- Mengenal Asal-usul Masyarakat Samin
- Lima Pitutur Luhur Masyarakat Samin 1. Laku Jujur, Sabar, Trokal, lan Nrimo 2. Ojo Dengki Srei, Dehwen Kemiren, Pekpinek Barange Liyan 3. Ojo Mbeda-mbedakno Sapodo Padaning Urip, Kabeh Iku Sedulure Dewe 4. Ojo Waton Omong, Omong Sing Nganggo Waton 5. Biso Roso Rumongso
- Tradisi Nyadran dan Ngaturi di Kampung Samin
- Pernikahan Adat yang Masih Dipertahankan
Masyarakat Samin merupakan salah satu kelompok masyarakat yang masih menjaga ajaran leluhur di Jawa Timur. Di Kabupaten Bojonegoro, para penganut ajaran Samin atau Sedulur Sikep dapat dijumpai di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.
Masyarakat Samin dikenal dengan ajaran yang menekankan kejujuran, kesederajatan manusia, kerukunan, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut diwariskan secara turun-temurun dan masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menggelar tradisi Nyadran dan upacara pernikahan adat.
Mengenal Asal-usul Masyarakat Samin
Masyarakat Samin merupakan keturunan para pengikut Samin Surosentiko, tokoh yang lahir pada 1859 di wilayah Blora, Jawa Tengah. Ia dikenal melalui ajarannya yang mendorong perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda tanpa menggunakan kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlawanan tersebut antara lain diwujudkan melalui penolakan terhadap pembayaran pajak dan sejumlah peraturan pemerintah kolonial. Ajaran Samin juga menekankan kesederajatan manusia sehingga tidak seharusnya seseorang dibeda-bedakan berdasarkan status sosialnya.
Masyarakat yang mengikuti ajaran tersebut dikenal pula dengan sebutan Sedulur Sikep. Istilah ini berkaitan dengan identitas dan ajaran hidup yang mereka pegang.
Di Bojonegoro, ajaran Samin masih dijalankan oleh masyarakat di Dusun Jepang, Desa Margomulyo. Meski telah berbaur dengan masyarakat luas dan menerima perkembangan zaman, mereka tetap mempertahankan sejumlah tradisi yang diwariskan para pendahulu.
Lima Pitutur Luhur Masyarakat Samin
Salah satu ajaran Samin di Bojonegoro adalah lima pitutur luhur. Menurut Bambang Sutrisno, keturunan generasi pendiri ajaran Samin yang juga merupakan putra sesepuh masyarakat Samin, Mbah Harjo Kardi, prinsip-prinsip ini menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Berikut lima pitutur masyarakat Samin.
1. Laku Jujur, Sabar, Trokal, lan Nrimo
Pitutur pertama mengajarkan manusia untuk berperilaku jujur, sabar, berusaha, dan menerima keadaan dengan lapang dada. Nilai tersebut menjadi pedoman agar seseorang tetap menjaga perilaku baik dalam menjalani kehidupan.
2. Ojo Dengki Srei, Dehwen Kemiren, Pekpinek Barange Liyan
Pitutur kedua mengingatkan agar manusia tidak memiliki sifat iri, dengki, maupun keinginan untuk mengambil hak milik orang lain. Ajaran ini menekankan pentingnya menghormati kepemilikan sesama dan menjauhkan diri dari perilaku yang merugikan orang lain.
3. Ojo Mbeda-mbedakno Sapodo Padaning Urip, Kabeh Iku Sedulure Dewe
Pitutur ketiga berarti jangan membeda-bedakan sesama manusia karena semua adalah saudara. Prinsip ini mencerminkan pandangan masyarakat Samin bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang setara dalam hak dan kewajibannya sebagai sesama makhluk Tuhan. Karena itu, kerukunan dan sikap saling menghormati menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Ojo Waton Omong, Omong Sing Nganggo Waton
Pitutur keempat mengajarkan agar seseorang tidak berbicara sembarangan. Setiap perkataan harus disampaikan dengan pertimbangan dan aturan yang patut. Pesan ini menekankan pentingnya menjaga ucapan, berpikir sebelum berbicara, serta mempertanggungjawabkan perkataan kepada orang lain.
5. Biso Roso Rumongso
Pitutur kelima mengajarkan manusia untuk memiliki empati atau kemampuan memahami perasaan orang lain. Dengan mengembangkan rasa empati, seseorang diharapkan mampu menempatkan diri, menjaga hubungan dengan sesama, dan tidak bertindak hanya berdasarkan kepentingan pribadi.
Tradisi Nyadran dan Ngaturi di Kampung Samin
Nilai kerukunan dan gotong royong masyarakat Samin juga terlihat dalam tradisi yang masih dijalankan hingga kini. Salah satunya adalah Nyadran atau sedekah bumi yang diselenggarakan setahun sekali, biasanya pada Senin Pon setelah masa panen.
Setelah panen raya, masyarakat juga mengadakan kegiatan yang disebut Ngaturi atau Nggemblang. Dalam kegiatan tersebut, warga mengundang kerabat maupun masyarakat dari luar dusun untuk datang ke rumah mereka.
Para tamu dijamu dengan makanan, kemudian dapat berpindah ke rumah warga lainnya untuk menikmati hidangan bersama. Tradisi makan bergantian ini menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan kekeluargaan dan mempererat kerukunan.
Kegiatan tersebut mencerminkan prinsip guyub rukun dan gotong royong yang dijunjung dalam ajaran Samin. Kebersamaan tidak hanya dibangun di antara sesama warga Samin, tetapi juga dengan masyarakat dari luar komunitas.
Selain Nyadran dan Ngaturi, masyarakat Samin menggelar tasyakuran bersama. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan di rumah kepala dusun.
Pernikahan Adat yang Masih Dipertahankan
Tradisi lain yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Samin di Bojonegoro adalah prosesi pernikahan adat. Sebelum pencatatan pernikahan secara administratif, terdapat prosesi adat yang dikenal sebagai Nurunke Wali.
Dalam prosesi tersebut, ayah dari calon pengantin laki-laki bertindak sebagai wali dan membacakan akad sesuai adat yang dijalankan masyarakat Samin. Prosesi tersebut dilaksanakan sebelum matahari terbenam.
Calon pengantin laki-laki kemudian menjawab dengan ucapan yang disebut Syahadat Manten. Prosesi pernikahan adat tersebut memiliki ketentuan tersendiri. Salah satunya, wali nikah tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.
Meski mempertahankan tradisi pernikahan, masyarakat Samin tidak mewajibkan warganya menikah dengan sesama anggota komunitas. Pernikahan tidak boleh dilakukan dengan paksaan.
Masyarakat Samin di Dusun Jepang telah berbaur dengan masyarakat luas dan dapat menerima perkembangan modern. Namun, mereka tetap mempertahankan ajaran serta tradisi leluhur dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya.
