Polda Jatim Bongkar Investasi Bodong Pengadaan Alkes, Korban Rugi Rp 30 M

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Rabu, 26 Jan 2022 14:12 WIB
Investasi bodong pengadaan alkes di Polda Jatim
Foto: Dokumentasi Humas Polda Jatim
Surabaya -

Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur membongkar kasus investasi pengadaan alat kesehatan (alkes) fiktif atau bodong. Kerugian atas kasus ini ditaksir mencapai Rp30 miliar.

Dalam kasus ini. pelaku mengamankan Tiara NA (36), warga Surabaya. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko mengatakan, kasus ini terungkap dari pengaduan masyarakat. Gatot menyebut pihaknya menerima enam laporan masyarakat (LP).

Awalnya, tersangka mengaku pada korban jika mengelola bisnis investasi pengadaan alkes. Tak tanggung-tanggung, pelaku menyebut dirinya mengelola pengadaan alkes di 12 rumah sakit luar Jawa sejak pertengahan tahun 2020.

"Modus mengajak beberapa orang untuk ikut investasi alkes, semuanya fiktif. Dari pengaduan masyarakat kita terima enam LP (Laporan Masyarakat)," ujarnya saat rilis ungkap kasus di Mapolda Jatim, Rabu (26/1/2022).

Investasi bodong pengadaan alkes di Polda JatimPotret tersangka investasi bodong pengadaan alkes. Foto: Dokumentasi Humas Polda Jatim

Di kesempatan ini, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Lintar Mahardono mengatakan modus tersangka yakni menawarkan keuntungan sebesar 40%. Keuntungan ini akan diberikan pada 12 sampai 17 hari setelah pemodal mentransfer uang padanya.

"Tersangka menjanjikan keuntungan sebesar 40 persen dari modal yang telah ditransfer," papar Lintar.

Untuk meyakinkan para korban, tersangka juga merekrut beberapa agen yang bertugas mencari mangsa. Lalu, ia membekali para agen dengan surat perintah kerja (SPK) proyek yang didapatnya dari sejumlah rumah sakit.

"Dia mengambil contoh-contoh paket alkes di google, kemudian dia juga mencetak SPK fiktif yang diklaim dari sejumlah rumah sakit di luar Jawa, untuk meyakinkan korbannya," tambahnya.

Sementara dari dari enam laporan polisi yang diterimanya, total kerugian korban sebanyak Rp30 miliar. Baik kerugian dan jumlah korban, Lintar menyebut masih bisa bertambah. Mengingat, tersangka sudah melancarkan aksinya sejak 2020 lalu.

Lintar juga mengatakan tersangka memanfaatkan kondisi COVID-19 untuk menarik korbannya.

"Sebagian besar Alkes yang ditawarkan adalah untuk keperluan COVID-19. Jadi ia meyakinkan korbannya jika Alkes itu pasti laku dipasaran," tegasnya.

Tersangka dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 3, 4, 5, 6 jo pasal 10 Undang-Undang no 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Ancaman hukumannya maksimal lebih dari 15 tahun penjara.



Simak Video "Kasus Trading Fahrenheit, Polri Blokir Rekening Berisi Rp 44,5 Miliar"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/iwd)