Serunya Balap Perahu Fiber Warnai Tradisi Petik Laut di Probolinggo

Serunya Balap Perahu Fiber Warnai Tradisi Petik Laut di Probolinggo

M Rofiq - detikJatim
Senin, 13 Jul 2026 12:19 WIB
Petik Laut di Probolinggo
Petik Laut di Probolinggo/Foto: Istimewa
Probolinggo -

Suara deru mesin perahu memecah suasana pagi di Dermaga Pantai Darmo, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Perahu-perahu fiber yang sehari-hari dimanfaatkan nelayan untuk melaut, kali ini melaju kencang dalam perlombaan balap perahu yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi Petik Laut.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu (11/7/2026) hingga Minggu (12/7/2026), diikuti puluhan nelayan dari berbagai dusun. Jika biasanya mereka berangkat mencari ikan, kali ini mereka berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi melalui kompetisi yang sarat adrenalin. Perlombaan tersebut juga menjadi hiburan menarik yang disaksikan ratusan warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjelang balapan dimulai, para peserta tampak mempersiapkan perahu masing-masing. Mesin berkekuatan 6,5 tenaga kuda diperiksa dengan teliti, baut dikencangkan, sistem kemudi dipastikan berfungsi baik, hingga melakukan uji coba lintasan agar perahu tetap stabil saat melaju di atas ombak.

ADVERTISEMENT

Panitia membagi perlombaan menjadi dua kategori. Kelas A diperuntukkan bagi perahu dengan panjang lebih dari 6,5 meter, sedangkan kelas B diikuti perahu berukuran di bawah 6,5 meter. Setiap peserta diwajibkan menempuh lintasan sepanjang dua kilometer sebanyak tiga putaran.

Saat bendera start dikibarkan, lima perahu langsung meluncur membelah gelombang. Deru mesin berpadu dengan sorak-sorai penonton yang memadati bibir Pantai Darmo, menciptakan suasana perlombaan yang semakin semarak.

Kemampuan para nelayan dalam mengendalikan perahu terlihat sepanjang perlombaan. Mereka saling menyalip, bermanuver di setiap tikungan, dan memacu perahu dengan kecepatan tinggi untuk menjadi yang pertama mencapai garis finis.

Persaingan berlangsung ketat. Beberapa kali terjadi senggolan antarpeserta ketika berebut posisi di tikungan. Bahkan ada peserta yang harus kehilangan waktu karena mesin perahunya tiba-tiba mati, sehingga harus bekerja keras mengejar ketertinggalan.

Meski berlangsung kompetitif, balapan tetap diwarnai suasana akrab. Setelah perlombaan usai, para peserta kembali bercengkerama dan saling berbagi tawa.

Antusiasme masyarakat juga terlihat begitu tinggi. Ratusan warga memadati kawasan Pantai Darmo untuk menyaksikan perlombaan dari dekat. Sebagian rela berdiri di tepian pantai meski harus terkena percikan air laut demi menikmati jalannya balapan.

Salah seorang penonton, Ririn Ifani, mengaku selalu menantikan perlombaan tersebut setiap tahun karena menghadirkan hiburan yang berbeda.

"Seru sekali melihat perahu-perahu nelayan balapan. Biasanya dipakai mencari ikan, sekarang dipakai lomba. Kami sengaja datang bersama keluarga karena acaranya ramai dan menghibur," ujarnya.

Menurut Ririn, momen paling menegangkan terjadi ketika para peserta saling menyalip di tikungan maupun saat memacu perahu menuju garis akhir.

"Deg-degan juga saat mereka saling salip. Tapi yang paling menyenangkan suasananya ramai dan warga bisa menikmati hiburan gratis," tambahnya.

Ketua Panitia, Muhammad Saturi mengatakan, balap perahu fiber bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari tradisi Petik Laut yang bertujuan memperkuat hubungan antarnelayan.

"Ajang ini kami gelar setiap tahun sebagai sarana silaturahmi. Para nelayan yang biasanya sibuk melaut bisa berkumpul, saling bertemu, sekaligus menjaga kekompakan," katanya.

Ia menjelaskan, seluruh peserta menggunakan perahu operasional yang setiap hari dipakai mencari ikan di perairan utara Probolinggo. Tidak ada perahu yang dimodifikasi khusus untuk balapan, sehingga kemampuan mengendalikan perahu menjadi faktor utama dalam menentukan pemenang.

"Tidak ada perahu khusus balap. Semua menggunakan perahu yang biasa dipakai bekerja. Karena itu kemampuan mengendalikan perahu menjadi penentu kemenangan," jelasnya.

Menurut Saturi, animo masyarakat terhadap kegiatan tersebut terus meningkat setiap tahun. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan agar balap perahu fiber menjadi agenda wisata bahari tahunan di Kabupaten Probolinggo.

"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda wisata bahari tahunan Kabupaten Probolinggo. Potensinya besar karena mampu menarik banyak pengunjung sekaligus melestarikan tradisi nelayan," ungkapnya.

Bagi masyarakat pesisir Probolinggo, balap perahu fiber tidak hanya menjadi ajang adu cepat di atas ombak. Perlombaan ini juga mencerminkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan persaudaraan para nelayan yang menggantungkan hidup dari laut. Di balik deru mesin dan hempasan ombak, tradisi tersebut terus dijaga agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads