Terbukti Jadi Broker Proyek Bansos, ASN Lamongan Terancam Dipecat

Eko Sudjarwo - detikJatim
Rabu, 23 Mar 2022 19:33 WIB
kejari lamongan menahan asn broker proyek
ASN Lamongan ditahan kejari (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim)
Lamongan -

Seorang oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lamongan ditahan kejari setempat. Dia diduga melakukan korupsi bedah rumah proyek bansos perumahan dan permukiman dan merugikan negara lebih Rp 180 juta.

ASN yang kini berstatus sebagai tersangka kasus dugaan korupsi BSPS itu adalah Najib (56) warga Kecamatan Paciran. Berkas kasus Najib hari ini lengkap dan diserahkan ke Kejari Lamongan. Tersangka juga langsung dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan.

"Pada hari ini, 23 Maret telah dilakukan penyerahan tersangka dan barang bukti tahap 2 dari Polres Lamongan. Tersangka juga langsung kita lakukan penahanan," kata Kasi Intel Kejari Lamongan, Condro Maharanto usai penyerahan berkas dan melakukan penahanan tersangka di Kejari Lamongan, Jalan Veteran Lamongan, Rabu (23/3/2022).

Peran tersangka dalam kasus ini, ungkap Condro, selaku agen atau broker bahan bangunan dalam kegiatan bansos Perumahan dan Permukiman di Desa/Kecamatan Paciran tahun anggaran 2020. Sekitar 30 rumah yang telah dilakukan bedah rumah.

Tersangka, tandas Condro, telah melakukan pemesanan dan pembelian bahan bangunan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut kepada lebih dari 1 toko bahan bangunan lainnya yang sudah ditunjuk dan pemesanan bahan bangunan tersebut tidak sesuai dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang ada.

"Selanjutnya tersangka meminta dan menyimpan uang sisa pembelian bahan bangunan yang telah ditransfer ke rekening toko bahan bangunan yang sudah ditunjuk tersebut," ujar Condro.

Akibat perbuatan tersangka, jumlah kerugian negara Rp 180 juta lebih. Berupa pembelian material yang tidak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB). Selain melakukan penahanan terhadap tersangka, kejari juga menyita sejumlah barang bukti perbuatan. Di antaranya 30 bendel proposal pengajuan Bantuan Sosial Perumahan dan Permukiman (DAK) 2020, dokumen pencairan dan gambar foto penerima bantuan di Desa Paciran.

"Bahwa dalam pengerjaan dan pembelian material untuk 30 unit rumah itu tidak sesuai RAB sehingga mengakibatkan kerugian negara. Setiap unit rumah anggarannya mencapai Rp 17, 5 juta. Terinci Rp 2, 5 juta untuk biaya tukang, Rp 15 juta untuk fisik rumah. Pada kenyatannya, anggaran yang dialokasikan untuk setiap unitnya rata-rata-rata Rp 10 juta. Kita juga amankan barang bukti uang tunai sebesar Rp 182 juta yang tersimpan dalam rekening," imbuhnya.

Kasi Pidsus Kejari Lamongan Anton Wahyudi menambahkan, pekerjaan tersangka ini adalah ASN, tapi dalam perkara ini yang bersangkutan berperan sebagai agen atau broker. Secara legal standing tersangka tidak ada kaitannya dengan proyek ini. Terkait kemungkinan adanya tersangka lain, Anton mengaku akan melihat fakta persidangan nanti.

"Tersangka dijerat dengan Pasal 2 UU Tipikor junto Pasal 64 ayat 1 KUHP dan disangkakan juga dengan Pasal 8 UU Tipikor junto Pasal 65 ayat 1 KUHP," pungkas Anton.



Simak Video "Melihat Aksi Modeling ASN Tasikmalaya di Gebu Fashion Week"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)