi paling tidak dari RT, RW atau kelurahan untuk menyaksikan apa saja barang bukti yang disita. Sehingga penggeledahan ada berita acara dan saksinya. Kalau tidak ada saksi, akibatnya bisa fatal," kata Penasihat Hukum Dewi, Hemi Warti Ningsih kepada wartawan di lokasi, Senin (19/9/2022).

Berdasarkan data yang dirilis Polres Mojokerto Kota ketika Operasi Tumpas Semeru, Dewi diringkus anggota Satreskoba di depan kos Kelurahan Meri, Karanggan, Kota Mojokerto pada 27 Agustus 2022 sekitar pukul 20.30 WIB. Polisi menyita barang bukti sabu 0,28 gram dan ponsel merek Vivo dari tersangka.

Paket hemat sabu itu disembunyikan tersangka di dalam sepatu di depan kamar kos. Polisi lantas melakukan pengembangan dengan menggeledah area di bawah tiang listrik di tengah sawah Desa Temon, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Hasilnya, petugas menemukan 2 plastik klip berisi sabu masing-masing 0,58 gram.

Sehingga total sabu yang disita dalam kasus tersangka Dewi 1,44 gram. Ibu rumah tangga ini dijerat dengan pasal 114 ayat (1) subsider pasal 122 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Sejak penangkapan itu, dia ditahan di Rutan Polres Mojokerto Kota.

Namun, Heni menduga barang bukti sabu yang disita polisi dari kliennya sudah direkayasa. Karena tidak ada saksi di luar pihak kepolisian yang dilibatkan dalam penggeledahan. Menurutnya sabu milik Dewi hanya 0,28 gram.

Narkotika golongan 1 itu disita ketika kliennya diringkus polisi di tempat kos Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri. Sabu tersebut sisa pemakaian Dewi pada malam sebelumnya. Ketika ditangkap polisi, ia hendak memakai sabu 0,28 gram itu di kamar kos temannya berinisial DT.

"Kemudian DS (Dewi Setiyaningsih) ditangkap, dimasukkan ke dalam mobil untuk dikeler. DS disuruh polisi pesan sabu 1 gram lewat HP-nya untuk memancing penjualnya," terangnya.

Selain sabu, lanjut Heni polisi juga diduga menyita uang tunai milik Dewi Rp 3,5 juta dalam penangkapan di kos Lingkungan Kuwung. Polisi menggunakan uang tersangka Rp 1 juta untuk membayar pesanan sabu. Ketika itu uang ditransfer ke penjual melalui mesin ATM di Jalan Jayanegara. Sayangnya, si penjual mengirim sabu dengan sistem ranjau.

"Ternyata sabu diranjau di Jatirejo. Polisi membawa DS ke lokasi, tapi tetap di dalam mobil. Setelah polisi menemukan sabu itu, DS disuruh keluar dari mobil untuk pegang sabu itu, lalu difoto-foto dan divideo. DS lantas dibawa ke Polres Mojokerto Kota," jelasnya.

Keesokan harinya, Minggu (28/9) pagi, Dewi mulai menjalani pemeriksaan di kantor Satreskoba Polres Mojokerto Kota. Tersangka terkejut ketika membaca berita acara pemeriksaan (BAP) karena sabu yang disita darinya disebutkan mencapai 1,44 gram. Selain itu, uang yang diduga disita polisi darinya Rp 3,5 juta juga tak jelas rimbanya.

"Menurut pengakuan DS ketika dia membaca BAP, total barang bukti 1,44 gram. Uang DS Rp 3,5 juta juga disita polisi dalam penangkapan. Namun, kami cek di pengadilan tidak ada barang bukti uang tersebut. Uang juga tidak dikembalikan kepada DS. Menurut keterangan DS, yang Rp 1 juta dipakai polisi membayar sabu 1 gram itu," ungkap Heni.

Oleh sebab itu, kata Heni pihaknya mengajukan beberapa permohonan kepada hakim dalam praperadilan ini. Yaitu menyatakan penangkapan, penggeledahan dan penahanan Dewi tidak sah secara hukum, membebaskan kliennya dari Rutan Polres Mojokerto Kota, serta memerintahkan polisi menghentikan penyidikan kasus yang menjerat Dewi.

Juga menyatakan penyitaan uang Dewi Rp 3,5 juta yang dilakukan polisi tanpa izin PN Mojokerto, tidak sah. Menghukum Kasat Reskoba Polres Mojokerto Kota mengembalikan uang kliennya Rp 3,5 juta, memulihkan hak-hak kliennya baik dalam kedudukan maupun harkat dan martabatnya, serta menghukum termohon untuk membayar biaya perkara.

"Kenapa saya mengajukan praperadilan karena tidak ada saksi yang melihat penggeledahan itu. Akhirnya kan fatal. Awalnya barang bukti hanya 0,28 gram bisa berubah menjadi 1,44 gram. Kalau menurut saya apa yang dilakukan polisi tidak sesuai prosedur dan bertentangan dengan undang-undang. Salinan berita acara penggeledahan tidak diberikan kepada DS maupun keluarganya. Itu juga melanggar prosedur. Saya sudah dua kali mengirim surat permohonan, tapi belum diberi salinan BAP oleh penyidik," tegasnya.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Kasat Reskoba Polres Mojokerto Kota AKP Edi Purwo Santoso menyatakan penangkapan Dewi sudah sesuai prosedur. Ia menampik terjadi rekayasa barang bukti sabu untuk tersangka dari 0,28 gram menjadi 1,44 gram.

"Tidak ada itu, semuanya sudah sesuai prosedur," tandasnya.

Dalam sidang kedua praperadilan siang tadi, Edi telah menyampaikan jawabannya atas tudingan pihak pemohon. Berdasarkan salinan jawaban termohon yang diterima wartawan, Edi menjelaskan beberapa poin. Pertama ia menyatakan tidak pernah menyuruh Dewi melakukan fait accompli atau menjebak secara halus di wilayah Jatirejo.

Perubahan barang bukti sabu dari 0,28 gram menjadi 1,44 gram dinilai mengada-ada. Karena barang bukti sabu yang disita dari tersangka tetap 0,28 gram sesuai temuan polisi saat penggeledahan di tempat kos Lingkungan Kuwung. Penggeledahan tersebut tidak perlu disaksikan ketua RT, RW atau kelurahan sesuai pasal 55 ayat (1) KUHAP.

Karena ketika itu Dewi tertangkap tangan. Selain itu polisi sebatas melakukan penggeledahan badan, bukan penggeledahan rumah. Terlebih lagi usai menangkap Dewi, penyidik segera membuat berita acara penggeledahan dan meminta persetujuan dari Ketua PN Mojokerto sesuai peraturan perundang-undangan.



Simak Video "Duduk Bareng Jokowi, Petani Tebu di Mojokerto Curhat soal Harga Pupuk"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)