Polisi Telusuri Emak-emak Banyuwangi Ditagih Bank 'Plecit' Tengah Malam, Hasilnya?

Ardian Fanani - detikJatim
Minggu, 06 Mar 2022 00:32 WIB
emak-emak ditagih bank plecit di banyuwangi
Emak-emak wadul polisi saat ditagih rentenir (Foto: Ardian Fanani/detikJatim)
Banyuwangi -

Aparat Polsek Cluring menelusuri pengaduan puluhan emak-emak yang resah dengan juru tagih bank 'plecit' yang menagih angsuran menjelang dini hari. Hasil penelusuran aparat, nama-nama emak-emak yang mengadu itu rupanya dijadikan debitur di sebuah KSP.

Kapolsek Cluring AKP Agus Priyono mengatakan, ada seorang perempuan berinisial MH meminjam uang ke sebuah KSP. Selain itu ada pula pinjaman online dengan menggunakan jaminan KTP dan KK milik 27 warga Dusun Krajan, Desa Sraten dengan besaran pinjaman antara Rp 7 juta - 9 juta.

"27 Warga tersebut secara tidak bersamaan diajukan kredit keKSP oleh MH. Warga juga diajak keKSP untuk menandatangani pencairan uang secara langsung," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (5/3/2022).

"Saat di KSP dana pinjaman diterima langsung oleh pemilik KTP & KK. Namun sampai di rumah masing masing, uang tadi diserahkan kepada MH," tambahnya.

Selanjutnya, pemilik KTP & KK diberi fee oleh MH Rp 300 ribu - Rp 500 ribu, tergantung besaran pinjaman kreditnya. Sementara, sebagian warga yang mengajukan kredit pada pinjaman online melalui MH, pencairan kreditnya langsung masuk rekening pemilik KTP & KK.

Rata - rata pemilik KTP & KK sebanyak 27 warga Dusun Krajan, Desa Sraten itu menyetujui ajakan dari MH. Dan ini sudah berlangsung selama 3 tahun.

"Cicilan kredit ke KSP dan pinjaman online tersebut secara mingguan ditanggung seluruhnya oleh MH," urai Kapolsek Cluring.

Karena pembayaran cicilan yang dikaitkan MH macet, maka oknum penagih utang dari KSP dan pinjaman online mendatangi kediaman warga untuk menagih cicilan.

Penagihan tersebut menurut warga dilakukan dengan cara yang kurang simpatik dan tidak memandang waktu, pagi, siang sore dan bahkan pada malam hari. Akhirnya 27 warga berkumpul di Balai Desa Sraten untuk mengadu ke perangkat desa setempat.

"Saat mengetahui warga akan mengadukan permasalahan ini ke Polsek Cluring, para penagih utang tersebut pergi," ungkap AKP Agus Priyono.

Dari keterangan warga aparat menarik kesimpulan bahwa masalah itu timbul karena aksi kurang simpatik dari para penagih utang. Warga menyadari ikut menikmati pinjaman walaupun hanya berupa fee sebagai pemilik KTP & KK. Tapi fee itu jumlahnya sangat jauh dari nominal pinjaman yang diterima.



Simak Video "Oknum Polisi Jadi Backing Rentenir Tagih Utang, Propam Turun Tangan!"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)