Mafia Tanah Senilai Rp 20 Miliar yang Buron Ditangkap Kejari Surabaya

Amir Baihaqi - detikJatim
Kamis, 20 Jan 2022 20:01 WIB
Terpidana buroan Musnaam (tengah pakai peci) ditangkap Kejari Surabaya
Foto: Dok. Kejari Surbaya
Surabaya -

Buron terpidana mafia tanah senilai RP 20 miliar ditangkap. Ia ditangkap ditangkap Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Negeri Surabaya setelah diincar selama seminggu antara Surabaya, Kediri dan Blitar.

Terpidana adalah Musnaam. Ia ditangkap di rumahnya di Kecamatan Wlingi, Blitar pada 18 Januari 2022. Selama ini, Musnaam kerap berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas.

Kepala Kejari Surabaya Anton Delianto mengatakan Musnaam telah ditetapkan sebagai DPO sejak November 2021. Pelarian Musnaam akhirnya terendus di Blitar dan Tim Tabur segera diluncurkan ke sana.

"Masuk dalam Daftar Pencarian Orang Kejari Surabaya sejak bulan November tahun 2021. Kasi Intel dan Kasi Pidum melaporkan kepada saya terkait keberadaan terpidana Musnaam dan saya perintahkan agar segera berkoordinasi dengan Intelijen Kejari Blitar dan meluncurkan Tim Tabur ke Blitar" kata Anton, dalam keterangan resminya, Kamis (20/1/2022).

Anton menjelaskan berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI No. 962K/PID/2021 tanggal 28 September 2021, Musnaam dinyatakan terbukti secara sah melakukan tindak pidana menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam sesuatu akta authentiek. Musnaam kemudian dijerat Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 2 tahun penjara.

Anton menuturkan kasus yang menjerat Musnaam berawal pada tahun 2012. Saat itu Musnaam bersama Muhamad Noer dan para ahli waris Kartoredjo menjual sebidang tanah di Jl. Raya Kalirungkut Surabaya seluas 50.000 M2. Adapun nilai tanah itu sebesar RP 20 miliar kepada Muhamad Sulhan dan dibuatkan Akta Perikatan Jual Beli (AJB) dan Akta Kuasa Jual di hadapan notaris Wibowo Ibo Sarwono.

Menurut Anton, pihak Musnaam dan Muhamad Noer sebenarnya telah mengetahui bahwa mereka tidak memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) asli persil tersebut karena sudah dibatalkan pada tahun 1994 dan tidak menguasai fisik tanah tersebut.

"SHM dan fisik tanah di Jalan Raya Kalirungkut tersebut adalah milik PT Gelora Niaga Kencana sejak tahun 1994 yang saat ini dipergunakan untuk lahan perumahan Griya Galaxy," jelas Anton.

"Berbekal AJB dan Akta Kuasa Jual yang dibuat tahun 2012, Muhamad Sulhan menggugat PT Gelora Niaga Kencana di Pengadilan Negeri Surabaya yang dimenangkan oleh PT. Gelora Niaga Kencana sehingga membuat perusahaan tersebut menderita kerugian biaya advokat Rp 100 juta," tandas Anton.



Simak Video "Nirina Zubir Berharap Polisi Bisa Ungkap Aliran Dana Kasusnya"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/sun)