Petik Laut merupakan salah satu tradisi masyarakat pesisir di Jawa Timur yang berkaitan erat dengan kehidupan nelayan.
Tradisi ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki berupa hasil tangkapan laut.
Petik Laut juga menjadi bentuk doa agar para nelayan selamat serta hasil tangkapan yang melimpah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tradisi ini masih dilestarikan di sejumlah wilayah pesisir Jawa Timur, seperti Muncar di Banyuwangi dan Lekok di Pasuruan.
Meski memiliki tujuan serupa, waktu penyelenggaraan dan rangkaian acaranya dapat berbeda sesuai kebiasaan masyarakat setempat.
Makna Tradisi Petik Laut bagi Masyarakat Pesisir
Bagi masyarakat nelayan, laut memiliki peran penting sebagai sumber penghidupan, penyedia hasil tangkapan, hingga jalur transportasi yang mendukung perekonomian wilayah pesisir. Oleh karena itu, tradisi Petik Laut diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan yang mengandung sejumlah harapan, antara lain sebagai berikut.
- Ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut.
- Harapan agar nelayan senantiasa diberi keselamatan saat melaut.
- Doa agar terhindar dari badai dan berbagai bahaya di laut.
- Harapan memperoleh hasil tangkapan ikan yang lebih melimpah.
Selain itu, Petik Laut mencerminkan hubungan antara manusia dan alam yang perlu dijaga keseimbangannya. Nilai tersebut sejalan dengan pandangan budaya Jawa tentang pentingnya hidup selaras dengan semesta.
Di sejumlah daerah, tradisi ini juga berpadu dengan nilai-nilai keagamaan, seperti pembacaan doa dan ayat suci Al-Qur'an sebelum prosesi pelarungan sesaji ke laut.
Rangkaian Acara Tradisi Petik Laut
Tradisi Petik Laut memiliki rangkaian prosesi yang berbeda di setiap daerah. Namun, secara umum tahapannya meliputi sebagai berikut.
1. Persiapan Sesaji
Masyarakat menyiapkan sesaji berupa kepala hewan di daerah tertentu, tumpeng, makanan tradisional, bunga, dan perlengkapan ritual lainnya sebagai simbol rasa syukur dan doa keselamatan.
2. Kirab Budaya
Sesaji diarak menuju pantai dengan iringan kesenian tradisional, seperti musik patrol, tari Gandrung, jaranan, atau Reog.
3. Larung Sesaji ke Laut
Sesaji dibawa menggunakan perah hias ke tengah laut untuk dilarung. Proses ini disertai doa sebagai harapan atas keselamatan dan keberkahan bagi nelayan.
4. Pesta Rakyat
Setelah pelarungan, masyarakat mengikuti berbagai kegiatan hiburan, seperti pertunjukan seni, pasar kuliner, dan musik tradisional sebagai ajang kebersamaan warga.
Petik Laut di Banyuwangi dan Daerah Pesisir Jawa Timur Lainnya
Di Muncar, Banyuwangi, Petik Laut dikenal sebagai tradisi sedekah laut yang dilakukan melalui arak-arakan sesaji. Pelarungan replika perahu (gitik), serta doa bersama. Prosesi ini melibatkan nelayan dan masyarakat setempat.
Sementara itu, masyarakat Puger, Jember, melaksanakan tradisi larung sesaji yang memadukan ritual lokal dengan kegiatan keagamaan, seperti pembacaan tahlil, surah Yasin, dan khataman Al-Qur'an.
Di Lampon, Banyuwangi, Petik Laut dilaksanakan pada 1 Suro dengan arak-arakan sesaji berupa kepala sapi, hasil bumi, dan hasil laut, dilanjutkan doa bersama serta pelarungan ke laut.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa waktu pelaksanaan, perlengkapan sesaji, dan rangkaian acara Petik Laut dapat berbeda di setiap daerah, sesuai tradisi masyarakat setempat.
Namun, semua rangkaian tradisi Petik Laut tersebut berkaitan dengan ungkapan syukur atas rezeki laut dan harapan keselamatan nelayan.
Upaya Melestarikan Tradisi Petik Laut
Masyarakat nelayan berperan menjaga Petik Laut sebagai warisan leluhur yang dilaksanakan secara turun temurun. Di Muncar, Banyuwangi, tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur atas hasil laut sekaligus upaya mempertahankan kebiasaan masyarakat pesisir.
Keterlibatan generasi muda juga penting untuk mengenalkan tradisi Petik Laut kepada masyarakat luas.
Dalam Petik Laut di Lekok, Pasuruan, kegiatan seperti lomba patrol anak-anak, tari nelayan, dan pertunjukan kesenian rakyat menjadi bagian dari rangkaian acara yang memperkenalkan budaya pesisir kepada anak-anak.
Selain menjaga tradisi, kelestarian laut perlu mendapat perhatian. Pada 2022, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggabungkan Petik Laut dengan kegiatan bersih pantai di Pamekasan.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 600 peserta tersebut berhasil mengumpulkan 1,51 ton sampah untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir dan didaur ulang.
Dengan demikian, pelestarian Petik Laut dapat dilakukan melalui pewarisan tradisi, keterlibatan generasi muda, dan aksi nyata menjaga kebersihan pantai agar budaya pesisir tetap hidup serta lingkungan laut terjaga.
